Ketika Penyair Membidik Laut May 29, 2010
Posted by Mochammad Asrori in budaya, indonesia, puisi.Tags: laut, penyair, puisi
trackback
Laut dan segala suasana yang ada di sekitarnya, banyak digali penyair sebagai ihwal melukiskannya dalam kata. Jadilah banyak penyair yang mengkontemplasi kematangan pengalamannya tentang laut. Bisa jadi tentang laut itu sendiri, boleh jadi suasana laut, atau sebuah refleksi hidup yang dianalogkan sebagai laut. Memang begitulah hakikatnya sebuah puisi. Puisi memang tidak digunakan sebuah acuan atau referensi utuh tentang situasi tertentu yang diungkapkan. Tapi puisi adalah bahan penunjang pembaca untuk memperoleh gambaran suatu apek tertentu dalam kehidupan. Nah beberapa puisi ini akan memberikan gambaran puitik tentang laut untuk anda.
LAUT
laut mengirim ikan
lewat perahu-perahu nelayan
laut di jamu Lumpur
dan segala kotoran sungai
laut mengirim udang
terhidang di meja makan
laut disuguh keruh
air selokan
laut mengirim garam
agar selera tak kehilangan gairah
laut mendapat ludah
dari kapal-kapal yang muntah
laut mengirim minyak
jadi timbunan dolar
laut dibayar
dengan ampas-ampas teknologi
laut mengirim mutiara
jadi permata mahkota
laut menerima sisa-sisa
dari perut kota
dan laut tetap menggunung cintanya
dalam gelombang rindu
laut setia mengirim ombak
ke pantai-pantai
ombak ditolak
di tepi pantai
laut ditolak
tepinya sendiri
(Husni Djamaluddin, Tonggak 2)
MALAM LAUT
Karena laut tak pernah takluk, lautlah aku
Karena laut tak pernah dusta, lautlah aku
Terlalu hampir tetapi terlalu sepi
Tertangkap sekali terlepas kembali
Ah malam, gumpalan cahaya yang selalu berubah warna
Beginilahh jika mimpi menimpa harapan banci
Tak kusangka serupa dara
Sehabis mencium bias mendera
Karena laut tak pernah takluk, mereka tak tahu aku di mana
Karena laut tak pernah dusta, ku tak tahu cintaku di mana
Terlalu hampir tetapi terlalu sepi
Tertangkap sekali terlepas kembali
(Sudarto Bachtiar, Suara)
LAGU NELAYAN SELAT MADURA
Sayup-sayup sampai
Meningkah gelombang kesepian malam:
Ahai laut jawa, selat malaka
Ahai gelombang angin buritan
Dengarlah dendang durjana
Lelaki tua putra Madura:
Malampun larut
Ikan tidur di dasar laut
Hatipun gundah
Anak cucuku di Jakarta
Bulan terang bulan purnama
Dua mata di sampingnya
Lelaki ini lahir di Sumatera
Di mana itu kuburan bunda?
Ahai gelombang larut
Lelaki ini kawin laut
Jika berhenti detak jantungnya
Pulau mana akan dipilihnya?
Pulau Pandan jauh di tengah
Pulau Madura ujung jawa
Ahai, jika berhenti detak jantungnya
Di dasar laut liang kuburnya
(Djawastin Hasugian, Tonggak 3)
DOA PARA PELAUT YANG TABAH
Kami telah berjanji kepada sejarah
untuk pantang menyerah.
Bukankah telah kami lalui pulau demi pulau, selaksa pulau,
dengan perahu yang semakin mengeras
oleh air laut
Selalu bajakan otot-otot kami ya Tuhan,
yang tetap mengayuh entah sejak kapan;
Barangkali akan segera memutih rambut kami ini,
satu demi satu merasa letih, dan tersungkur mati,
Tapi berlaksa anak-anak kami akan memegang dayung serta kemudi
menggantikan kami
Kamilah yang telah mengayuh perahu-perahu Sriwijaya serta Majapahit
Mengayuh perahu-perahu Makasar dan Bugis
Sebab kami telah bersekutu dengan sejarah
Untuk menundukkan lautan.
Lautan yang diam adalah sahabat kami,
Dan lautan yang memberontak dalam prahara dan topan,
adalah alasan yang paling baik
untuk menguji kesetian dan bakti kami
padaMu
Barangkali beberapa orang putus otot-otot lengannya
Yang lain pecah tulang-tulangnya, tetapi anak-anak kami yang setia
Segera mengubur mereka di laut, dan melanjutkan perjalanan
yang belum selesai ini.
Biarlah kami bersumpah kepada sejarah, ya Tuhan,
untuk membuat bekas-bekas yang tak terbatas
di lautan
(Sapardi Djoko Damono, Semerbak Sajak)
PANTAI UTARA
Luruskan Pandang ke daratan tandus, ke petak-petak garam
Ke laut lepas, layer putih-putih, ke perahu-perahu bebas
O laut jawa di belakang desa-desa sengsara
Laut jawa dibelakan kejatuhan dan kebangkitan
Suatu bangsa
Laut adalah kita, perahu-perahu berkuasa
Dari arafura, selat sunda, selat malaka
Demikian sejarah bangsa dalam masa jaya
Sebelum sultan agung dan monopoli kapal dagang bersenjata
Laut adalah kita, sebelum cengkeh dan pala
Laut adalah kita, sesudah minyak dan baja
Perahu-perahu begitu manis, kapal-kapala lebih perkasa
Luruskan pandang ke laut, laut yang merdeka
(Isma Sawitri, Tonggak 2)
KAPAL NUH
Sekali akan turun lagi
Kapal Nuh di pelabuhan malam
Tanpa kapten
Hanya suara yang berseru ke setiap hati:
“Mari!”
Kita berangkat
Berkelamin, laki-istreri,
Untuk berbiak di tanah baru yang berseri
Juga makhluk yang merangkak
Di darat dan di langit terbang
Masuk sejodoh-sejodoh. Masing-masing
Mendapat ruang
Di haluan, di buritan, di timbaruang,
Kita semua. Sebab kasih itu murah,
Bahkan bunga, emas dan perak
Itu batu mulia
Yang memancarkan api rahmat
turut termuat.
Kalau bahtera mulai bertolak
Dekat kita dengar bumi retak
Bumi yang telah tua
Oleh usia dan derita
(Subagio Sastrowardojo, Simphoni)
BUIH
Kami berlayar: kapal, aku, dan awan
Pelabuhan, pantai, lambai satutangan
Melepas ikatan. Di mana air membuih bebas
Meluas pandangan. Kami berlayar!
Bagi kita: aku, engkau, bagi engkau dan aku
juga demikian. Kelembutan pagi berangkat pudar
Semua kata dan perbuatanmu saling manisnya bertengkar
Kian rapuh kepercayaan. Seharga senyum yang lalu
Lengkungan langit, luasan laut
Bertemu pandang di pelupuk hari
Sebenang warna sayup melingkar
Menafaskan kasih angina murni
Meningkat rasa, kekecilan menepi
Lengkungan langit keluasan laut
Benda kerdil di tengah-tengahnya
(Siti Nuraini, Tonggak 2)




bagus2 sekalii puisinyaaa………
Ingin menulis puisi tentang laut juga…
bagus bnaget syairnya….
bagus bneget …
keren bgtzzz