jump to navigation

Puisi Rupa: Pemberontakan Estetika Puisi Modern Februari 4, 2008

Posted by Mochammad Asrori in berita, indonesia, puisi.
trackback

Jika orang menyebut seni lukis, seni rupa, seni sastra, dsb., dalam bagian yang berpetak-petak, tidak demikian dengan Made Wianta. Ia menekuni puisi rupa bertahun-tahun tanpa rasa jenuh. Baginya, tak ada lagi batasan dalam berkesenian, melintasi batas seni rupa ke seni sastra, atau sebaliknya. Semuanya murni demi kepentingan kepuasan. Keasyikan berkesenian yang menjungkirbalikkan orientasi umum untuk menjadi seorang penyair yang dikenal masyarakat. Ia siap tidak populer.

Made Wianta lahir pada tanggal 20 Desember 1949 di Apuan, Baturiti, Tabanan, Bali. Aktivitas seni sudah mendarah daging sejak lahir, karena desa kelahirannya seperti desa-desa di Bali pada umumnya sangat kental dengan nuansa seni, Ia tak pernah berhenti berkarya, tak pernah kehabisan media untuk menuangkan naluri seninya. Seni seperti hembusan nafas, aliran keringat, yang semuanya berlangsung wajar, sederhana, dan mengalir begitu saja. Ia bahkan melakukan terapi dengan itu.

Wianta pernah menggali ilmu di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Denpasar, Bali, dan juga Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, ini mengambil media apa saja yang bisa dijangkau. Selain pensil dan bolpoin sebagai media yang murah untuk merekam hasrat berkesenian, ia juga memakai sobekan koran, bekas bungkus rokok, karcis bekas, kertas bungkus pembalut wanita, hingga tisu kamar mandi. “Saya tidak peduli dengan sebutan orang pada diri saya. Yang jelas, saya terus menulis puisi, saya terus membuat seni instalasi, saya terus membuat lukisan, dan entah apa lagi yang saya buat.”

Setelah dari Yogyakarta, Wianta pernah bekerja di Belgia, sebagai pembuat batik dengan canting, pembuat sketsa, bahkan juga sebagai pegawai restoran. Ia pernah mengalami kelaparan yang membuat pusing. Tidak punya uang, teman, atau saudara yang bisa berbagi. Di sana ia mengalami kebahagiaan, tapi juga mengalami titik nol sebagai manusia.

Begitulah, Wianta berjuang demi satu integritas yang ada pada bagian dirinya. Ia berusaha keras agar segala yang ia telah kenal dan ia miliki mendapat hati di khasanah dunia kesenian. Melalui perenungan, Wianta berusaha keluar dari konvensi puisi modern dengan memperkokoh dan mengembangkan secara terus menerus bentuk estetika puisi rupa. Ia menciptakan medium tempat lalu-lintas segala bentu fenomena melalui gaya ekspresi fenomena internal dan gaya ekspresi fenomena eksternal yang diwujudkan dalam tulisan cepat tanpa koreksi atau sensor logika.

Wianta benar tak pilih-pilih media berkesenian. Ia pernah menggarap puisi instalasi dari puluhan kardus-kardus yang ditindas warna-warni cat. Hal ini merupakan respon pada kebiasaan membuat grafiti di tembok-tembok kota, sekaligus upaya meletakkan grafiti sebagai bagian dari seni rupa. Selama ini grafiti dianggap sebagai corat-coret yang mengotori, bukan dianggap sebagai pernyataan kegelisahan kaum muda terhadap kota tempat tinggalnya.

Kardus merupakan simbol khas kaum urban. Kardus menyambung hidup kaun pendatang, kardus juga menjadi bahan rumah-rumah darurat. Kardus-kardus tersebut juga masih menyisakan merek-merek aslinya sebagai kardus mie instant dan kardus air mineral, seolah menggambarkan kehidupan masyarakat kota yang selalu ingin serba cepat dan instant. Jika teliti diatas kardus-kardus hasil racikan Wianta, terdapar graffiti puisi. Bukan puisi utuh memang, hanya serangkum kata, penggalan kalimat, namun jika sabar mengamati, tentu kita akan menemukan jalan untuk kenikmatannya, layaknya puzzle yang menyatu dengan kardus-kardus.

Afrizal Malna penyunting buku Korek Api Membakar Almari Es menilai Wianta sebagai sosok yang memiliki tenaga kreatif yang tidak bisa diam. Berkarya dengan gembira, tulisan-tulisan yang dibuat bukan untuk dinikmati orang lain sebagai teks yang utuh, tetapi lebih sebagai kepuasan sendiri saat menuliskannya. Ia rajin mengumpulkan tulisan-tulisannya dari tahun 1979 hingga 1995 yang semuanya ia bendel rapi. Pada tahun 2000 ia pernah mendapat penghargaan Musium Rekor Indonesia (MURI) dalam kategori Penulis Puisi dengan Tulisan Tangan Terpanjang.

Hingga saat ini sudah tiga buku kumpulan tulisan dan puisi yang telah diterbitkannmya, Korek Api Membakar Almari Es (1995), 2 ½ Menit (2000), dan Kitab Sudi Digantung di Pinggir Jalan New York (2003). Perjalanan kreatifnya juga banyak diulas dan ditulis oleh penulis dari berbagai latar budaya dan disiplin ilmu, di antaranya Prof. Robert C. Morgan (USA), Dr. Jean Couteau (Prancis), Dr. Apinan Poshyananda (Thailand), Marc Bollansee (Prancis), Dr. Urs Ramseyer (Swiss), pakar Weda Dr. Made Titib, dan rohaniwan Romo Mudji.

Dua tragedi bom pada 2002 dan 2005 yang memporakporandakan tata perekonomian Bali, ternyata juga memunculkan kesadaran baru bagi dirinya sebagai seniman. Ia pun memulai aktivitas personal melalui “Long March Art Wianta” sepanjang tahun 2007. Ia menggelar berbagai pameran di sejumlah tempat, mulai dari pameran bersama hingga pameran tunggal, di dalam hingga di luar negeri; diantaranya Roma dan Venezia (Juni), Santa Monica (September), Swiss (Oktober), Guam (November), Dubai (Desember). Selain untuk presentasi karya, secara tidak langsung kegiatan ini juga mempromosikan keadaan Bali yang sesungguhnya.

Pengabdiannya yang tangguh, pada tahun 1998 membuatnya dianugerahi Dharma Kusuma Award dari Pemerintah Propinsi Bali, dan pada tahun 2003 dianugerahi Ajeg Bali Figure Award dari Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia.

About these ads

Komentar»

1. andi - November 20, 2008

em,,,,,,,,
e,, e,,, e,,,,
coment ya????

malez ah!!!!!!!!!!!!

2. Rori - November 24, 2008

ehm… ehmm… ngomong dong bro, hehe…

3. Pancallok - Januari 22, 2009

Made Wianta, dia adalah sosok inspirasi.

btw, link exchange boleh ngga? sy add link km yah. hope do it same

4. Akmal M. Roem - April 6, 2009

Mas.,.. salam kenal.
Blognya bagus ya…
main-main ke tempat saya ya…. http://aamovi.wordpress.com/

5. tya - Februari 16, 2010

uuuhh ihhh aHHH cbell dech sulit

6. BALI RATIH - November 16, 2011

wow, ga nyangka indonesia masih punya tokoh yang peduli dengan “sastra” indonesia.. membantu Bali saat “jatuh”..

nice article :)

7. Celeste - Februari 18, 2013

Many thanks for writing “Puisi Rupa: Pemberontakan Estetika Puisi Modern
Kedai Puisi”. I personallymight undoubtedly wind up being coming back for alot more browsing and commenting shortly.
Thanks, Phillip


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: