D. Zawawi Imron menjuluki Suripan sebagai penyair beras kencur, karena sajak-sajaknya lebih banyak mengungkap ramuan-ramuan jamu tradisional seperti kecipir, kenikir, kolang-kaling, dan adas pulasari. Korie Layun Rampan menulis sajak-sajak Suripan khas pada gaya ungkapnya yang bersahaja dan daya sindir yang kuat. Setya Yuwana Sudikan memaknainya sebagai sebagai penyair sajak-sajak kampung(an), karena dipenuhi pegungkapan ide yang didukung oleh lukisan alam pedesaan. Tentu saja tidak ada yang salah pendapat mereka, karena memang begitulah adanya sajak-sajak Suripan Sadi Hutomo yang semasa hidupnya dikenal sebagai dosen, pengamat sastra, dan dokumentator sastra yang mumpuni. Read the rest of this entry »
Archive for January, 2008
Mengenang Sajak-sajak Suripan
Posted by Mochammad Asrori on January 22, 2008
Posted in essay, indonesia, jawa, puisi | Leave a Comment »
Small Events, Everyday Life: What’s Up Puisi Jatim
Posted by Mochammad Asrori on January 16, 2008
Kemungkinan-kemungkinan, kemenduaan-kemenduaan, dan keremang-remangan selalu menjadi tawaran menarik di dalam puisi yang menjadikan segala sesuatunya menjadi bermakna. Beragam peristiwa semesta, kehidupan, dan manusia telah menghidupi puisi menjadi bangunan-bangunan kesaksian yang berkabar. Jadilah sepanjang 2007, dan menatap 2008 ini, telah terjadi satu fenomena yang mewarnai ranah perpuisian di Jatim. Sublimasi, ketenangan, kelembutan, dan ketulusan telah menjadi basic menarik perpuisian Jatim. Read the rest of this entry »
Posted in essay, indonesia, puisi | 1 Comment »
Soundscape Hujan Bulan Juni
Posted by Mochammad Asrori on January 14, 2008
Sayangnya bulan ini bukan bulan Juni, namun hujan di bulan Januari ini nampaknya menjadi ihwal menarik ketika saya membaca kembali karya-karya bertema hujan dalam Hujan Bulan Juni, kumpulan puisi dari Sapardi Djoko Damono. Di dalamnya termuat 96 puisi yang telah diseleksi dari ratusan puisinya selama periode 1964 hingga 1994. Beberapa puisi di dalamnya telah dibukukan dalam buku kumpulan puisi Mata Pisau, Akuarium, Perahu Kertas, maupun Sihir Hujan. Membaca puisi-puisi Sapardi, saya dibawa ke suasana muram, mistis, penuh tanda tanya, penuh pengakuan, juga kearifan hidup melalui kendara-kendara imajinasinya. Salah satu kendaraan yang mudah dicerna dalam kumpulan puisi ini adalah hujan. Hujan dalam puisi Sapardi menjelma menjadi suatu lanskap ritmik, di mana kita bisa menganalogkan sebagai satu sajian soundscape nan indah. SoundscapeHujan Bulan Juni. Read the rest of this entry »
Posted in essay, indonesia, puisi | 4 Comments »
Mari Nembang untuk si Mungil
Posted by Mochammad Asrori on January 8, 2008
Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan. Read the rest of this entry »
Posted in dunia, geguritan, indonesia, jawa, puisi | 7 Comments »





