Pablo Neruda, penerima anugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra 1971 dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun”. Jadi pasti enak sekali mencicipi puisi-puisi cintanya yang erotik, puisi-puisi surealisnya, puisi-puisi politiknya, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut.
Mencicip Puisi-Puisi Pablo Neruda (Bagian 1)
Posted by Mochammad Asrori on March 12, 2009
Posted in dunia, essay, puisi | Tagged: pablo neruda, puisi | 6 Comments »
Sepenggal Kisah Sastrawan Eksil
Posted by Mochammad Asrori on January 7, 2009
Berderet nama-nama sastrawan kita yang pernah bermukim di luar negeri, seperti: Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Idrus, Taufik Ismail, Budi Darma, M. Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Aoh K. Hadimadja, Ajip Rosidi, Wing Kardjo, Utuy Tatang Sontany, Sori Siregar, Suripan Sadi Hutomo, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Toety Heraty, Marianne Katoppo, Rayani Sriwidodo, Eka Budianta, Saut Situmorang, Herlino Soleman, dll. Umumnya dalam rangka study atau mengemban tugas tertentu dan segera pulang setelah tugas selesai.
Tapi kita juga mengenal nama-nama lain yang bermukim di luar negeri, seperti: A. Kembara, A. Kobar Ibrahim, Alan Hageland, Agam Wispi, Asahan Alham, Chalik Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing o. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana setyadarma, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodihardjo, dan Z. afif. Nama-nama sastrawan yang bermukim di luar negeri tanpa mengenal kata “pulang”, sastrawan pelarian. Eksil. Read the rest of this entry »
Posted in budaya, indonesia, profil | Tagged: agam wispi, penyair mencari sarang, puisi, sastra eksil | 4 Comments »
KLA Untuk Jantung Lebah Ratu
Posted by Mochammad Asrori on November 20, 2008
Kamis malam, tanggal 13 November di Atrium Plasa Senayan Jakarta, “Jantung Lebah Ratu” milik Nirwan Dewanto dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk Kategori Puisi. Menurut Hamsad Rangkuti “Jantung Lebah Ratu” mewakili spirit sastra yang serius dan matang. Pernyataan tersebut sekaligus kritik terhadap banyak bermunculannya penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat kata-kata dan mementahkan gagasan yang bernas dan sublimasi bahasa sebagai hal terpenting. Tapi apa semua setuju dengan pernyataan tersebut? Read the rest of this entry »
Posted in berita, indonesia, puisi, woro-woro | Tagged: indonesia, jantung lebah ratu, nirwan dewanto, puisi, sastra khatulistiwa | 2 Comments »
Golf Untuk Rakyat
Posted by Mochammad Asrori on October 23, 2008
Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. Sudah pernah main golf belum? Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.
Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri Kanuragan bilang, golf pertanda masyarakat kita sudah lebih sejahtera.
Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang untuk menyejahterakan dua ratus juta rakyat, berapa tumbal mesti dikorbankan untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan. Gusti kami tunggu dawuh paduka.
Sementara Menteri Pagupon pesan, “Silahkan bikin padang golf mister, asal jangan gusur rumah rakyat.” Dan Menteri Besar Jogoboyo wanti-wanti, “Silahkan bikin padang golf Sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman.”
Posted in essay, indonesia, profil, puisi | Tagged: Darmanto Jatman, indonesia, puisi | 4 Comments »
Hegemoni Puisi Liris di Indonesia
Posted by Mochammad Asrori on April 25, 2008
Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme. Read the rest of this entry »
Posted in indonesia, puisi | 16 Comments »
Wayang Suket: Pengalaman Bawah Slamet Gundono
Posted by Mochammad Asrori on April 2, 2008
Kedua orang tuanya petani tulen, tak mempunyai darah seni sama sekali. Nama asli pemberian orang tuanya cuma Gundono. “Slamet” merupakan pemberian guru SD-nya yang lalu diterakan di ijazah, entah biar panjang atau lebih gagah. Setelah itu ia justru mengubah akte kelahirannya daripada harus mengubah ijazah SD. Kesenangannya pada pedalangan secara disadari karena ia tertarik sejak kecil. Tapi ia tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan saat itu yang dekat dengan minum dan main perempuan. Masuklah ia ke pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Tapi, justru di sekolah saat itu, di bawah kecintaannya terhadap wayang tidak pernah hilang, ia semakin rindu wayang. Read the rest of this entry »
Posted in jawa, profil | Tagged: slamet gundono, suket, wayang | 5 Comments »





