Kedai Puisi

Tempat Sastra Nonfiksi Dibuat dan Diapreasisi

  • Tentang Kedai Puisi

    Blog ini merupakan media apresiasi karya-karya nonfiksi, khususnya puisi, yang mengajak kita bersama-sama berburu keindahan.
  • Tentang Penjaga Kedai

    Hai, panggil saja saya Rori. Tapi ... aw, sebelumnya tolong jauhkan kursor itu dari hadapan saya. Terima kasih ....

    Moch. Asrori menulis cerpen, esai dan puisi di media-media lokal maupun nasional. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Unesa ini pernah mendapat penghargaan seperti Juara I Lomba Menulis Cerpen se-JBSI Unesa 2003, Peringkat III Penulisan Cerpen Peksiminal Jawa Timur 2004, Juara I Menulis Esei dan Juara II Menulis Puisi dalam Reading SGG di HUT Surabaya 2005. Dan prestasi-prestasi lainnya.

  • Add to Technorati Favorites

    Poetry Art Blogs - BlogCatalog Blog Directory

    Warung Fiksi

    Kedai Puisi

    Kamus Warung Fiksi

Archive for the ‘jawa’ Category

Wayang Suket: Pengalaman Bawah Slamet Gundono

Posted by Mochammad Asrori on April 2, 2008

Kedua orang tuanya petani tulen, tak mempunyai darah seni sama sekali. Nama asli pemberian orang tuanya cuma Gundono. “Slamet” merupakan pemberian guru SD-nya yang lalu diterakan di ijazah, entah biar panjang atau lebih gagah. Setelah itu ia justru mengubah akte kelahirannya daripada harus mengubah ijazah SD. Kesenangannya pada pedalangan secara disadari karena ia tertarik sejak kecil. Tapi ia tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan saat itu yang dekat dengan minum dan main perempuan. Masuklah ia ke pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Tapi, justru di sekolah saat itu, di bawah kecintaannya terhadap wayang tidak pernah hilang, ia semakin rindu wayang. Read the rest of this entry »

Posted in jawa, profil | Tagged: , , | 6 Comments »

Mengenang Sajak-sajak Suripan

Posted by Mochammad Asrori on January 22, 2008

D. Zawawi Imron menjuluki Suripan sebagai penyair beras kencur, karena sajak-sajaknya lebih banyak mengungkap ramuan-ramuan jamu tradisional seperti kecipir, kenikir, kolang-kaling, dan adas pulasari. Korie Layun Rampan menulis sajak-sajak Suripan khas pada gaya ungkapnya yang bersahaja dan daya sindir yang kuat. Setya Yuwana Sudikan memaknainya sebagai sebagai penyair sajak-sajak kampung(an), karena dipenuhi pegungkapan ide yang didukung oleh lukisan alam pedesaan. Tentu saja tidak ada yang salah pendapat mereka, karena memang begitulah adanya sajak-sajak Suripan Sadi Hutomo yang semasa hidupnya dikenal sebagai dosen, pengamat sastra, dan dokumentator sastra yang mumpuni. Read the rest of this entry »

Posted in essay, indonesia, jawa, puisi | Leave a Comment »

Mari Nembang untuk si Mungil

Posted by Mochammad Asrori on January 8, 2008

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan. Read the rest of this entry »

Posted in dunia, geguritan, indonesia, jawa, puisi | 7 Comments »

Rindu Man Jamino, Besut, dan Rusmini

Posted by Mochammad Asrori on December 19, 2007

Man Jamino, Besut, dan Rusmini adalah karakter fenomenal dalam cerita ludruk besutan. Ludruk jenis ini awalnya berkembang sejak jaman penjajahan Jepang di daerah Jombang Jawa Timur. Rombongan ludruk ini akrab dinamai besutan, karena lakon yang dimainkan diiringi dengan musik, tari, dan nyanyi, melukiskan tiga tokoh, masing-masing, Besut, Man Jamino, dan Rusmini. Saat hari masih terang seseorang dari rombongan mereka membawa obor dan gong kecil yang kemudian dipukul-pukul sambil menginformasikan bahwa nanti malam akan ada pementasan. Jika ditanya kenapa masih terang sudah menyalakan obor, maka dengan gagah dan berani akan dijawab, “Ini lambang penerangan, Cak. Seni harus dimanfaatkan sebagai juru penerang bagi rakyat, untuk menyadari bahwa penjajahan Jepang harus dilawan, sebab penjajahan ini menyebabkan rakyat sengsara.” Read the rest of this entry »

Posted in essay, indonesia, jawa, puisi | 6 Comments »

Sekarung Pikulan Cak Nun di Kota Pahlawan

Posted by Mochammad Asrori on November 28, 2007

Tiga bulan terakhir Emha Ainun Najib, yang akrab disapa Cak Nun, rutin menggelar tiga kali pertemuan bersama Bangbang Wetan di halaman gedung Balai Pemuda Surabaya. Tajuk acaranya adalah diskusi seputar permasalahan yang meruap di Jatim, namun yang hadir di sana lebih senang mengatakannya sebagai aktifitas ngaji. Terakhir tanggal 27 November 2007 kemarin, Cak Nun hadir didampingi aktivis pemerhati kali (sungai) Surabaya, perwakilan dari korban lumpur Sidoarjo, korban kebakaran Pasar Turi Surabaya, dan juga korban masalah tanah Mrutu, Ujung, Surabaya. Mereka semua mendampuk Emha Ainun Najib untuk turut di garda depan memperjuangkan nasib mereka. Read the rest of this entry »

Posted in berita, essay, jawa, puisi | 8 Comments »