Kedai Puisi

Tempat Sastra Nonfiksi Dibuat dan Diapreasisi

  • Tentang Kedai Puisi

    Blog ini merupakan media apresiasi karya-karya nonfiksi, khususnya puisi, yang mengajak kita bersama-sama berburu keindahan.
  • Tentang Penjaga Kedai

    Hai, panggil saja saya Rori. Tapi ... aw, sebelumnya tolong jauhkan kursor itu dari hadapan saya. Terima kasih ....

    Moch. Asrori menulis cerpen, esai dan puisi di media-media lokal maupun nasional. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa ini pernah mendapat penghargaan seperti Juara I Lomba Menulis Cerpen se-JBSI Unesa 2003, Peringkat III Penulisan Cerpen Peksiminal Jawa Timur 2004, Juara I Menulis Esei dan Juara II Menulis Puisi dalam Reading SGG di HUT Surabaya 2005. Dan prestasi-prestasi lainnya.

  • Add to Technorati Favorites

    Poetry Art Blogs - BlogCatalog Blog Directory

    Warung Fiksi

    Kedai Puisi

    Kamus Warung Fiksi

Archive for the ‘dunia’ Category

Mencicip Puisi-Puisi Pablo Neruda (Bagian 1)

Posted by Mochammad Asrori on March 12, 2009

Pablo Neruda, penerima anugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra 1971 dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun”. Jadi pasti enak sekali mencicipi puisi-puisi cintanya yang erotik, puisi-puisi surealisnya, puisi-puisi politiknya, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut.

Read the rest of this entry »

Posted in dunia, essay, puisi | Tagged: , | 8 Comments »

Mari Nembang untuk si Mungil

Posted by Mochammad Asrori on January 8, 2008

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan. Read the rest of this entry »

Posted in dunia, geguritan, indonesia, jawa, puisi | 7 Comments »

Dementia Si Kacamata Pecah

Posted by Mochammad Asrori on December 10, 2007

Awalnya adalah kebiasaan yang tak kunjung sembuh, saya suka lupa meletakkan di mana kacamata saya selepas istirahat, jadi dalam kondisi mata masih setengah bangun, saya menajamkan mata minus saya dan mencari sekeliling. Hahh, gelap sekali, lalu mulailah saya menggerayang-gerayang; di saku baju, disekitar tangan saya, di sekitar bantal, di balik guling, di sekitar badan, di belakang punggung, di atas bentangan sprei, di atas meja belajar, di dalam laci, uh…, tidak juga saya temukan kacamata saya. Jadilah saya bangkit dari ranjang, dan “kreiuek…” Ada bunyi merdu yang tepat berada di bawah telapak kaki saya. Coba tebak di mana kacamata itu kemudian saya temukan? Read the rest of this entry »

Posted in dunia, essay, indonesia, puisi | Leave a Comment »

Anak Jalanan dan Perambah Berlentera Kaca

Posted by Mochammad Asrori on December 4, 2007

Kata rimba identik dengan segala hal yang rimbun, terus tumbuh, dinamis, dengan keteraturan yang tidak teratur, penuh tantangan. Jadilah ketika mengatakan “hutan rimba” kita langsung mendeskripsikan daerah penuh nuansa hijau, alami, dan kesegaran; disertai dengan suasana penuh misteri, wingit, gelap, berbahaya, penuh ancaman. Gambaran sama muncul juga ketika menyebut “rimba metropolis”, daerah yang rimbun iklim perekonomian, namun penuh juga intrik demi sekadar kata survive. Jadilah yang paling lemah akan menemui binasa. Coba tebak siapa yang terlemah di kondisi seperti ini? Anak-anak? Yah! Tepatnya anak-anak yang tidak memiliki perlindungan dari siapapun: Anak-anak jalanan. Mereka membutuhkan perambah berlentera kaca. Read the rest of this entry »

Posted in dunia, essay, puisi | Leave a Comment »