jump to navigation

Kerikil Kecil Pena Kencana Award Maret 18, 2008

Posted by Mochammad Asrori in berita, indonesia, puisi.
trackback

Saya mungkin tidak akan melirik sekedip pun Pena Kencana Award 2008 jika tak ada sebuah nama yang nangkring di atas daftar 100 puisi Indonesia terbaik, yaitu A. Muttaqin, seorang teman kuliah yang aktif di KRS (komunitas Rebo Sore). Jadilah saya ikut membaca keseluruhan ulasan-ulasan mengenai ajang satu ini. Ajang gres bagi karya-karya terbaik para penyair dan cerpenis yang dipungut dari 12 koran lokal dan koran nasional di Indonesia sepanjang tahun 2006-2007. Ajang yang kemudian menelurkan dua buah buku, 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.
Memang sebagian nama-nama para penyair dan cerpenis yang karyanya masuk ke dalam 100 puisi pilihan dan 20 cerpen pilihan se-Indonesia versi Pena Kencana Award 2008 ini masih dipenuhi penyair dan cerpenis lama. Dari karya-karya yang terpilih, masih bertengger deretan nama-nama besar seperti: Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Nirwan Dewanto, Sitok Srengenge, Seno Gumira Ajidarma, Triyanto Triwikromo, dan Gus Tf. berbagi tempat dengan benih-benih baru penyair dan cerpenis yang menjanjikan.

Pena Kencana Award merupakan upaya meningkatkan motivasi para penulis untuk terus melahirkan karya, walaupun beberapa pihak mengkhawatirkan perlunya dibuat dan diketengahkan suatu sistem, standar, serta tolak ukur penilaian dan penjurian yang jelas untuk publik sastra secara luas. Harus ada mekanisme pertanggungjawaban dari dewan juri yang terpublikasikan secara luas.

Berbagai pertanyaan kritis akhirnya mencuat mengenai ukuran kompetensi karya-karya yang masuk. Apakah bisa dijamin tidak ada unsur keberpihakan subjektif di dalamnya? Apakah hanya berdasarkan asas kepercayaan saja dari pihak panitia kepada para juri untuk menilai dan menyeleksi? Atau hanya berdasarkan pertemanan antara panitia dan juri?

Kekhawatiran tersebut patut muncul karena jika dihitung secara matematis, dalam setahun ada 52 minggu, untuk cerpen berarti ada 52 cerpen dikali 12 media, atau sama dengan 624 cerpen. Puisi lebih banyak lagi, jika dalam satu pemuatan ada 5 puisi, maka 5 dikali 52 minggu dikali 12 media, atau sama dengan 3120 puisi. Bisa dibayangkan repotnya. Dan inilah sumber penyakitnya, baik pertanyaan: Apakah juri membaca dan memyeleksi keseluruhan karya tersebut? atau: Apakah juri menerima hasil seleksi tahap awal dari keseluruhan karya tersebut dari panitia?

Jika panitia menunjuk dan menyediakan seseorang juri/penyeleksi di masing-masing daerah untuk mengakomodasi karya-karya yang termuat di koran lokal, apakah orang yang ditunjuk menyeleksi itu bisa dipercaya kapasitas dan kualitas seleksiannya? Apakah tidak menutup kemungkinan keberpihakan subjektif terhadap beberapa nama tertentu dari penyeleksi di tingkat daerah?

Menurut Wayan Sunarta, hal ini mirip kasusnya dengan juri tahap satu KLA (Khatulistiwa Literary Award) dimana lolos atau tidaknya sebuah buku tergantung pada kekuatan, ketelitian dan ketidakberpihakan juri tahap satu dalam menilai buku. Kalau juri tahap satu tidak becus dan kerja asal-asalan, maka pupus sudah harapan menjaring karya berkualitas. Semua perlu dijelaskan secara gamblang mekanismenya karena jangan-jangan ada sejumlah karya yang sesungguhnya berkualitas namun luput dari penilaian.

Menurut situs Pena Kencana Award, ada 7 orang juri yang bertugas sejak Agustus 2007. Juri-juri tersebut memiliki latar belakang sastra yang sangat kompeten, tengoklah nama Budi Dharma, Ahmad Tohari, Apsanti Djokosujatno, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Sitok Srengenge. Mereka memilih 20 cerita pendek dan 100 puisi Indonesia terbaik dari ribuan karya yang dipublikasikan selama setahun penuh, antara 1 November 2006 sampai 31 Oktober 2007.

Nugroho Suksmanto, ketua panitia, secara tersirat melakukan pembelaan terhadap kontroversi ini, ia mengatakan bahwa yang paling berkompeten terhadap sastra adalah komunitas sastrawan. Yakni mereka yang mengklaim beralaskan hati dan pikiran yang jernih berkarya untuk Tuhan (baca; kesadaran dirinya) dan bagi kemaslahatan manusia. Mereka tentu berusaha terbebas dari pengaruh, apalagi tekanan, yang beorientasi komersial, sehingga setiap usaha ke arah itu pasti akan dicurigai sebagai upaya merusak kesucian karya dan akan menodai dunianya.

Ia menambahkan bahwa Pena Kencana telah menyadari setiap pilihan yang dilakukan pasti akan melahirkan kontroversi. Untuk itu panitia akan mengganti tiga dari tujuh juri agar komposisinya berubah setiap tahun. Namun tetap saja mengecewakan hati ketika mendapati masuknya juga beberapa karya anggota dewan juri dan panitia dalam Pena Kencana ini, seperti Joko Pinurbo, sapardi Djoko Damono, dan Sitok Srengenge. Suatu sinyal bahwa Pena Kencana belum mempunyai aturan yang jelas tentang kriteria penjurian. Rasanya akan lebih baik jika karya dewan juri otomatis tidak masuk dalam pemilihan, sebaik apapun karyanya, karena dalam kapasitasnya sebagai dewan juri masyarakat pastilah tahu kanapa karyanya tidak masuk dalam pemilihan.

Sangat disayangkan jika Pena Kencana award yang dimaksudkan untuk tujuan mulia ini dipakai ajang main-main dan iseng-iseng orang-orang tertentu. Orang-orang yang punya kepentingan subjektif yang nantinya melahirkan polemik diantara sastrawan yang merasa dikalahkan bukan oleh ukuran kualitas karya, melainkan oleh sistem yang tidak sehat. Saya setuju dengan ide Wayan Sunarta untuk lebih membuat suatu program beasiswa penulisan yang dipublikasikan secara terbuka kepada khalayak luas.

Tapi semoga saja Pena Kencana ini sesuai harapan awal panitia, yaitu membuka pasar yang lebih luas dan lebih besar atas karya tulis, baik dalam bentuk buku-buku maupun media lain. Dari sana akan tumbuhlah prospek usaha penerbitan yang lebih cerah dan menjanjikan, yang kemudian hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat sastra, berupa imbalan berkarya yang pantas, sehingga akan memotivasi kemunculan sastrawan-sastrawan baru dengan karya-karya yang lebih bermutu.

Saya ucapkan selamat pada 100 Puisi Indonesia terbaik dan 20 Cerpen Indonesia Terbaik Anugerah Pena Kencana Award 2008.

100 Puisi Indonesia Terbaik 2008

  1. A. Muttaqin, Munajat Apel Merah – Koran Tempo, 10 Juni 2007
  2. Aan Mansyur, Kata Peramal – Koran Tempo, 7 Oktober 2007
  3. Aan Mansyur, Tiga Catatan Terakhir – Kompas, 21 Oktober 2007
  4. Acep Zamzam Noor, Lembah Anai – Koran Tempo, 25 Februari 2007
  5. Acep Zamzam Noor, Rambut Ikal – Kompas, 27 Mei 2007
  6. Acep Zamzam Noor, Sajak Nakal – Koran Tempo, 25 Februari 2007
  7. Afrizal Malna, Bush dan Rambut yang Tak Bisa Disisir – Kompas, 26 November 2006
  8. Afrizal Malna, Lemari Tahun 1957 – Kompas, 7 Oktober 2007
  9. Afrizal Malna, Satu Meter Jalan ke Kiriâ€- Kompas, 7 Oktober 2007
  10. Ahda Imran, Di Delta Sungai – Kompas, 21 Januari 2007
  11. Ahda Imran, Perempuan yang Menyulam di Tepi Sungai – Kompas, 21 Januari 2007
  12. Alois A. Nugroho, Pedati Kayu dan Hutan Jati – Kompas, 22 April 2007
  13. Alois A. Nugroho, Perahu dan Pagi – Kompas, 22 April 2007
  14. Ari Pahala Hutabarat, Kado Ulang Tahun – Lampung Post, 14 Januari 2007
  15. Arif B. Prasetyo, Gunung Sanbang – Kompas, 3 Desember 2006
  16. Arif B. Prasetyo, Madiun -Kompas, 3 Desember 2006
  17. Dahta Gautama, Khimaci di Showa Kinen – Lampung Post, 29 Juli 2007
  18. Dina Oktaviani, Hantu Tanjung Karang – Kompas, 17 Juni 2007
  19. Dina Oktaviani, Lanskap Dalam – Media Indonesia, 25 Maret 2007
  20. Eka Pranita Dewi, Kakek Tak Jadi Datang – Lampung Post, 11 Maret 2007
  21. Eka Pranita Dewi, Malam di Kartika Plaza – Bali Post, 17 Juni 1007
  22. Eka Pranita Dewi, Perempuan Pembuat Gerabah – Bali Post, 28 Januari 2007
  23. Faisal Kamandobat, Aku Mencintai Kalian – Media Indonesia, 11 Maret 2007
  24. Fina Sato, Kabarkan Padaku tentang Laut – Pikiran Rakyat, 5 Mei 2007
  25. Frans Najira, Surat yang Tersesat – Koran Tempo, 7 Januari 2007
  26. Goenawan Mohamad, Ia Menangis – Kompas, 23 September 2007
  27. Goenawan Mohamad, Rozinante – Kompas, 23 September 2007
  28. Goenawan Mohamad, Tiga Puluh Menit Sebelum Syaid Hamid- Kompas, 23 September 2007
  29. Gunawan Maryanto, Jineman Uler Kambang – Koran Tempo, 5 November 2006
  30. Gunawan Maryanto, Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya – Kompas, 3 Juni 2007
  31. Gunawan Maryanto, Sebuah Pertunjukan Tentang Hujan – Suara Merdeka, 15 April 2007
  32. Gus Tf., Akar Berpilin 1 – Kompas, 4 Maret 2007
  33. Gus Tf., Akar Berpilin 5 – Kompas, 4 Maret 2007
  34. Hasan Aspahani, Di Antara Sampiran dan Isi Pantun Tua – Kompas, 16 september 2007
  35. Hasan Aspahani,Orgasmaya – Kompas, 8 April 2007
  36. Heru Mugiarso, Sola Dei – Suara Merdeka, 19 Agustus 2007
  37. Inggit Putria Marga, Bulu Ayam – Lampung Post, 11 Februari 2007
  38. Inggit Putria Marga, Di Pintu Gerbang – Republika, 11 Maret 2007
  39. Inggit Putria Marga, Suara Usai Isya – Koran Tempo, 24 Juni 2007
  40. Ira Puspitaningsih, NKM, Dalam Dongeng Tidurmu – Bali Post, 22 April 2007
  41. Ira Puspitaningsih, NKM, Di Hilir, Doaku Menjelma Gadis Mimpi – Bali Post, 22 April 2007
  42. Ira Puspitaningsih, NKM, Sari Daging, Yajna Sepasang Nelayan – Bali Post, 22 April 2007
  43. Iswadi Pratama, Fragmen Pertempuran Menjelang Berangkat – Kompas, 18 Maret 2007
  44. Iswadi Pratama, Pertempuran – Kompas, 18 Maret 2007
  45. Iyut Fitra, Surat Untuk Amelia – Lampung Post, 25 Maret 2007
  46. Jimmy Maruli Alfian, Kidung Pohon – Lampung Post, 28 Januari 2007
  47. Jimmy Maruli Alfian, Membuat Panekuk – Koran Tempo, 4 Februari 2007
  48. Joko Pinurbo, Pemulung Kecil – Kompas, 17 Desember 2007
  49. Joko Pinurbo, Sehabis Sakit – Kompas, 17 Desember 2007
  50. Joko Pinurbo, Terompet Tahun Baru – Suara Merdeka, 7 Januari 2007
  51. Kurnia Effendi,Tentang Dirimu – Media Indonesia, 3 Juni 2007
  52. Laela Awali, Cerita tentang Nenek dan Bocah Kecil
  53. Leo Kleden, Bunga Kecil dari Genewa – Kompas, 12 Agustus 2007
  54. Leo Kleden, Musim Gugur – Kompas, 12 Agustus 2007
  55. Lupita Lukman, Bunga Padi dan Alang-Alang – Media Indonesia, 9 September 2007
  56. Lupita Lukman, Gubuk-Gubuk Gipsi – Media Indonesia, 15 April 2007
  57. Lupita Lukman, Tangga Menuju Langit – Kompas, 29 Juli 2007
  58. M. Fadjroel Rachman, Di Pulau Laut, Bulan Menari – Media Indonesia, 28 Januari 2007
  59. Made Adnyana Ole, Seorang Penyair di Desa Tembok – Bali Post, 18 Februari 2007
  60. Mardi Luhung, Hantu Paus – Koran Tempo, 8 April 2007
  61. Mardi Luhung, Hujan – Kompas, 28 Januari 2007
  62. Marhalim Zaini, Jangan Sebat Kami dengan Rotanmu, Jangan Kutuk Kami Jadi Melayu – Kompas, 24 Juni 2007
  63. Mashuri, Tukang Cukur – Kompas, 25 Februari 2007
  64. Mashuri, Wajah – Media Indonesia, 29 April 2007
  65. Merisa Martiningsih, NMI, Dua Tukang Pos – Bali Post, 5 Agustus 2007
  66. Micky Hidayat, Telah Kuhapus Kata-Kata – Republika, 10 Juni 2007
  67. Mochtar Pabottinggi, Konsierto di Kyoto – Kompas, 28 Oktober 2007
  68. Mochtar Pabottinggi, Kuil Ise, Prosesi – Kompas, 28 Oktober 2007
  69. Muhammad Subarkah, Ain Helwa – Republika, 19 Agustus 2007
  70. Muhammad Subarkah, Lhok Nga, Ketika Luka Lupa Menutup Mulutnya – Republika, 19 Agustus 2007
  71. Muhammad Subarkah, Nyanyian Kekasih – Republika, 19 Agustus 2007
  72. Ni Luh Putu Mahaputri, Menyunting Bulan Sabit – Bali Post, 30 September 2007
  73. Nirwan Dewanto, Apel – Kompas, 5 Agustus 2007
  74. Nirwan Dewanto, Pengantin Remaja – Kompas, 5 Agustus 2007
  75. Nirwan Dewanto, Tiga Biola Juan Gris – Kompas, 5 Agustus 2007
  76. Ook Nugroho, Ode Bagi Pisang – Koran Tempo, 18 Maret 2007
  77. Ook Nugroho, Pasar Kembang – Kompas, 17 Juni 2007
  78. Oyos Suroso, Dapur Ibu – Media Indonesia, 19 November 2006
  79. Reina Cailisia, Sanur – Bali Post, 21 Januari 2007
  80. Es. Wibowo, Suluk Borobudur – Suara Merdeka, 28 April 2007
  81. Sapardi Djoko Damono, Kolam Pekarangan – Kompas, 10 Juni 2007
  82. Sapardi Djoko Damono, Sonet 1 – Kompas, 10 Juni 2007
  83. Sapardi Djoko Damono, Sonet 4 – Kompas, 10 Juni 2007
  84. Saras Dewi, Mahkota Duri – Media Indonesia, 27 Mei 2007
  85. Saraswati Laksmi, NKM, Tiga Tangkai Bunga – Bali Post, 29 Juli 2007
  86. Sindu Putra, Nyoman, Seekor Burung Terbakar Dalam Lukisanmu – Bali Post, 21 Januari 2007
  87. Sindu Putra, Pasar Pagi Denpasar – Bali Post, 25 Februari 2007
  88. Sitok Srengenge, Lembah Lantana – Kompas, 26 Agustus 2007
  89. Sitok Srengenge, Lukisan Perempuan – Kompas, 26 Agustus 2007
  90. Sitok Srengenge, Ruang Singgah – Kompas, 26 Agustus 2007
  91. Sunlie Thomas Alexander, Laskap Laki-Laki – Koran Tempo, 28 Januari 2007
  92. Sunlie Thomas Alexander, Nightmare – Koran Tempo, 28 Januari 2007
  93. Sunlie Thomas Alexander, Potret Tua – Koran Tempo, 28 Januari 2007
  94. Triyanto Triwikromo, Kota Senja – Kompas, 22 April
  95. Triyanto Triwikromo, Obituari Syeh Siti – Kompas, 22 April
  96. Wendoko, Empat Sajak Untuk KH – Kompas, 20 Mei 2007
  97. Wendoko, Les Miston – Media Indonesia, 24 Juni 2007
  98. Wendoko, Life Lines – Kompas, 20 Mei 2007
  99. Zaim Rofiqi, Ibu – Media Indonesia, 15 Juli 2007
  100. Zen Hae, Seseorang akan Memanggilmu dari Kobaran Api – Kompas, 14 Januari 2007

20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008

  1. Tentang seorang Perempuan yang Mati Tadi Pagi, karya Agus Noor, Koran Tempo, 8 April 2007
  2. Paragraf Terakhir, karya Antoni, Suara Merdeka, 26 November 2006
  3. Sumur Keseribu Tiga, karya AS Laksana, Koran Tempo, 6 Mei 2007
  4. Hikayat Kura-Kura Berejanggut, karya Azhari, Koran Tempo, 4 Maret 2007
  5. Sinai, karya Dewi Ria Utari, Kompas, 17 Juni 2007
  6. La Cage Aux Folles, karya Eka Kurniawan, Koran Tempo, 15 Juli 2007
  7. Bukan Yem, karya Etik Juwita, Jawa Pos, 10 Juni 2007
  8. Betaljemur, karya Gunawan Maryanto, Suara Merdeka, 26 Agustus 2007
  9. Kami Lepas Anak Kami, karya Gus tf Sakai, Suara Merdeka, 29 Januari 2007
  10. Tiurmaida, karya Hasan Al Banna, Kompas, 3 Juni 2007
  11. Saleha di Tengah Badai Salju, karya Ida Ahdiah, Suara Mereka, 20 Agustus 2007
  12. Kupu-Kupu Ibu, karya Ira Komang, Media Indonesia, 26 November 2006
  13. Dua Perempuan, karya Lan Fang, Suara Merdeka, 12 November 2006
  14. Mawar di Kanal Macan, karya M Iksaka Banu, Koran Tempo, 12 Agustus 2007
  15. Sebelum ke Takao, karya Naomi Srikandi, Suara Merdeka, 6 Mei 2007
  16. Seri Perjalanan, karya Nukila Amal, Koran Tempo, 24 Juni 2007
  17. Di Sini Dingin Sekali, karya Puthut EA, Kompas, 26 November 2006
  18. Sepotong Tangan, karya Ratih Kumala, Republika, 5 Agustus 2007
  19. Cinta di Atas Perahu Cadik, karya Seno Gumira Ajidarma, Kompas, 10 Juni 2007
  20. Cahaya Sunyi Ibu, karya Triyanto Triwikromo, Jawa Pos, 21 Oktober 2007.
About these ads

Komentar»

1. yo - April 9, 2008

mampir, mas. sambil membaca soal kerikil kecil pena kencana.

salam..

2. Rori - April 9, 2008

Yo, silakan, silakan, silakan.

3. Qinimain Zain - September 7, 2008

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Sitomorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Kantrin Bandel, dan Triano Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see others dan How you see others, How others see themselves dan How others see you, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

4. fortico - Januari 10, 2009

bagus

5. Melayu Boleh - April 20, 2009

orang melayu kena bersatu, baru kita boleh berjaya.melayu boleh.sapa kata tak boleh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 32 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: