jump to navigation

Merefleksi Tubuh dan Aksesoris Joko Pinurbo Februari 27, 2008

Posted by Mochammad Asrori in indonesia, profil, puisi.
trackback

Namanya sederhana, Joko, lahir di Sukabumi tahun 1962. Nama yang juga dipakai jutaan anak laki-laki lain di Jawa. Tapi rasanya tidak ada laki-laki lain bernama Joko yang serupa Joko Pinurbo. Di masa kecil ia pernah sakit-sakitan, dan ketika dewasa kurus bersahaja. Ketika remaja ia masuk seminari, tapi karam di perjalanan. Lalu ia mulai menemukan dorongan sastra memukau lewat puisi yang tersempil di antara buku-buku perpustakaan. Hingga muncullah ia dalam rumusan sastra Angkatan 2000, di mana Korrie Layun Rampan menilai puisi Joko memperlihatkan penemuan estetika dari perkembangan aku lirik ke pengucapan epik, dengan penguatan arus kisah dari sifat lirik murni.

Proses kreatif dan pencapaian estetika Joko Pinurbo layak dibicarakan sebagai penyair penting yang mungkin bisa diletakkan dalam wacana pasca-Afrizal Malna. Pergeseran dan penemuan estetika oleh Joko Pinurbo bahkan cenderung menjadi suatu ikhtiar untuk keluar dari tradisi puisi lirik dengan menggunakan anasir naratif untuk menyampaikan penghayatan hidup tanpa kehilangan pesonanya sebagai dunia rekaan yang prismatis. Seperti terhampar pada antologi sajak-sajaknya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004), Pacar Senja (2005), dan yang terbaru Kepada Cium (2007).

Puisi Joko Pinurbo awalnya pasti menggelitik kita melalui nada humor pada beberapa puisi. Tidak terbayangkan oleh kita sebuah “celana”, “sarung”, dan “tubuh” mampu menelurkan kisah-kisah eksotik dalam bingkai puisi. Tapi di tengah senyum itu, lebih jauh puisi-puisi Joko Pinurbo memiliki kekuatan pikat pada pembaca untuk mencerna lebih lanjut. Khumor yang tragis dengan intensitas dan konsistensi yang kuat untuk memberi pengaruh besar dalam perpuisian Indonesia.

Ignas Kleden merespon puisi Joko Pinurbo merefleksi tubuh sebagai seismograf kebudayaan, ia merepresentasikan kebudayaan. Joko Pinurbo memang memilih wilayah-wilayah pribadi yang identik dengan aktivitas tubuh seperti mandi, bercukur, becermin, dan mengganti pakaian.

Kegiatan-kegiatan sepele laki-laki yang dekat dengan tubuhnya, dan mengeksplorasi kekayaan itu sendiri tanpa perlu repot-repot meluaskannya. Tubuh laki-laki sebagai proyeksi menangkap dunia, menangkap kegenitan masyarakat. Joko Pinurbo memancarkan tubuhnya dengan kengerian, keengganan, penyesalan, sekaligus penghormatan atas dunia yang ia hadapi.

Bisa jadi pula inilah khasanah aforisma spiritual Jawa “Urip iki sejatine sastra gumelar ing jagat. Pinanggiha Gusti ing sembarang kalir. Temokno Gusti ing tek kliwer lan ing obah mosike uripmu”. Bahwa hidup ini sesungguhnya susastra yang terhampar di jagat raya. Tuhan bisa ditemukan dalam segala hal. Temukanlah Tuhan dalam kehidupan keseharianmu yang berpeluh dan penuh bercak kesulitan.

Legitimasi terhadap Joko Pinurbo menunjukkan bahwa ada pembaharuan dalam tradisi besar puisi lirik dan keinginan untuk menempuh jalan lain yang berbeda dengan yang sudah ditempuh olehSutardji Calzoum Bachri dan Afrizal Malna. Ikhtiar untuk menjauh dari lirik dan membangun identitas kepenyairannya.

Menulis adalah memilih. Lihatlah bagaimana Joko Pinurbo memilih celana kecil bersahaja. Bahasanya tanpa pretensi dan tidak banyak bermain pada metafor-metafor ganjil. Kesederhanaan menggarap ulang sebuah kisah yang diketahui semua anak dengan memberi keharuan baru. Hal tersebut ditempuhnya dengan pilihan-pilihan dan keputusan dalam kegelisahan. Kegelisahan itu kemungkinan terkait dengan teknik dan gaya penulisan. Simaklah sebuah puisi Baju Bulan

Baju Bulan

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin

baju baru,

tapi tak punya uang. Ibuku entah

di mana sekarang,

sedangkan ayahku hanya bisa

kubayangkan.

bolehkah, bulan, kupinjam bajumu

barang semalam?

Bulan terharu: kok masih ada yang

membutuhkan

bajunya yang kuno di antara

begitu banyak warna-warni

baju buatan.

Bulan mencopot bajunya yang

keperakan,

mengenakannya pada gadis kecil

yang sering ia

lihat menangis di persimpangan jalan.

Bulan sendiri rela telanjang di langit,

atap paling rindang

bagi yang tak berumah dan tak

bisa pulang.

(2003)

Joko Pinurbo mengaku (belajar) menyair sudah 20 tahun. Rentang waktu yang panjang dibandingkan karyanya yang tidak terlalu membludak. Dalam tiap kumpulan puisinya, ia hanya memuat tak lebih dari 50 puisi. Bisa menjadi indikasi seleksinya yang ketat terhadap puisi-puisinya yang dari awal telah menjadikan seorang Joko Pinurbo memiliki identitas berbeda dengan penyair lain dalam keunikan dan kekuatan yang mengagumkan.

Potret kepenyairan Joko Pinurbo dapat dibidik dari kumpulan puisi Pacar Senja (2005) terbitan Grasindo. Grasindo telah dikenal dengan pembukuan periode lengkap kepenyairan sastrawan Indonesia yang telah mencapai daya ucapnya, mulai dari karya-karya awal karir kepenyairan hingga karya-karya terbaru, seperti: Asmaradana Gunawan Mohamad, Hujan Bulan Juni Sapardi Djoko Damono, Kalung dari Teman Afrizal Malna, dan penyair-penyair lain.

Nirwan Dewanto, yang saat ini dipercaya bertindak sebagai juru penentu perkembangan sastra Indonesia mutakhir, mengakui tertarik pada puisinyanya yang sederhana, gemar memancing kata, dan akrab dalam realita kesehariaan.

Buku kumpulan pusi terbarunya, Kepada Cium (2007) berisi 33 yang ditulisnya sepanjang tahun 2005-2006, puisi-puisi di dalamnya kembali mengulik peristiwa-peristiwa yang tampak kecil dan sederhana, imajinasinya yang liar dan lembut mengajak kita mengembara, menyelami relung-relung sunyi dalam hubungan manusia dengan dunia di dalam dirinya. Cara berpuisinya yang unik sering membawa kita ke batas yang kabur antara yang getir dan yang jenaka.

Kepada Cium

Seperti anak rusa menemukan sarang air

di celah batu karang tersembunyi,

seperti gelandangan kecil menenggak

sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

malam ini aku mau minum di bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi

yang masih hangat dan murni,

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri

pada luka lambung yang tak terobati.

(2006)

Penampakan realitas yang dibalut dinding keceriaan, dicampur dengan alur sedih-yang tetap kautulis dengan rasa bahagia “berbunyi” dalam puisi-puisinya. Kepolosan dalam menampakkan carut-marut hidup menciptakan sebuah bingkai yang kokoh. Kerinduan seseorang terhadap keluarga, efek masa kecil yang terus terkenang, atau perjuangan kemanusiaan terekam diberbagai kondisi mutakhir.

Penyair kecil itu sangat sibuk

merangkai kata

dan dengan berbagai cara menyusunnya

menjadi

sebuah rumah yang akan

dipersembahkan kepada ibunya

“Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah,

Ibu tidur

saja di dalam rumah buatanku.

Aku akan berjaga di teras

semalaman dan semuanya akan

aman-aman saja.

Joko Pinurbo menjadi penyair Indonesia kontemporer terkemuka. Penerima anugerah Sih Award 2001 dan pemenang Khatulistiwa Literary Award 2004. Kumpulan sajak Joko Pinurbo telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman, dan Belanda.

About these ads

Komentar»

1. theloebizz - Maret 12, 2008

Ihhh Parno nih orang…Dasarrr

2. langitjiwa - April 6, 2008

” saya sangat suka sekali dengan gaya Jokpin dalam merangkai kata-kata puisinya. Itu salah satu idola saya.”
” mas. salam kenal dari langitjiwa dan kalau boleh saya link blognya.”

salamku,
langitjiwa…….( sidoarjo )

3. Rori - April 8, 2008

Trims buat langitjiwa di Sidoarjo, gaya puisi Jokpin memang istimewa. Salam kenal juga, saya senang sekali jika Anda melink blog ini. Nanti saya balas link.

4. raka - April 26, 2008

Pinurbo memang aneh dan beda. Tapi saya lebih suka puisi-puisi liris, puisi pinurbo meskipun punya pesona dan kekuatan sendiri tampaknya terlalu “sederhana”.

5. Rori - April 28, 2008

Trims Raka, yah tiap orang memang punya kecenderungan sendiri-sendiri dalam membaca puisi. Dengan caranya masing-masing tiap puisi, baik puisi liris atau bukan, selalu memiliki medan bidik dan teknik lanturan yang menjadi ciri khas penyairnya. Puisi Jokpin memang terasa “sederhana” dalam pengucapan, tapi di konten, saya rasa tidak sesederhana itu.

6. puni - Juli 10, 2008

jokpin mengolah kata dengan getir,sederhana,dan membuat gamang menjadi mampus.
brovo jokpin!

7. Tsalis Abd Aziz Alfarizy - September 24, 2008

Joko menurut saya sudah mencapai taraf mimpi dalm sajak-sajaknya. saya kemarin mencoba menganalisis sajak-sajak beliau dari sisi psikologi Sigmund Freud dalam kumpulan puisi Celana. dan luar biasa..

8. Anthunk - Oktober 20, 2008

eh, bukan porno ngkalee…! menurutku, jokpin memang penyair yang menggunakan tubuh sebagai media puisinya. tubuh dalam puisi jokpin tidak bisa ditafsirkan mentah-mentah/secara langsung sebagai tubuh itu sendiri, tubuh di situ harus dianggap sebagai metafora sesuatu yang ingin disampaikan jokpin.
yang jelas. penyair satu ini emang piawai banget mengolah kata-kata sederhana menjadi puisi yang keren abis. salut de!

9. Maslahah - Desember 11, 2008

kalau Joko Pinurbo saja belajar slma 20 th untuk jadi penyair, berarti saya juga masih punya harapan. mudah-mudahan sebelum 20 th, saya mampu bersyair!

Sukses y buat Mas Rori …

10. arif er rachman - Mei 6, 2010

bro, harus dijelaskan ini tulisan siapa? kasian kan sudah nulis dengan namanya gak disebutkan..

11. nyonyasastra - Juli 24, 2014

saya kenal baik sekali dengan penyair ini.Joko Pinurbo tidak sesederhana yang nampak dari luar.Dia sangat cerdas,keras kepala tapi konsisten pada prinsip yang dimilikinya….terus belajar walau sudah lebih dari pantas memgajar…itulah Joko Pinurbo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: