Membincang Telimpuh Hasan Aspahani March 11, 2010
Posted by Mochammad Asrori in budaya, essay, indonesia, puisi.Tags: Hasan Aspahani, indonesia, puisi, Telimpuh
2 comments
Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja:
”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab
di bingkai pertama, balon percakapan
itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut,
juga dingin dan kata-kata di dalamnya
jadi percik rintik.
Aku menggambar payung untukmu,
tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu:
”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”
Lalu kugambar sebuah rumah di bingkai kedua
dengan kamar-kamar labirin. ”Aku tersesat,” katamu.
”Tidak! aku bersembunyi dan kau mencariku seperti
permainan petak-umpet!”
DI bingkai ketiga, kugambar genangan basah
air mata dan keringat yang
berpunca dari resah dan lelah,
”Aku mau pulang dan tidur,” pekikmu
(Sajak ”Komik Strip, 1”)
(more…)
12 Kulit Asmaradana (Bagian 4) January 30, 2010
Posted by Mochammad Asrori in budaya, essay, indonesia, puisi.Tags: Asmaradana, Goenawan Mohamad, puisi
8 comments
Dengan kata-kata, roh dan semangat yang dikandungnya, puisi dapat terus menerus menjaga dan menghidupkan kemanusiaan. Hidup dalam puisi, berarti ikut sejiwa dengan kata. Penyair tidak lagi dibatasi oleh kelamin, usia, apalagi ras dan keturunannya. Tidak penting lagi apakah penulisnya sudah mati atau masih hidup.
12 Kupas Kulit Asmaradana (Bagian 3) January 16, 2010
Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, puisi.Tags: Asmaradana, Goenawan Mohamad, indonesia, puisi
26 comments
Mengapakah pengarang menganggap apa yang diungkapkannya merupakan kebenaran, sementara orang-orang lain tidak menyadarinya atau mengakuinya? Mengapakah masyarakat menganggap dirinya sehat sementara orang-orang dalam sastra penting? Orang sinting memang dianggap sinting oleh masyarakat sekitarnya. Sebaliknya orang sinting itu menganggap masyarakatnya aneh.
(more…)
12 Kupas Kulit Asmaradana (Bagian 2) December 29, 2009
Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, puisi.Tags: Asmaradana, Goenawan Mohamad, indonesia, puisi
add a comment
Kata-kata yang bertebaran di sekeliling kita, yang sudah menjadi begitu umum dan abstrak, yang sudah diberi arti yang kaku oleh kamus, tak akan mampu mendukung imaji seorang penyair.
Puisi adalah suatu unikum, hasil dari pengamatan yang unik seorang penyair. Hal ini tak bisa dicapai kalau si penyair dengan tenang saja mengoper kata-kata yang bertebaran di sekelilingnya, menyesuaikannya dengan dunianya yang baru, yang unik.
12 Kupas Kulit Asmaradana (Bagian 1) December 22, 2009
Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, puisi.Tags: Asmaradana, Goenawan Mohamad, indonesia, puisi
3 comments
Yang ada hanya aku:
tangan yang menulis
pada sabak hitam
ketakutanku
telah pulang
Dosa telah dilenyapkan
Senja telah dibersihkan
Dan langit telah lapang
Tapi aku tak bisa pulang
Tubuh itu juga
(Sajak Perempuan Yang Dirajam Menjelang Malam, Goenawan Mohamad)
Membicarakan puisi dan berbagai hal yang terkait dengannya, haruskah pertanyaan ini dijawab pertama kali: apakah puisi itu? Hidup keseharian manusia, sejak dahulu hingga kini, sebenarnya sudah dikepung ”puisi”. Maka yang terjadi ketika puisi ditulis:
Mencicip Puisi-Puisi Pablo Neruda March 12, 2009
Posted by Mochammad Asrori in dunia, essay, puisi.Tags: pablo neruda, puisi
14 comments
Pablo Neruda, penerima anugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra 1971 dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun”. Jadi pasti enak sekali mencicipi puisi-puisi cintanya yang erotik, puisi-puisi surealisnya, puisi-puisi politiknya, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut.
Golf Untuk Rakyat October 23, 2008
Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, profil, puisi.Tags: Darmanto Jatman, indonesia, puisi
7 comments
Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. Sudah pernah main golf belum? Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.
Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri Kanuragan bilang, golf pertanda masyarakat kita sudah lebih sejahtera.
Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang untuk menyejahterakan dua ratus juta rakyat, berapa tumbal mesti dikorbankan untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan. Gusti kami tunggu dawuh paduka.
Sementara Menteri Pagupon pesan, “Silahkan bikin padang golf mister, asal jangan gusur rumah rakyat.” Dan Menteri Besar Jogoboyo wanti-wanti, “Silahkan bikin padang golf Sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman.”
Mengenang Sajak-sajak Suripan January 22, 2008
Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, jawa, puisi.3 comments
D. Zawawi Imron menjuluki Suripan sebagai penyair beras kencur, karena sajak-sajaknya lebih banyak mengungkap ramuan-ramuan jamu tradisional seperti kecipir, kenikir, kolang-kaling, dan adas pulasari. Korie Layun Rampan menulis sajak-sajak Suripan khas pada gaya ungkapnya yang bersahaja dan daya sindir yang kuat. Setya Yuwana Sudikan memaknainya sebagai sebagai penyair sajak-sajak kampung(an), karena dipenuhi pegungkapan ide yang didukung oleh lukisan alam pedesaan. Tentu saja tidak ada yang salah pendapat mereka, karena memang begitulah adanya sajak-sajak Suripan Sadi Hutomo yang semasa hidupnya dikenal sebagai dosen, pengamat sastra, dan dokumentator sastra yang mumpuni. (more…)





