Posted by Mochammad Asrori on January 7, 2009
Berderet nama-nama sastrawan kita yang pernah bermukim di luar negeri, seperti: Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Idrus, Taufik Ismail, Budi Darma, M. Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Aoh K. Hadimadja, Ajip Rosidi, Wing Kardjo, Utuy Tatang Sontany, Sori Siregar, Suripan Sadi Hutomo, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Toety Heraty, Marianne Katoppo, Rayani Sriwidodo, Eka Budianta, Saut Situmorang, Herlino Soleman, dll. Umumnya dalam rangka study atau mengemban tugas tertentu dan segera pulang setelah tugas selesai.
Tapi kita juga mengenal nama-nama lain yang bermukim di luar negeri, seperti: A. Kembara, A. Kobar Ibrahim, Alan Hageland, Agam Wispi, Asahan Alham, Chalik Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing o. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana setyadarma, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodihardjo, dan Z. afif. Nama-nama sastrawan yang bermukim di luar negeri tanpa mengenal kata “pulang”, sastrawan pelarian. Eksil. Read the rest of this entry »
Posted in budaya, indonesia, profil | Tagged: agam wispi, penyair mencari sarang, puisi, sastra eksil | 7 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on October 23, 2008
Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. Sudah pernah main golf belum? Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.
Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri Kanuragan bilang, golf pertanda masyarakat kita sudah lebih sejahtera.
Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang untuk menyejahterakan dua ratus juta rakyat, berapa tumbal mesti dikorbankan untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan. Gusti kami tunggu dawuh paduka.
Sementara Menteri Pagupon pesan, “Silahkan bikin padang golf mister, asal jangan gusur rumah rakyat.” Dan Menteri Besar Jogoboyo wanti-wanti, “Silahkan bikin padang golf Sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman.”
Read the rest of this entry »
Posted in essay, indonesia, profil, puisi | Tagged: Darmanto Jatman, indonesia, puisi | 4 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on April 2, 2008
Kedua orang tuanya petani tulen, tak mempunyai darah seni sama sekali. Nama asli pemberian orang tuanya cuma Gundono. “Slamet” merupakan pemberian guru SD-nya yang lalu diterakan di ijazah, entah biar panjang atau lebih gagah. Setelah itu ia justru mengubah akte kelahirannya daripada harus mengubah ijazah SD. Kesenangannya pada pedalangan secara disadari karena ia tertarik sejak kecil. Tapi ia tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan saat itu yang dekat dengan minum dan main perempuan. Masuklah ia ke pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Tapi, justru di sekolah saat itu, di bawah kecintaannya terhadap wayang tidak pernah hilang, ia semakin rindu wayang. Read the rest of this entry »
Posted in jawa, profil | Tagged: slamet gundono, suket, wayang | 6 Comments »
Posted by Mochammad Asrori on February 27, 2008
Namanya sederhana, Joko, lahir di Sukabumi tahun 1962. Nama yang juga dipakai jutaan anak laki-laki lain di Jawa. Tapi rasanya tidak ada laki-laki lain bernama Joko yang serupa Joko Pinurbo. Di masa kecil ia pernah sakit-sakitan, dan ketika dewasa kurus bersahaja. Ketika remaja ia masuk seminari, tapi karam di perjalanan. Lalu ia mulai menemukan dorongan sastra memukau lewat puisi yang tersempil di antara buku-buku perpustakaan. Hingga muncullah ia dalam rumusan sastra Angkatan 2000, di mana Korrie Layun Rampan menilai puisi Joko memperlihatkan penemuan estetika dari perkembangan aku lirik ke pengucapan epik, dengan penguatan arus kisah dari sifat lirik murni. Read the rest of this entry »
Posted in indonesia, profil, puisi | 9 Comments »