Posted by Mochammad Asrori on January 7, 2009
Berderet nama-nama sastrawan kita yang pernah bermukim di luar negeri, seperti: Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Idrus, Taufik Ismail, Budi Darma, M. Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Aoh K. Hadimadja, Ajip Rosidi, Wing Kardjo, Utuy Tatang Sontany, Sori Siregar, Suripan Sadi Hutomo, Abdul Hadi WM, Sutardji CalzoumĀ Bachri, Toety Heraty, Marianne Katoppo, Rayani Sriwidodo, Eka Budianta, Saut Situmorang, Herlino Soleman, dll. Umumnya dalam rangka study atau mengemban tugas tertentu dan segera pulang setelah tugas selesai.
Tapi kita juga mengenal nama-nama lain yang bermukim di luar negeri, seperti: A. Kembara, A. Kobar Ibrahim, Alan Hageland, Agam Wispi, Asahan Alham, Chalik Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing o. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana setyadarma, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodihardjo, dan Z. afif. Nama-nama sastrawan yang bermukim di luar negeri tanpa mengenal kata “pulang”, sastrawan pelarian. Eksil. Read the rest of this entry »
Posted in budaya, indonesia, profil | Tagged: agam wispi, penyair mencari sarang, puisi, sastra eksil | 7 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on November 20, 2008
Kamis malam, tanggal 13 November di Atrium Plasa Senayan Jakarta, “Jantung Lebah Ratu” milik Nirwan Dewanto dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk Kategori Puisi. Menurut Hamsad Rangkuti “Jantung Lebah Ratu” mewakili spirit sastra yang serius dan matang. Pernyataan tersebut sekaligus kritik terhadap banyak bermunculannya penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat kata-kata dan mementahkan gagasan yang bernas dan sublimasi bahasa sebagai hal terpenting. Tapi apa semua setuju dengan pernyataan tersebut? Read the rest of this entry »
Posted in berita, indonesia, puisi, woro-woro | Tagged: indonesia, jantung lebah ratu, nirwan dewanto, puisi, sastra khatulistiwa | 2 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on October 23, 2008
Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. Sudah pernah main golf belum? Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.
Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri Kanuragan bilang, golf pertanda masyarakat kita sudah lebih sejahtera.
Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang untuk menyejahterakan dua ratus juta rakyat, berapa tumbal mesti dikorbankan untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan. Gusti kami tunggu dawuh paduka.
Sementara Menteri Pagupon pesan, “Silahkan bikin padang golf mister, asal jangan gusur rumah rakyat.” Dan Menteri Besar Jogoboyo wanti-wanti, “Silahkan bikin padang golf Sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman.”
Read the rest of this entry »
Posted in essay, indonesia, profil, puisi | Tagged: Darmanto Jatman, indonesia, puisi | 4 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on April 25, 2008
Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme. Read the rest of this entry »
Posted in indonesia, puisi | 16 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on March 18, 2008
Saya mungkin tidak akan melirik sekedip pun Pena Kencana Award 2008 jika tak ada sebuah nama yang nangkring di atas daftar 100 puisi Indonesia terbaik, yaitu A. Muttaqin, seorang teman kuliah yang aktif di KRS (komunitas Rebo Sore). Jadilah saya ikut membaca keseluruhan ulasan-ulasan mengenai ajang satu ini. Ajang gres bagi karya-karya terbaik para penyair dan cerpenis yang dipungut dari 12 koran lokal dan koran nasional di Indonesia sepanjang tahun 2006-2007. Ajang yang kemudian menelurkan dua buah buku, 20 Cerpen Indonesia Terbaik 2008 dan 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Read the rest of this entry »
Posted in berita, indonesia, puisi | 5 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on February 27, 2008
Namanya sederhana, Joko, lahir di Sukabumi tahun 1962. Nama yang juga dipakai jutaan anak laki-laki lain di Jawa. Tapi rasanya tidak ada laki-laki lain bernama Joko yang serupa Joko Pinurbo. Di masa kecil ia pernah sakit-sakitan, dan ketika dewasa kurus bersahaja. Ketika remaja ia masuk seminari, tapi karam di perjalanan. Lalu ia mulai menemukan dorongan sastra memukau lewat puisi yang tersempil di antara buku-buku perpustakaan. Hingga muncullah ia dalam rumusan sastra Angkatan 2000, di mana Korrie Layun Rampan menilai puisi Joko memperlihatkan penemuan estetika dari perkembangan aku lirik ke pengucapan epik, dengan penguatan arus kisah dari sifat lirik murni. Read the rest of this entry »
Posted in indonesia, profil, puisi | 9 Comments »