Kedai Puisi

Tempat Sastra Nonfiksi Dibuat dan Diapreasisi

  • Tentang Kedai Puisi

    Blog ini merupakan media apresiasi karya-karya nonfiksi, khususnya puisi, yang mengajak kita bersama-sama berburu keindahan.
  • Tentang Penjaga Kedai

    Hai, panggil saja saya Rori. Tapi ... aw, sebelumnya tolong jauhkan kursor itu dari hadapan saya. Terima kasih ....

    Moch. Asrori menulis cerpen, esai dan puisi di media-media lokal maupun nasional. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa ini pernah mendapat penghargaan seperti Juara I Lomba Menulis Cerpen se-JBSI Unesa 2003, Peringkat III Penulisan Cerpen Peksiminal Jawa Timur 2004, Juara I Menulis Esei dan Juara II Menulis Puisi dalam Reading SGG di HUT Surabaya 2005. Dan prestasi-prestasi lainnya.

  • Add to Technorati Favorites

    Poetry Art Blogs - BlogCatalog Blog Directory

    Warung Fiksi

    Kedai Puisi

    Kamus Warung Fiksi

Sepenggal Kisah Sastrawan Eksil

Posted by Mochammad Asrori on January 7, 2009

Berderet nama-nama sastrawan kita yang pernah bermukim di luar negeri, seperti: Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Idrus, Taufik Ismail, Budi Darma, M. Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Aoh K. Hadimadja, Ajip Rosidi, Wing Kardjo, Utuy Tatang Sontany, Sori Siregar, Suripan Sadi Hutomo, Abdul Hadi WM, Sutardji CalzoumĀ  Bachri, Toety Heraty, Marianne Katoppo, Rayani Sriwidodo, Eka Budianta, Saut Situmorang, Herlino Soleman, dll. Umumnya dalam rangka study atau mengemban tugas tertentu dan segera pulang setelah tugas selesai.

Tapi kita juga mengenal nama-nama lain yang bermukim di luar negeri, seperti: A. Kembara, A. Kobar Ibrahim, Alan Hageland, Agam Wispi, Asahan Alham, Chalik Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing o. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana setyadarma, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodihardjo, dan Z. afif. Nama-nama sastrawan yang bermukim di luar negeri tanpa mengenal kata “pulang”, sastrawan pelarian. Eksil.

Pulang
-catatan seorang penyair Indonesia di pengasingan

dimana kau pohonku hijau
disini aku sudah jadi batu
hai perantau darimana kau
dari mana saja aku mau melekat jadi debu
di karet, di karet katamu
wahai chairil apa kau masih disitu
atau lenyap dipasok batu
atau senyap sebelum tahun 2000

ya Banda mengena juga yang kau bilang
tak seorang berniat pulang
pulang? kemana harus pulang
si burung samudera tanpa sarang
bangga aku teringat Sujoyono berani menuding
dan bilang untung aku bukan anjing
ini juga modernisasi globalisasi
kata-kata jadi kering kebudayaan baru
dari bawah sampai atas
tukang peras atau maling

puisi hanya kaulah lagi tempatku pulang
puisi hanya kaulah pacarku terbang
puisi generasi baru yang bijak bestari menerjang
keras bagai granit cintanya bagai laut menggelombang

dimana kau pohonku hijau dalam puisimu wahai perantau
dalam cintamu jauh di pulau

Sajak di atas ditulis oleh Agam Wispi saat ia mengunjungi Indonesia pada tahun 1996. Kunjungan pertama kalinya sejak 1965. Sajak yang mengungkapkan arti pulang bagi sastrawan yang telah lama meninggalkan tanah air. Ia melawat ke Medan dan Jakarta mengunjungi sanak saudara dan menemui sastrawan-sastrawan muda Indonesia.

Mata puisinya pun cepat membidik kehidupan-kehidupan di tanah air yang cuma beberapa hari diinjaknya. Simaklah sajak “Kabaret” berikut:

Kabaret

baru terasa sudah di Jakarta waktu cecak merayap di dinding
menerkam nyamuk gemuk oleh darahku yang kemarin
salut cecak salam untukmu dari Eropa

baru kutahu yang tak berubah di Medan
berak cewok jongkok berdiri lagi sudah kepayahan
karena lutut sudah berkarat di makan kemanjaan
meski begitu kemanapun berjalan tercium harum durian

baru sadar berdiri di pinggir
ketika berdiri di jembatan bendungan hilir
melihat sungai membusuk airnya tak mengalir
manusiaku di sini apakah mereka memang punya tanah air

baru berkenalan dengan pemerasan yang diresmikan
ketika melayang-layang di jalan layang sang kuasa
jaman kuno sudah dimodernisasi kerakusan
tiap roda pedati harus bayar kalau mau lewat gapura

baru terbangkit semangat proklamasi
ketika di mega indonesia ada megawati
perempuan kaulah bunda kemerdekaan yang menderita
melahirkan pejuang dan bandit sama saja

baru terasa ada yang hilang di Jakarta yang kucinta
baru tahu patah tumbuh hilang berganti
melihat generasi baru menempuh jalannya sendiri

Agam Wispi lahir di Pangkalan Susu, Sumatera utara 1930. Tumbuh dan sekolah di Medan. Ayahnya memimpin kelompok tonil Gezaksa, rombongan sandiwara yang terkenal di Medan pada masa sebelum perang. Disinilah agam mulai mengenal sastra.

Saat di perkebunan teh, Bahbirong Ulu, sajak pertamanya, “Merdeka Bernoda” lahir. Sajak itu kemudian dimuat di Harian Rakyat Medan. Rupanya sajak itulah awal yang menentukan jalan hidupnya. Saat ke Medan ia melamar kerja sebagai wartawan di Harian Kerakyatan dan diterima karena sajaknya pernah dimuat di sana.

Sebagai wartawan di medan, melalui tokoh Bakrie Siregar, Agam berkenalan dengan ide-ide progresif dari organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia kemudian menjadi anggota, bahkan pengurus pusat Lekra sejak 1959. Sejak itu ia menulis puisi berdasarkan ide-ide progresif organisasi itu.

Ia berkesimpulan bahwa puisi yang baik adalah sederhana bukan kata-kata yang sulit. Ia mengkritik puisi-puisi yang suka mengabstrakkan. Karya-karyanya adalah “Revolusi”, “Gadis Luar Kota”, Dera ddan Deru” (1957), Kumpulan puisi “Sahabat” (1958), dan juga terserak dalam kumpulan puisi Lekra “Dinasti 650 Juta” (1961) dan “Yang Tak Terbungkamkan” (1964).

Jalan hidupnya lagi-lagi ditentukan oleh sajaknya ketika ia menulis sebuah sajak di Harian Rakyat mengenai pertempuran di vietnam dan kemudian diterjemahkan dan dimuat pula di majalah sastra di Vietnam. Hal itu membuatnya diundang oleh Ho Chi Min ke Vietnam. Perjalanan bersejarah karena sejak kepergiannya tersebut ia tak pernah pulang kembali ke Indonesia.

Di sana ia sempat melakukan perjalanan selama empat bulan dipelosok Vietnam di mana tak seorang asing pun boleh masuk. Ia juga bertemu Ho Chi Min dan berwawancara di istana negara selama tiga jam. Saat berwawancara itulah Ho Chi Min mengungkapkan bahwa ia hanya mau menemuinya karena statusnya sebagai penyair bukan sebagai wartawan.

Dari Vietnam ia kemudian diundang ke Peking untuk menghadiri perayaan 1 Oktober. Di Tiannanment ia bertemu dengan orang-orang Lekra Indonesia dan tepat jam 10 ia mendapat kabar mengenai peristiwa berdarah yang terjadi di Indonesia malam sebelumnya.

Terjebaklah ia di China, ia terkurung dalam kamp di Nanking selama lima tahun. Sejak itu ia hidup dalam pengasingan di Cina, Jerman, dan Belanda. Melalui sajjaknya “Penyair Mencari Sarang” tampaklah kata hatinya menjadi manusia yang tak bertanah air.

Penyair Mencari Sarang

penyair mencari sarang ditepi kanal amsterdam
camar melayang meningglkan sarang digelisahkan air tenang
penyair dan camar sama-sama dikejar gelisah senja usia
penyair sarangmu adalah kata
camar gelisahmu matahari senja
terpaut perahu puisiku di kanal Belanda

mari reguk habis segelas bir
sebelum kata terakhir untuk berpisah
pulang ke rumah kubasuh muka
dan bersibak lalu menulis sajak

Ia tidak mengeluh tentang pengasingan dilihat dari kepentingan sastra karena banyak sastrawan-sastrawan di Indonesia sendiri yang tidak mendapat perhatian penguasa. Ia tetap menulis puisi dalam bahasa Indonesia walaupun lama tidak bersentuhan dengan bahasa Indonesia sendiri. Dalam pengasingan ia menghasilkan kumpulan puisi “Exile”, “Orang-Orang yang Dilupakan”, dan “Kronologi in Memoriam”.

7 Responses to “Sepenggal Kisah Sastrawan Eksil”

  1. dusone said

    salam kenal mas

  2. Rori said

    Salam kenal balik :D

  3. keren mantep…
    wah besok bakalan kesini lagi…tuch

  4. Rori said

    Trims sering-sering mampir ya.. :D

  5. edi said

    mampir sambil baca-baca, salam kenal

  6. Rori said

    All is yours… Salam kenal balik :D

  7. Lily said

    Salam Kenal!!!!!!!!!!!!!!!”””””””’

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>