<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kedai Puisi</title>
	<atom:link href="http://kedaipuisi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	<description>Tempat Sastra Nonfiksi Dibuat dan Diapreasisi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Mar 2009 03:00:35 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='kedaipuisi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/056e853eb3781be1dfc3e8ec3a311811?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kedai Puisi</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Mencicip Puisi-Puisi Pablo Neruda (Bagian 1)</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/03/12/mencicip-puisi-puisi-pablo-neruda-bagian-1/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/03/12/mencicip-puisi-puisi-pablo-neruda-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[essay]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[pablo neruda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Pablo Neruda, penerima anugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra 1971 dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya &#8220;penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun&#8221;. Jadi pasti enak sekali mencicipi puisi-puisi cintanya yang erotik, puisi-puisi surealisnya, puisi-puisi politiknya, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=46&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pablo Neruda, penerima anugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra 1971 dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya &#8220;penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun&#8221;. Jadi pasti enak sekali mencicipi puisi-puisi cintanya yang erotik, puisi-puisi surealisnya, puisi-puisi politiknya, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut.</p>
<p><span id="more-46"></span><br />
Pablo Neruda lahir di Parral, sebuah kota sekitar 300 km di selatan Santiago, Chili, 12 Juli 1904. Nama Pablo Neruda sebenarnya merupakan nama samaran, nama penyair ini sebenarnya adalah Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto. Ia lahir dari ayah bernama José del Carmen Reyes Morales, seorang pegawai kereta api,dan ibunya, Rosa Neftalí Basoalto Opazo, seorang guru sekolah yang meninggal dua bulan setelah ia dilahirkan.</p>
<p>Minatnya dalam tulis-menulis dan sastra sebenarnya ditentang ayahnya, namun ia mendapatkan dorongan dari orang lain, termasuk Gabriela Mistral yang kelak mendapatkan Hadiah Nobel. Karyanya yang pertama diterbitkan ditulisnya untuk harian setempat, La Mañana, pada usia 13 tahun: Entusiasmo y perseverancia (&#8220;Antusiasme dan Kegigihan&#8221;).</p>
<p>Ia penyair yang sangat produktif. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut. Pada 1920, ketika ia mengambil nama samaran Pablo Neruda, ia sudah banyak menerbitkan puisi, prosa, dan jurnalisme.</p>
<p>Pada 1923 kumpulan puisinya yang pertama, Crepusculario (&#8220;Buku Senja&#8221;), diterbitkan, dan tahun berikutnya terbit Veinte poemas de amor y una canción desesperada (&#8220;Dua puluh Puisi Cinta dan Nyanyian Putus Asa&#8221;), kumpulan puisi cinta yang kontroversial karena sifatnya yang erotik. Kedua karyanya itu mendapatkan pujian kritis dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Selama dekade-dekad berikutnya, Veinte poemas terjual berjuta-juta kopi dan menjadi karya Neruda yang paling terkenal.</p>
<p>Reputasi Neruda makin berkembang di dalam maupun di luar Chili, namun ia hidup dalam kemiskinan. Pada 1927, karena putus asa, ia menerima jabatan sebagai konsul kehormatan di Rangoon, yang saat itu merupakan bagian dari kolonial Burma, tempat yang belum pernah didengarnya sebelumnya. Kemudian ia melakukan kerja serabutan di Kolombo (Sri Lanka), Batavia, dan Singapura. Di Jawa ia bertemu dan menikahi istrinya yang pertama, seorang Belanda pegawai bank yang tinggi badannya, bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang. Sementara menjalani tugas diplomatik, Neruda banyak membaca puisi dan bereksperimen dengan berbagai bentuk puisi. Ia menulis jilid pertama dari kumpulan puisinya yang dua jilid Residencia en la tierra, (Menetap di Negeri) yang mencakup banyak puisi surealis, yang belakangan menjadi terkenal.</p>
<p>Ah mari kita langsung saja kita cicipi puisi Pablo Neruda. Berikut ini adalah beberapa puisi Pablo Neruda yang saya terjemahkan dari arsip Classic Poetry Series.</p>
<p>SEEKOR ANJING TELAH MATI</p>
<p>Anjingku telah mati, kukubur dia di kebun<br />
disebelah mesin tua penuh karat</p>
<p>Suatu saat aku pun akan menemaninya di sana<br />
tapi saat ini biar dia bersama mantel kusutnya<br />
tabiat buruknya, dan hidungnya yang beringus<br />
dan aku, si gila dunia yang tidak meyakini<br />
apapun yang dijanjikan surga di angkasa pada<br />
tiap yang berbelas kasih<br />
Aku percaya, di surga para anjing<br />
dimana anjingku akan menunggu kehadiranku<br />
meriakkan hembusan serupa goyang ekor persahabatannya<br />
aku yakin, aku tak akan pernah menginjakkan kaki di sana</p>
<p>Ah, aku takkan mengobral kesedihan di tanah ini<br />
karena telah kehilangan seorang sahabat<br />
yang tidak pernah kehilangan martabat<br />
persahabatannya untukku, persis seperti landak<br />
yang mempertahankan kerajaannya<br />
persahatan sebiji bintang, jauh terpencil<br />
tanpa sautan hadir keintiman, tanpa dilebih-lebihkan</p>
<p>Sama sekali dia tak pernah melompat ke atas pakaianku<br />
dan menularkan kudisnya ke seluruh tubuhhku<br />
dia juga sama sekali tak pernah menggosok-gosok ke lututku<br />
layaknya anjing-anjing yang lain yang doyan bercinta<br />
tidak, anjingku hanya menatapku lurus<br />
hanya memberi perhatian yang kubutuhkan<br />
perhatian yang wajib hadir<br />
untuk membuat orang yang tak berguna sepertiku mengerti<br />
bahwa menjadi seekor anjing telah membuang-buang waktunya</p>
<p>Dengan mata yang lebih jernih daripada milikku<br />
dia akan tetap menatapku<br />
dengan raut muka tertentu yang hanya dia perlihatkan padaku<br />
semua hal manisnya dan kehidupan kusutnya<br />
selalu berada di dekatku<br />
tak pernah menyusahkanku dan tak pernah meminta apapun</p>
<p>Ah pada ekornya, berapa kali aku termakan cemburu<br />
saat berjalan bersama di bibir pantai<br />
di sepi musim dingin Isla nigra<br />
saat burung-burung musim itu memenuhi angkasa<br />
dan rambutku morat-marit dipermainkan dahsyat gelombang angin<br />
anjing pengembaraku itu akan mendengus-dengus<br />
dengan ekornya yang keemasan berdiri tegak<br />
langgsung menantang semburan muka samudera</p>
<p>Riang, riang, riang<br />
seperti satu-satunya anjing yang tahu mengecam kebahagiaan<br />
tidak ada kata perpisahan untuk anjingku yang telah mati<br />
dan kami, segera atau tidak kapanpun pernah berbaring<br />
sebelah menyebelah</p>
<p>Jadi sekarang dia telah mati dan aku menguburkannya<br />
dan hanya itu, hanya untuk itu dia hadir</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
<p>SONETA II</p>
<p>Kasihku, berapa banyak jalan harus kutempuh untuk mendapatkan ciuman,<br />
berapa kali aku tersesat kesepian sebelum menemukanmu!<br />
Kereta kini melaju menembus hujan tanpa diriku.<br />
Di Taltal musim semi belum kunjung tiba.</p>
<p>Tapi aku dan engkau, kasihku, kita bersama-sama,<br />
bersama dari pakaian hingga tulang,<br />
bersama di musim gugur, di air kita, di pinggul,<br />
hingga akhirnya hanya engkau, hanya daku, kita berdua.</p>
<p>Bayangkan betapa semua bebatuan itu diangkut sungai,<br />
mengalir dari mulut sungai Boroa;<br />
bayangkan, betapa bebatuan itu dipisahkan oleh kereta dan bangsa</p>
<p>Kita harus saling mencinta,<br />
sementara yang lainnya semua kacau, laki-laki maupun perempuan,<br />
dan bumi yang menghidupkan bunya anyelir.</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
<p>DONGENG PUTRI DUYUNG DAN PEMABUK</p>
<p>Semua laki-laki itu berada di dalam ruangan<br />
saat dia masuk bertelanjang<br />
Mereka semua telah mabuk: mereka mulai menyibak<br />
baru-baru ini dia muncul dari bibir sungai tanpa tahu apapun<br />
Seekor putri duyung yang tersesat jalan</p>
<p>Dari kilatan tubuhnya celaan segera meluap<br />
kecabulan basah kuyup di payudaranya yang keemasan<br />
ia tidak mengenal airmata jadi ia tak pernah mengusap air mata<br />
ia tidak mengenal pakaian dia tak memilikinya<br />
mereka menyelimutinya dengan sumbat-sumbat gabus hangus<br />
dan puntung-puntung rokok<br />
digelindingkan beriring derai tawa di lantai kedai</p>
<p>Dia sama sekali tidak berbicara, karena dia tak mengenal kata<br />
matanya adalah warna cinta yang asing dingin<br />
bibirnya bergerak, sunyi, dalam cahaya batu karang<br />
dan tiba-tiba dia pergi keluar melalui pintu di sana<br />
masuk ke dalam sungai yang menyucikannya<br />
bersinar seperti pualam di musim hujan<br />
tanpa menoleh dia terus berenang<br />
berenang keketiadaan, menuju maut</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
<p>KUTU ITU BEGITU MENARIK PERHATIAN</p>
<p>Kutu itu begitu menarik perhatian<br />
maka kubiarkan ia menggigitku berjam-jam<br />
mereka begitu sempurna, purba, sanskrit<br />
mesin yang setuju untuk tidak pernah memohon terlebih dahulu</p>
<p>Mereka tidak menggigit untuk makan<br />
mereka hanya menggigit sebagailompatan<br />
mereka bak penari-penari ruang angkasa dengan<br />
akrobat-akrobat halus sebuah sirkus paling lembut nan dalam<br />
kubiarkan mereka mencongklang di kulit<br />
merembeskan semua rahasia perasaannya<br />
menghibur diri sendiri dengan darahku</p>
<p>Ah, seseorang harusnya mengenalkannya padaku<br />
aku ingin mengenalnya lebih intim<br />
aku ingin mengetahui apa yang dipercayainya</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
<p>KUCANDUI MULUTMU, SUARAMU, RAMBUTMU</p>
<p>jangan pernah pergi jauh, meski hanya untuk sehari<br />
jangan pernah pergi jauh, meski hanya untuk sehari<br />
karena, karena aku tak tahu bagaimana mengucapkannya:<br />
sehari adalah waktu yang begitu lama<br />
dan aku akan menunggumu di stasiun yang melompong ini<br />
ketika kereta-kereta tak lagi singgah disini, tertidur</p>
<p>jangan tinggalkan aku, meski hanya satu jam, karena<br />
sejak itu, tetes-tetes kecil kesedihan akan berpacu bersama<br />
asap yang mengembara mencari rumah terseret hanyut<br />
dalam diriku, mencekik hatiku yang sekarat</p>
<p>ah, barangkali siluetmu tak pernah larut di pantai<br />
barangkali kelopak matamu tidak pernah berdenyar<br />
di bentang jarak yang hampa<br />
jangan pernah tinggalkan aku sedetikpun sayang<br />
karena jika terjadi, kau akan terlanjur begitu jauh</p>
<p>aku akan mengembara, melantur di seluruh penjuru bumi<br />
bertanya-tanya apakah kau akan kembali?<br />
apakah kau akan meninggalkanku disini meregang mati?</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
<p>TAWAMU</p>
<p>ambil saja nafas ini dariku, jika kamu memohon,<br />
ambil juga udara ini, tapi<br />
jangann ambil dariku tawamu</p>
<p>jangan ambil mawar<br />
kembang tombak yang kau tusukkan lalu kau cerabut<br />
hingga tiba-tiba air meluap-luap bahagia tanpa henti<br />
gelombang tiban yang melahirkan perak dalam dirimu</p>
<p>perjuanganku sungguh kasar dan aku kembali<br />
dengan mata lelah<br />
sejak mula melihat dunia yang tak berubah<br />
tapi ketika tawamu lahir<br />
tawa itu melontar ke angkasa dan segera mencariku<br />
dan membuka seluruh pintu-pintu hidupku</p>
<p>sayangku, dalam masa paling gelap<br />
tawamu hadir, dan tiba-tiba<br />
lihatlah darahku luntur mengotori batu-batu jalan<br />
tertawa, karena tawamu digenggamanku<br />
akan menjelma serupa pedang yang baru ditempa</p>
<p>di bahu laut musim gugur<br />
tawamu pasti menegakkan bebuih jeram<br />
dan di musim semi, sayangku<br />
tawamu seperti bunga yang kutunggu-tunggu<br />
bunga biru, mawar yang menggema di seantero penjuru</p>
<p>tawa yang tersangkut di malam<br />
pada hari, pada bulan,<br />
tawa yang berpantul-pantul di jalan-jalan di pulau ini<br />
tawa pada bocah ceroboh yang mencintaimu<br />
tawa berkelebat saat aku memejam dan membuka mata<br />
tawa ketika langkahku maju, ketika langkahku surut<br />
mengingkari tarikan nafas, udara, sinar, semi, tapi<br />
jangan pernah ambil tawamu<br />
atau aku akan binasa</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
<p>TERSESAT DI HUTAN</p>
<p>Tersesat du hutan, kupatahkan reranting gelap dahan<br />
yang meruapkan bisikan-bisikan di bibirku yang dahaga<br />
mungkin itu suara tangisan hujan<br />
pecah genta atau hati yang terajam kelam</p>
<p>Sesuatu yang terindera berasal dari langkah yang jauh<br />
dalam dan rahasia, tersembunyi di dalam bumi<br />
seperti teriakan yang teredam oleh gunungan musim gugur<br />
oleh lembab dan kibas setengah terbuka kegelapan dedaun<br />
terbangun dari mimpi hutan disana, kabut<br />
bernyanyi di bawah lidahku, menghanyut wewangian<br />
meruyap naik di alam bawah sadarku</p>
<p>Saat telah kutinggalkan di belakang, tiba-tiba akar-akar<br />
menangis padaku, tanah yang telah hilang  bersama masa kanak-kanakku<br />
dan aku berhenti, terluka oleh harum pengembaraan</p>
<p>(Pablo Neruda)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=46&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/03/12/mencicip-puisi-puisi-pablo-neruda-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepenggal Kisah Sastrawan Eksil</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/01/07/sepenggal-kisah-sastrawan-eksil/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/01/07/sepenggal-kisah-sastrawan-eksil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 00:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[agam wispi]]></category>
		<category><![CDATA[penyair mencari sarang]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra eksil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Berderet nama-nama sastrawan kita yang pernah bermukim di luar negeri, seperti: Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Idrus, Taufik Ismail, Budi Darma, M. Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Aoh K. Hadimadja, Ajip Rosidi, Wing Kardjo, Utuy Tatang Sontany, Sori Siregar, Suripan Sadi Hutomo, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum  Bachri, Toety Heraty, Marianne Katoppo, Rayani Sriwidodo, Eka Budianta, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=43&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Berderet nama-nama sastrawan kita yang pernah bermukim di luar negeri, seperti: Achdiat K. Mihardja, Siti Nuraini, Idrus, Taufik Ismail, Budi Darma, M. Fudoli Zaini, Satyagraha Hoerip, Aoh K. Hadimadja, Ajip Rosidi, Wing Kardjo, Utuy Tatang Sontany, Sori Siregar, Suripan Sadi Hutomo, Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum  Bachri, Toety Heraty, Marianne Katoppo, Rayani Sriwidodo, Eka Budianta, Saut Situmorang, Herlino Soleman, dll. Umumnya dalam rangka study atau mengemban tugas tertentu dan segera pulang setelah tugas selesai.</p>
<p>Tapi kita juga mengenal nama-nama lain yang bermukim di luar negeri, seperti: A. Kembara, A. Kobar Ibrahim, Alan Hageland, Agam Wispi, Asahan Alham, Chalik Hamid, Hersri Setiawan, Kuslan Budiman, Magusing o. Bungai, Mawie Ananta Jonie, Nurdiana setyadarma, Sobron Aidit, Soeprijadi Tomodihardjo, dan Z. afif. Nama-nama sastrawan yang bermukim di luar negeri tanpa mengenal kata &#8220;pulang&#8221;, sastrawan pelarian. Eksil.<span id="more-43"></span></p>
<p>Pulang<br />
-catatan seorang penyair Indonesia di pengasingan</p>
<p>dimana kau pohonku hijau<br />
disini aku sudah jadi batu<br />
hai perantau darimana kau<br />
dari mana saja aku mau melekat jadi debu<br />
di karet, di karet katamu<br />
wahai chairil apa kau masih disitu<br />
atau lenyap dipasok batu<br />
atau senyap sebelum tahun 2000</p>
<p>ya Banda mengena juga yang kau bilang<br />
tak seorang berniat pulang<br />
pulang? kemana harus pulang<br />
si burung samudera tanpa sarang<br />
bangga aku teringat Sujoyono berani menuding<br />
dan bilang untung aku bukan anjing<br />
ini juga modernisasi globalisasi<br />
kata-kata jadi kering kebudayaan baru<br />
dari bawah sampai atas<br />
tukang peras atau maling</p>
<p>puisi hanya kaulah lagi tempatku pulang<br />
puisi hanya kaulah pacarku terbang<br />
puisi generasi baru yang bijak bestari menerjang<br />
keras bagai granit cintanya bagai laut menggelombang</p>
<p>dimana kau pohonku hijau dalam puisimu wahai perantau<br />
dalam cintamu jauh di pulau</p>
<p>Sajak di atas ditulis oleh Agam Wispi saat ia mengunjungi Indonesia pada tahun 1996. Kunjungan pertama kalinya sejak 1965. Sajak yang mengungkapkan arti pulang bagi sastrawan yang telah lama meninggalkan tanah air. Ia melawat ke Medan dan Jakarta mengunjungi sanak saudara dan menemui sastrawan-sastrawan muda Indonesia.</p>
<p>Mata puisinya pun cepat membidik kehidupan-kehidupan di tanah air yang cuma beberapa hari diinjaknya. Simaklah sajak &#8220;Kabaret&#8221; berikut:</p>
<p>Kabaret</p>
<p>baru terasa sudah di Jakarta waktu cecak merayap di dinding<br />
menerkam nyamuk gemuk oleh darahku yang kemarin<br />
salut cecak salam untukmu dari Eropa</p>
<p>baru kutahu yang tak berubah di Medan<br />
berak cewok jongkok berdiri lagi sudah kepayahan<br />
karena lutut sudah berkarat di makan kemanjaan<br />
meski begitu kemanapun berjalan tercium harum durian</p>
<p>baru sadar berdiri di pinggir<br />
ketika berdiri di jembatan bendungan hilir<br />
melihat sungai membusuk airnya tak mengalir<br />
manusiaku di sini apakah mereka memang punya tanah air</p>
<p>baru berkenalan dengan pemerasan yang diresmikan<br />
ketika melayang-layang di jalan layang sang kuasa<br />
jaman kuno sudah dimodernisasi kerakusan<br />
tiap roda pedati harus bayar kalau mau lewat gapura</p>
<p>baru terbangkit semangat proklamasi<br />
ketika di mega indonesia ada megawati<br />
perempuan kaulah bunda kemerdekaan yang menderita<br />
melahirkan pejuang dan bandit sama saja</p>
<p>baru terasa ada yang hilang di Jakarta yang kucinta<br />
baru tahu patah tumbuh hilang berganti<br />
melihat generasi baru menempuh jalannya sendiri</p>
<p>Agam Wispi lahir di Pangkalan Susu, Sumatera utara 1930. Tumbuh dan sekolah di Medan. Ayahnya memimpin kelompok tonil Gezaksa, rombongan sandiwara yang terkenal di Medan pada masa sebelum perang. Disinilah agam mulai mengenal sastra.</p>
<p>Saat di perkebunan teh, Bahbirong Ulu, sajak pertamanya, &#8220;Merdeka Bernoda&#8221; lahir. Sajak itu kemudian dimuat di Harian Rakyat Medan. Rupanya sajak itulah awal yang menentukan jalan hidupnya. Saat ke Medan ia melamar kerja sebagai wartawan di Harian Kerakyatan dan diterima karena sajaknya pernah dimuat di sana.</p>
<p>Sebagai wartawan di medan, melalui tokoh Bakrie Siregar, Agam berkenalan dengan ide-ide progresif dari organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Ia kemudian menjadi anggota, bahkan pengurus pusat Lekra sejak 1959. Sejak itu ia menulis puisi berdasarkan ide-ide progresif organisasi itu.</p>
<p>Ia berkesimpulan bahwa puisi yang baik adalah sederhana bukan kata-kata yang sulit. Ia mengkritik puisi-puisi yang suka mengabstrakkan. Karya-karyanya adalah &#8220;Revolusi&#8221;, &#8220;Gadis Luar Kota&#8221;, Dera ddan Deru&#8221; (1957), Kumpulan puisi &#8220;Sahabat&#8221; (1958), dan juga terserak dalam kumpulan puisi Lekra &#8220;Dinasti 650 Juta&#8221; (1961) dan &#8220;Yang Tak Terbungkamkan&#8221; (1964).</p>
<p>Jalan hidupnya lagi-lagi ditentukan oleh sajaknya ketika ia menulis sebuah sajak di Harian Rakyat mengenai pertempuran di vietnam dan kemudian diterjemahkan dan dimuat pula di majalah sastra di Vietnam. Hal itu membuatnya diundang oleh Ho Chi Min ke Vietnam. Perjalanan bersejarah karena sejak kepergiannya tersebut ia tak pernah pulang kembali ke Indonesia.</p>
<p>Di sana ia sempat melakukan perjalanan selama empat bulan dipelosok Vietnam di mana tak seorang asing pun boleh masuk. Ia juga bertemu Ho Chi Min dan berwawancara di istana negara selama tiga jam. Saat berwawancara itulah Ho Chi Min mengungkapkan bahwa ia hanya mau menemuinya karena statusnya sebagai penyair bukan sebagai wartawan.</p>
<p>Dari Vietnam ia kemudian diundang ke Peking untuk menghadiri perayaan 1 Oktober. Di Tiannanment ia bertemu dengan orang-orang Lekra Indonesia dan tepat jam 10 ia mendapat kabar mengenai peristiwa berdarah yang terjadi di Indonesia malam sebelumnya.</p>
<p>Terjebaklah ia di China, ia terkurung dalam kamp di Nanking selama lima tahun. Sejak itu ia hidup dalam pengasingan di Cina, Jerman, dan Belanda. Melalui sajjaknya &#8220;Penyair Mencari Sarang&#8221; tampaklah kata hatinya menjadi manusia yang tak bertanah air.</p>
<p>Penyair Mencari Sarang</p>
<p>penyair mencari sarang ditepi kanal amsterdam<br />
camar melayang meningglkan sarang digelisahkan air tenang<br />
penyair dan camar sama-sama dikejar gelisah senja usia<br />
penyair sarangmu adalah kata<br />
camar gelisahmu matahari senja<br />
terpaut perahu puisiku di kanal Belanda</p>
<p>mari reguk habis segelas bir<br />
sebelum kata terakhir untuk berpisah<br />
pulang ke rumah kubasuh muka<br />
dan bersibak lalu menulis sajak</p>
<p>Ia tidak mengeluh tentang pengasingan dilihat dari kepentingan sastra karena banyak sastrawan-sastrawan di Indonesia sendiri yang tidak mendapat perhatian penguasa. Ia tetap menulis puisi dalam bahasa Indonesia walaupun lama tidak bersentuhan dengan bahasa Indonesia sendiri. Dalam pengasingan ia menghasilkan kumpulan puisi &#8220;Exile&#8221;, &#8220;Orang-Orang yang Dilupakan&#8221;, dan &#8220;Kronologi in Memoriam&#8221;.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=43&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2009/01/07/sepenggal-kisah-sastrawan-eksil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KLA Untuk Jantung Lebah Ratu</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/11/20/kla-untuk-jantung-lebah-ratu/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/11/20/kla-untuk-jantung-lebah-ratu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 01:18:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[woro-woro]]></category>
		<category><![CDATA[jantung lebah ratu]]></category>
		<category><![CDATA[nirwan dewanto]]></category>
		<category><![CDATA[sastra khatulistiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Kamis malam, tanggal 13 November di Atrium Plasa Senayan Jakarta, &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221; milik Nirwan Dewanto dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk Kategori Puisi. Menurut Hamsad Rangkuti &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221; mewakili spirit sastra yang serius dan matang. Pernyataan tersebut sekaligus kritik terhadap banyak bermunculannya penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=35&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kamis malam, tanggal 13 November di Atrium Plasa Senayan Jakarta, &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221; milik Nirwan Dewanto dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk Kategori Puisi. Menurut Hamsad Rangkuti &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221; mewakili spirit sastra yang serius dan matang. Pernyataan tersebut sekaligus kritik terhadap banyak bermunculannya penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat kata-kata dan mementahkan gagasan yang bernas dan sublimasi bahasa sebagai hal terpenting. Tapi apa semua setuju dengan pernyataan tersebut? <span id="more-35"></span></p>
<p>Sebelumnya, saat mulai terbit, banyak serangkaian komentar mengenai &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221;. Dan bila dibaca, memang sebagian merupakan kritik pedas terhadap karya Nirwan. Kita bisa membacanya dari blog penyair OOk Nugroho dan Hasan Aspahani. Yang disebut terakhir ini bahkan membuat esei bersambung bertajuk &#8220;Tiga Belas Cara Saya Membaca Sajak Nirwan&#8221;</p>
<p>Rupa-rupa kritik dari Hasan Aspahani diantaranya adalah bagaimana ia menyoal kata yang kerap muncul dalam &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221;. Baginya amat menarik bila bisa menemukan satu dua kata yang pada satu kurun waktu tertentu digemari oleh seorang penyair dan dipakai dari sajak ke sajak. Kata yang menjadi lain penampilannya di dalam sajak, dibandingkan dengan kehadirannya di luar sajak atau di sajak dari penyair lain. Seperti Joko Pinurbo menghadirkan kata &#8220;kuburan&#8221;, &#8220;ranjang&#8221;, &#8220;kamar mandi, dan tentu saja &#8220;celana&#8221;.</p>
<p>Ia menemukan dua kata (dan sinonimnya) yang bersama-sama muncul tak kurang dari 35 kali, yaitu kata &#8220;jantung&#8221; dan &#8220;payudara&#8221; (bersama &#8220;susu&#8221; dan &#8220;dada&#8221;). Dalam pengamatannya kata &#8220;jantung&#8221; dan &#8220;payudara&#8221;, juga kata-kata lain, terlalu sering hanya dihadirkan sebagai mana adanya. Tidak ada peluang untuk memberi makna lain pada kata-kata itu. Beda dengan Jokpin. Jokpin amat suka dan berhasil mempersonifikasikan benda-benda mati. Jika dibandingkan dengan Afrizal Malna? Menurutnya, Nirwan juga tak sehebat Afrizal, persajakan Afrizal dijalankan seakan-akan dengan sebuah sistem yang di rancang khas, sistem yang mapan dan kemudian kata apapun atau tema apapun yang hendak ia sajakkan akan tunduk pada sistem persajakannya itu.</p>
<p>Menurut Hasan Aspahani, Nirwan mengandalkan sajak-sajaknya pada kekuatan komposisi kalimat. Ia seorang yang memerhatikan arsitektur, dan ketika menata ruang-ruang di dalam sajaknya gairahnya berkurang. Ibarat kata, dia sudah berhasil membangun gedung yang arsitekturnya kompleks, berliku-liku. Dia merasa tidak lagi harus terlalu cerewet menata pencahayaan di ruang-ruang bangunan itu, dia tidak lagi ingin menggantungkan satu dua lukisan di dinding-dinding dalam gedungnya. Atau meletakkan pot bunga di beberapa sudut ruangan sajaknya.</p>
<p>Atau baginya, desain interior itu adalah bagian yang terpisahkan dari arsitektur, maka detail ruang sajak-sajaknya selesai tertata ketika komponen pokok bangunan dibangun. Ibaratnya, gedung-gedung persajakannya itu memang sah selesai. Pemborong teken laporan, dan dapat bayaran. Tak ada lagi dinding yang dibiarkan menampakkan bata telanjang. Megah. Mewah. Tetapi pintunya yang gagah itu tampak selalu tertutup. Ditambah lagi, tak ada jalan ke pintunya, apakah orang yang lalu lalang di jalan depan rumah itu akan tertarik untuk singgah dan masuk? Mungkin dia akan bilang, &#8220;ah buat apa menerima para tamu buta?&#8221;</p>
<p>Begitulah rupa-rupa komentar tentang &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221;. Memang banyak sekali cibiran yang di alamatkan pada Nirwan. Hal ini bermula saat ia mengikuti International Writing Program (IWP) University of Iowa. Nirwan disebut memiliki (bukan telah menerbitkan) satu buku kumpulan esei, satu kumpulan puisi Buku Cacing, dan &#8220;dalam waktu dekat&#8221; akan menerbitkan buku Perenang Buta. Padahal IWP menyebutkan sejumlah persyaratan, antara lain sudah menerbitkan minimal sebuah buku (puisi, novel atau kumpulan cerpen &#8211; kumpulan esei tidak dihitung) atau setara dengan sejumlah karya yang terbit media lain (jurnal, majalah, dan antologi &#8211; surat kabar tidak disebutkan). Berbekal sebuah kumpulan esei, manuskrip yang belum terbit, serta sebuah rencana buku, Nirwan mewakili sastrawan Indonesia di Iowa. Itulah kenapa Saut Situmorang menggugat dan mempersoalkan keberangkatannya.</p>
<p>Tentu masih banyak yang lain, tapi cukuplah berbantah-bantah. Kembali ke KLA, Khatulistiwa Literary Award, memang salah satu ajang rutin untuk memberikan apresiasi pada kerja keras dan prestasi dalam dunia kepenulisan sastra di tanah air. Ajang ini dilaksanakan melalui tiga tahap seleksi mencakup karya yang terbit sejak Juli 2007 hingga Juni 2008. Seleksi terakhir dilakukan oleh tim yang digalang Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Remy Sylado, dan Linda Christani.</p>
<p>Ajang ini tidak tanggung-tanggung memberikan suntikan dukungan bagi penulis, untuk kategori buku prosa terbaik dan buku puisi terbaik, masing-masing mendapat hadiah uang 100 juta rupiah. Sedang untuk kategori prnulis muda berbakat mendapatkan 25 juta rupiah. Bersama &#8220;Jantung Lebah Ratu&#8221;, juga dinobatkan Novel &#8220;Bilangan Fu&#8221; milik Ayu Utami untuk Kategori Prosa, dan &#8220;Cari Aku di Canti&#8221; karya Wa Ode Wulan Ratna, untuk Kategori Penulis Muda Berbakat. Ayu Utami, novelis yang terkenal melalui novel dwilogi &#8220;Saman&#8221; dan &#8220;Larung&#8221;, mendapatkan catatan sebagai orang yang turut mengembangkan kehidupan sastra tanah air dengan basis penelitian yang kuat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=35&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/11/20/kla-untuk-jantung-lebah-ratu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Golf Untuk Rakyat</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/10/23/golf-untuk-rakyat/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/10/23/golf-untuk-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 01:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[essay]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[profil]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Darmanto Jatman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. Sudah pernah main golf belum? Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.


Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=29&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;"><span lang="sv-SE">Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. </span>Sudah pernah main golf belum? <span lang="sv-SE">Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri Kanuragan bilang, golf pertanda masyarakat kita sudah lebih sejahtera.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang untuk menyejahterakan dua ratus juta rakyat, berapa tumbal mesti dikorbankan untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan. Gusti kami tunggu dawuh paduka.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Sementara Menteri Pagupon pesan, &#8220;Silahkan bikin padang golf mister, asal jangan gusur rumah rakyat.&#8221; Dan Menteri Besar Jogoboyo wanti-wanti, &#8220;Silahkan bikin padang golf Sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman.&#8221;</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE"><span id="more-29"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Begitulah secuplik sajak Golf Untuk Rakyat yang ditulis oleh Darmanto Jatman. Sajak adalah ungkapan personal, satu ekspresi individual penyair, namun sebagian besar sajak Darmanto Jatman bukanlah semata ungkapan personal, ia cenderung menggunakan bentuk puisi sebagai kendaraan untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya terhadap masalah-masalah sosial.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="sv-SE">Sajak ”Golf Untuk Rakyat” ini pernah dilarang untuk di baca. Saat itu Darmanto Jatman diundang oleh Linus Suryadi dkk untuk turut dalam acara pembacaan sajak di Purna Budaya, Bulak Sumur Jogja. Beberapa polisi datang dan mereka menyatakan bahwa sajak itu dilarang untuk dibaca karena suasana di Jogja saat itu sedang kritis karena ada pembangunan lapangan golf yang kemudian di demonstrasi oleh masyrakat karena membuat beberapa orang termajinalisasi dan tersengsarakan akibat penggusuran-penggusuran.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="sv-SE">Darmanto Jatman dilahirkan di Jakarta 16 Agustus 1942 dari sebuah keluarga priyayi Jawa Jogya. Keluarga, baik dari garis keturunan Ayah maupun Ibu semua tinggal di Jogja. Namun karena keduanya harus sekolah dan bekerja di Jakarta, hingga akhirnya menikah di Jakarta pula, maka lahirlah Darmanto Jatman di sana.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="sv-SE">Darmanto Jatman sudah menulis puisi sejak di bangku SMA dan kemudian mengirimkannya dan dimuat di beberapa media. </span>Pada tahun 60-an puisi-puisinya mulai dimuat di majalah kebudayaan Basis dan Horison. Sejak itu kepenyairannya mulai dikenal luas. Sekalipun sudah dikenal sebagai penyair, Darmanto malah menempuh pendidikann tingginya di bidang psikologi Universitas Gajah Mada.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">Ia merasa untuk jadi penulis bekal yang terpenting adalah pemahaman tentang manusia, maka ia memilih psikologi dengan harapan bisa mengetahui atau lebih memahami manusia dengan psikologi. Tapi kemudian, setelah hampir menjadi sarjana,ia malah menyadari bahwa psikologi yang dipelajarinya itu malah menjauhkannya dari manusia, tidak membuatnya mengerti tentang manusia.</p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="sv-SE">Ia malah merasa psikologi membuat manusia seperti Cadaver, manusia dianalisis, tidak membuat empati atau simpati pada orang yang harusnya  dimuliakan. Padahal dalam bersastra ia merasa harus memahami manusia seperti yang ia cintai, seperti yang ia hormati, seperti yang ia kenal, seperti yang ia gauli.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;"><span lang="sv-SE">Antara tahun 1972-1973, Darmanto Jatman sempat tinggal di Hawai. Ini pertama kalinya ia berkesempatan tinggal di luar negeri. Disinilah penyair ini mengalami kejutan budaya di luar kejawaan yang kemudian tercermin dalam puisi-puisinya. Pengalaman memakai bahasa selain bahasa Ibu rupanya menggugat bangunan kesadaran berbahasanya. Ia merasa tidak dapat menyamakan pengalaman-pengalaman berbahasa Jawa dengan bahasa lain. Pengalaman otentik dalam bahasa tertentu menurutnya harus diutarakan menurut bahasa itu, tidak perlu mencari padanannya dalam bahasa lain.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Darmanto Jatman merupakan salah satu penyair yang mencoba menggunakan pandangan hidup orang Jawa dalam upaya menyampaikan tema modern. Pandangan hidup yang tidak selalu digarisbawahi, tapi kadang-kadang juga dijegalnya, ditekuknya, sehingga menjadi sangat menarik. Ia terampil memainkan ironi dengan menggunakan metafor-metafor, ungkapan-ungkapan, atau tamsil-tamsil dari banyak kebudayaan, terutama Jawa untuk menyampaikan sesuatu yang khas.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Selain Hawai, Darmanto juga pernah tinggal di London pada tahun 1977-1978 untuk belajar sosiologi. Di sanalah beberapa sajaknya yang terkenal ditulis, seperti sajak Isteri, Anak, Rumah, dan Marto Klungsu dari Leiden. Simaklah nukilan puisinya, Bahwa Aku Merasa Tua yang berakar kuat dari kemampuannya memahami manusia dengan segala empati dan simpatinya.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Bahwa Aku Merasa Tua</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Sekarang bahwa aku merasa tua, gemetar tanganku menyentuh bibirmu isteri yang tua, bijak dan setia. Tak ada lagi asmara untuk kita bagi berdua. Hanya tingagal angan-angan menetes pada kedua telapak tangan kita.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Ah, ah, ah, Sekarang bahwa aku merasa tua, aku tahu ada batas waktu bagi kita, ada batas kalori jatah kita yang kita bakar habis sia-sia, waktu kau purik dan aku berzina, sebab bukankah bunga-bunga tulip yang mekar di luar tak bermaksud menyuramkan ayesin yang kupelihara dalam kamar, tapi kenapa tanganku mesti gemetar, mengusap wajahmu yang makin tua, yang sungguh mati bukan urusanku</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">dan sekarang bahwa aku merasa tua, kenapa terus juga aku nyinyir bertanya-tanya, sementara jawabnya dulu telah lama kau berikan, waktu kau bersimpuh di kakiku yang lumpuh oleh beribu perkara</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Ya, ya, kita memang pernah muda</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Begitulah Darmanto dan perjalanan panjang kepenyairannya. Pada tahun 2002 Darmanto Jatman menerima penghargaan SEA Write Award.  Tulisan-tulisan sajaknya sudah di kumpulkan dalam beberapa buku, seperti Sang Darmanto, Bangsat, Ki Blakasuta Bla Bla, Golf Untuk Rakyat, Isteri, Ditunggui Naga, dan Kumpulan Sajak-Sajak Lengkap: Sorry Gusti.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">Di masa menjelang pensiun dari menyair, bersama beberapa rekan ia mendirikan departemen psikologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Diponegoro dan menjadi pengajar di sana. Sebagai akademisi ia juga menelurkan buku-buku, diantaranya buku Psikologi Jawa, sebuah karya yang membahas teori-teori mengenai cara memahami manusia dalam konteks kebudayaan. Jatman. Psikologi yang ia kembangkan adalah psikologi yang memahami orang, mencintai orang, yang memuliakan orang, dengan empati dan simpatinya. Psikologi yang melatih untuk memahami orang lain.</p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
<p style="margin-bottom:0;" lang="sv-SE">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=29&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/10/23/golf-untuk-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hegemoni Puisi Liris di Indonesia</title>
		<link>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/25/hegemoni-puisi-liris-di-indonesia/</link>
		<comments>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/25/hegemoni-puisi-liris-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 09:40:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mochammad Asrori</dc:creator>
				<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kedaipuisi.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.
Sapardi Djoko Damono, yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=22&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a name="DDE_LINK"></a>Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.<span id="more-22"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;">Sapardi Djoko Damono, yang dikenal sebagai penyair pengusung lirisisme mengakui bahwa puisi liris timbul sejalan dengan kuatnya tradisi lisan di tanah air. Ketika sedang berbicara soal puisi, sebenarnya tidak akan berpaling dari membicarakan persoalan bunyi, yakni rima, tata kata, dan irama. Rima yang terdapat dalam puisi liris, kata Sapardi, adalah langkah untuk memudahkan orang melakukan pemenggalan terhadap penulisan dan pembacaan.</p>
<p>Sapardi tergolong dalam kelompok pengusung tradisi puisi liris bersama sejumlah tokoh, seperti Abdullah Abdul Kadir Munsyi, Sanusi Pane, Goenawan Muhammad, Acep Zamzam Noer, Ramadhan K.H., dan Sitor Situmorang. Sementara itu, kelompok pencipta arus alternatif diisi oleh Chairil Anwar, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, hingga Afrizal Malna. Tapi lambat laun, kelompok terakhir ini juga kembali ke bentuk liris, seperti Chairil, Rendra, dan Remy Silado.</p>
<p>Dalam diskusi &#8220;Imperium Puisi Liris&#8221; di Bentara Budaya Jakarta, bulan Maret lalu, Afrizal Malna mengatakan lirisisme bukanlah hal mutlak dalam menciptakan karya puisi. Afrizal, yang terkenal dengan gaya sastra materialisnya, menilai puisi liris telah menjadi imperium dalam dunia kesusastraan Indonesia. &#8220;Seakan-akan penyair harus lewat lirisisme,&#8221; kata Afrizal.</p>
<p>Pendapat Afrizal ini bertolak dari pengamatannya terhadap perkembangan sejarah budaya masyarakat. Ia menuturkan, bahwa konteks perkembangan puisi liris dalam budaya lisan Indonesia bersumber dari hasil persentuhan dengan berbagai budaya luar lainnya. Persentuhan ini lambat laun membuat bahasa liris digunakan penguasa untuk menancapkan kukunya sebagai satu-satunya media yang memiliki nilai estetika. Ia menambahkan, ”Kekuasaan kolonial memakai lirisisme dengan mendirikan Balai Pustaka untuk melestarikannya.”</p>
<p>Bagi pengamat sastra, Kris Budiman, lirisisme merupakan sistem ideologi yang hegemonik dalam dunia sastra, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Dominasi puisi liris di Indonesia, kata dia, sudah bermula sejak Rustam Effendi dan Muhammad Yamin. &#8220;Warisan ideologi romantika pada puisi liris tidak hanya pada nyanyian, tapi juga pada proses produksi,&#8221; dia menambahkan.</p>
<p>Menurut Kris, diperlukan sebuah studi teks yang komprehensif mengenai kesusastraan Indonesia sejak zaman Majapahit. Perlawanan oleh kelompok alternatif, kata Kris, tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Pertentangan seperti itu, ujarnya, merupakan sesuatu yang kontinu atau memang selalu ada dan menghiasi dunia sastra. Hal ini merupakan kecenderungan penyair untuk tunduk pada konvensi puisi yang sudah diinternalkan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/kedaipuisi.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/kedaipuisi.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=kedaipuisi.wordpress.com&blog=2294918&post=22&subd=kedaipuisi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kedaipuisi.wordpress.com/2008/04/25/hegemoni-puisi-liris-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05658d4b85129d4bc6799b13b47d0fd6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rori</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>