Kedai Puisi

Tempat Sastra Nonfiksi Dibuat dan Diapreasisi

  • Tentang Kedai Puisi

    Blog ini merupakan media apresiasi karya-karya nonfiksi, khususnya puisi, yang mengajak kita bersama-sama berburu keindahan.
  • Tentang Penjaga Kedai

    Hai, panggil saja saya Rori. Tapi ... aw, sebelumnya tolong jauhkan kursor itu dari hadapan saya. Terima kasih ....

    Moch. Asrori menulis cerpen, esai dan puisi di media-media lokal maupun nasional. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa ini pernah mendapat penghargaan seperti Juara I Lomba Menulis Cerpen se-JBSI Unesa 2003, Peringkat III Penulisan Cerpen Peksiminal Jawa Timur 2004, Juara I Menulis Esei dan Juara II Menulis Puisi dalam Reading SGG di HUT Surabaya 2005. Dan prestasi-prestasi lainnya.

  • Add to Technorati Favorites

    Poetry Art Blogs - BlogCatalog Blog Directory

    Warung Fiksi

    Kedai Puisi

    Kamus Warung Fiksi

Puisi Rupa: Pemberontakan Estetika Puisi Modern

Posted by Mochammad Asrori on February 4, 2008

Jika orang menyebut seni lukis, seni rupa, seni sastra, dsb., dalam bagian yang berpetak-petak, tidak demikian dengan Made Wianta. Ia menekuni puisi rupa bertahun-tahun tanpa rasa jenuh. Baginya, tak ada lagi batasan dalam berkesenian, melintasi batas seni rupa ke seni sastra, atau sebaliknya. Semuanya murni demi kepentingan kepuasan. Keasyikan berkesenian yang menjungkirbalikkan orientasi umum untuk menjadi seorang penyair yang dikenal masyarakat. Ia siap tidak populer.

Made Wianta lahir pada tanggal 20 Desember 1949 di Apuan, Baturiti, Tabanan, Bali. Aktivitas seni sudah mendarah daging sejak lahir, karena desa kelahirannya seperti desa-desa di Bali pada umumnya sangat kental dengan nuansa seni, Ia tak pernah berhenti berkarya, tak pernah kehabisan media untuk menuangkan naluri seninya. Seni seperti hembusan nafas, aliran keringat, yang semuanya berlangsung wajar, sederhana, dan mengalir begitu saja. Ia bahkan melakukan terapi dengan itu.

Wianta pernah menggali ilmu di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Denpasar, Bali, dan juga Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, ini mengambil media apa saja yang bisa dijangkau. Selain pensil dan bolpoin sebagai media yang murah untuk merekam hasrat berkesenian, ia juga memakai sobekan koran, bekas bungkus rokok, karcis bekas, kertas bungkus pembalut wanita, hingga tisu kamar mandi. “Saya tidak peduli dengan sebutan orang pada diri saya. Yang jelas, saya terus menulis puisi, saya terus membuat seni instalasi, saya terus membuat lukisan, dan entah apa lagi yang saya buat.”

Setelah dari Yogyakarta, Wianta pernah bekerja di Belgia, sebagai pembuat batik dengan canting, pembuat sketsa, bahkan juga sebagai pegawai restoran. Ia pernah mengalami kelaparan yang membuat pusing. Tidak punya uang, teman, atau saudara yang bisa berbagi. Di sana ia mengalami kebahagiaan, tapi juga mengalami titik nol sebagai manusia.

Begitulah, Wianta berjuang demi satu integritas yang ada pada bagian dirinya. Ia berusaha keras agar segala yang ia telah kenal dan ia miliki mendapat hati di khasanah dunia kesenian. Melalui perenungan, Wianta berusaha keluar dari konvensi puisi modern dengan memperkokoh dan mengembangkan secara terus menerus bentuk estetika puisi rupa. Ia menciptakan medium tempat lalu-lintas segala bentu fenomena melalui gaya ekspresi fenomena internal dan gaya ekspresi fenomena eksternal yang diwujudkan dalam tulisan cepat tanpa koreksi atau sensor logika.

Wianta benar tak pilih-pilih media berkesenian. Ia pernah menggarap puisi instalasi dari puluhan kardus-kardus yang ditindas warna-warni cat. Hal ini merupakan respon pada kebiasaan membuat grafiti di tembok-tembok kota, sekaligus upaya meletakkan grafiti sebagai bagian dari seni rupa. Selama ini grafiti dianggap sebagai corat-coret yang mengotori, bukan dianggap sebagai pernyataan kegelisahan kaum muda terhadap kota tempat tinggalnya.

Kardus merupakan simbol khas kaum urban. Kardus menyambung hidup kaun pendatang, kardus juga menjadi bahan rumah-rumah darurat. Kardus-kardus tersebut juga masih menyisakan merek-merek aslinya sebagai kardus mie instant dan kardus air mineral, seolah menggambarkan kehidupan masyarakat kota yang selalu ingin serba cepat dan instant. Jika teliti diatas kardus-kardus hasil racikan Wianta, terdapar graffiti puisi. Bukan puisi utuh memang, hanya serangkum kata, penggalan kalimat, namun jika sabar mengamati, tentu kita akan menemukan jalan untuk kenikmatannya, layaknya puzzle yang menyatu dengan kardus-kardus.

Afrizal Malna penyunting buku Korek Api Membakar Almari Es menilai Wianta sebagai sosok yang memiliki tenaga kreatif yang tidak bisa diam. Berkarya dengan gembira, tulisan-tulisan yang dibuat bukan untuk dinikmati orang lain sebagai teks yang utuh, tetapi lebih sebagai kepuasan sendiri saat menuliskannya. Ia rajin mengumpulkan tulisan-tulisannya dari tahun 1979 hingga 1995 yang semuanya ia bendel rapi. Pada tahun 2000 ia pernah mendapat penghargaan Musium Rekor Indonesia (MURI) dalam kategori Penulis Puisi dengan Tulisan Tangan Terpanjang.

Hingga saat ini sudah tiga buku kumpulan tulisan dan puisi yang telah diterbitkannmya, Korek Api Membakar Almari Es (1995), 2 ½ Menit (2000), dan Kitab Sudi Digantung di Pinggir Jalan New York (2003). Perjalanan kreatifnya juga banyak diulas dan ditulis oleh penulis dari berbagai latar budaya dan disiplin ilmu, di antaranya Prof. Robert C. Morgan (USA), Dr. Jean Couteau (Prancis), Dr. Apinan Poshyananda (Thailand), Marc Bollansee (Prancis), Dr. Urs Ramseyer (Swiss), pakar Weda Dr. Made Titib, dan rohaniwan Romo Mudji.

Dua tragedi bom pada 2002 dan 2005 yang memporakporandakan tata perekonomian Bali, ternyata juga memunculkan kesadaran baru bagi dirinya sebagai seniman. Ia pun memulai aktivitas personal melalui “Long March Art Wianta” sepanjang tahun 2007. Ia menggelar berbagai pameran di sejumlah tempat, mulai dari pameran bersama hingga pameran tunggal, di dalam hingga di luar negeri; diantaranya Roma dan Venezia (Juni), Santa Monica (September), Swiss (Oktober), Guam (November), Dubai (Desember). Selain untuk presentasi karya, secara tidak langsung kegiatan ini juga mempromosikan keadaan Bali yang sesungguhnya.

Pengabdiannya yang tangguh, pada tahun 1998 membuatnya dianugerahi Dharma Kusuma Award dari Pemerintah Propinsi Bali, dan pada tahun 2003 dianugerahi Ajeg Bali Figure Award dari Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia.

4 Responses to “Puisi Rupa: Pemberontakan Estetika Puisi Modern”

  1. andi said

    em,,,,,,,,
    e,, e,,, e,,,,
    coment ya????

    malez ah!!!!!!!!!!!!

  2. Rori said

    ehm… ehmm… ngomong dong bro, hehe…

  3. Pancallok said

    Made Wianta, dia adalah sosok inspirasi.

    btw, link exchange boleh ngga? sy add link km yah. hope do it same

  4. Mas.,.. salam kenal.
    Blognya bagus ya…
    main-main ke tempat saya ya…. http://aamovi.wordpress.com/

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>