jump to navigation

Anak Jalanan dan Perambah Berlentera Kaca Desember 4, 2007

Posted by Mochammad Asrori in dunia, essay, puisi.
trackback

Kata rimba identik dengan segala hal yang rimbun, terus tumbuh, dinamis, dengan keteraturan yang tidak teratur, penuh tantangan. Jadilah ketika mengatakan “hutan rimba” kita langsung mendeskripsikan daerah penuh nuansa hijau, alami, dan kesegaran; disertai dengan suasana penuh misteri, wingit, gelap, berbahaya, penuh ancaman. Gambaran sama muncul juga ketika menyebut “rimba metropolis”, daerah yang rimbun iklim perekonomian, namun penuh juga intrik demi sekadar kata survive. Jadilah yang paling lemah akan menemui binasa. Coba tebak siapa yang terlemah di kondisi seperti ini? Anak-anak? Yah! Tepatnya anak-anak yang tidak memiliki perlindungan dari siapapun: Anak-anak jalanan. Mereka membutuhkan perambah berlentera kaca.

Awalnya dari sepenggal puisi ini:

Perambah berlentera kaca/berparang dalam sarung pratyaksa hutan/lembab lungkrah/menyadap aroma jelaga langit//“aku bisa mengerti/jika kering dedaunan gugur/tapi bagaimana dengan hijau/daun-daun jatuh itu?”//di balik wastu mata airnya/perambah berlentera kaca/mengalirkan pecahan-pecahan karsa/menggerus luka//

(Perambah Berlentera Kaca, Moch. Asrori)

Perambah berlentera kaca adalah puisi yang bercerita tentang klekhawatiran tentang nasib anak-anak jalanan. Anak-anak ibaratnya rimbun daun-daun hijau, dan sebagai daun tentu ia harus punya tautan dengan ranting, batang, dan akar. Namun itulah masalahnya, anak-anak jalalanan adalah anak-anak tidak memiliki kesemua itu. Masalah anak jalanan telah menjadi masalah serius di Asia. Yang terbesar ada di India. PBB menunjuk ada sekitar 250.000 anak jalanan di Mumbay, dan mengestimasi angka 100.000 anak jalanan di kota New Delhi. Rata-rata anak jalanan ini adalah anak yang kabur dari rumah, namun ada juga yang sengaja dibuang dan ditelantarkan oleh orang tuanya. Mereka menganggap jalanan adalah tempat hidup dan tempat kerja.

Berbagai aktifitas mereka kerjakan untuk menghidupi diri mereka, sebagian bahkan juga melakukan aktifitas untuk menghidupi orang lain. Mereka semua bekerja. Mungkin sebagian besar dari mereka adalah pemulung, tukang semir sepatu, dan menjajakan macam-macam barang, seperti minuman dalam botol, di lalu lintas kota yang sibuk atau di trotoar pejalan kaki. Namun juga ada dari mereka yang berprofesi sebagai pengemis, pengamen, dan bahkan tukang copet. Dalam rimba ini, mereka hidup dalam naungan jelaga langit. Kelam.

Beberapa waktu lalu di India ada gagasan yang mengagumkan dari anak-anak jalanan yang ditangkap oleh sebuah organisasi non-pemerintah, Butterfly, yang terdiri dari para sukarelawan yang mengelola tempat penampungan dan program pendidikan bagi anak-anak jalanan selama lebih dari dua dekade. Gagasan yang selang lima tahun ke depan menjadi sebuah alat manjur untuk menggali potensi positif anak-anak jalanan.

Atas inisiatif sendiri, anak-anak jalanan ini ribuan bergabung bersama menciptakan Children’s Development Bank (CDB), sebuah Bank khusus anak-anak jalanan yang dibuka tahun 2001. Awalnya, CBD terletak di penampungan malam MCD, dekat stasiun kereta api Delhi yang lama. Bank yang dalam bahasa India disebut The Bal Vikas Bank ini buka tiap pukul 6.30 pagi dan selalu sibuk dengan kegiatan pasukan anak-anak jalanan antri menyimpan uang setelah bekerja. Anda dapat menggambarkan Butterfly dengan CDBnya inilah seorang perambah sejati, saya menyebutnya sebagai perambah berlentera kaca seperti puisi di atas.

Mulanya Butterfly berkolaborasi dengan 20 orang anak jalanan memulai bank ini dengan hanya 20 dolar di kotak penyimpanan. Bersama-sama mereka menulis peraturan: Anak laki-laki akan mengelola bank, bunga 3,5%, uang minimum satu rupee, dan uang tidak boleh berasal dari hasil obat-obat terlarang dan mencuri.

Well, lihatlah sekarang. Ada sekitar 1600 anggota di tiga cabang di kota New Delhi, seluruhnya mengumpulkan simpanan sebesar 115.000 rupee, atau 2.830 Dolar. Sekarang bank ini telah memiliki 14 cabang di kota-kota lain di India, bahkan telah merambah ke negara lain. Tiap cabang memiliki waktu buka yang berbeda-beda, tergantung kenyamanan dari anak-anak jalanan yang menjadi anggota di area bank cabang tersebut. Sekarang, total 6.400 anak-anak di India, bangladesh, Afghanistan, dan Nepal telah mengumpulkan simpanan sebesar 1,46 juta rupee, atau 35.928 dolar.

Seperti bank lainnya, CDB memiliki fasilitas pinjaman dan simpanan. Tiap transaksi yang terjadi dicatat dalam buku pass yang dimiliki tiap anggota dan juga pada buku induk bank. Anggota dapat mengambil uang simpanannya jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tak lupa, CDB juga memberikan bunga pada uang simpanan anak-anak jalanan. Bunga tersebut dapat menjadi insentif bagi anak-anak jalanan yang sebelumnya dibelanjakan untuk rokok, permen, nonton film, main game, atau hal-hal lain. CDB juga memberikan pinjaman pada anggotanya yang sudah berusia 15 tahun ke atas, jika ingin membuka sebuah usaha kecil. Dari pembayaran pinjaman mikro ini CDB memiliki uang untuk bunga.

Jangan berpikir bank ini dikelola oleh orang-orangberpengalaman. Satu kelebihan CDB yang tidak seperti bank-bank pada umumnya adalah bahwa bank ini dimiliki dan dikelola oleh anak-anak. CDB memiliki dua manajer anak-anak, dibantu oleh komite yang terdiri dari sembilan orang anak-anak, semua bertanggung jawab mengurus segala urusan setiap hari. Manajer dipilih secara rotasi oleh anggota tiap enam bulan. Suatu pekerjaan yang di dambakan oleh anak-anak jalanan. Manajer memiliki tugas berat. Harus berhati-hati memberikan pinjaman pada anggota, untuk itu ada pengetahuan dan bimbingan langsung dari fasilitator dewasa. Jadi mendapatkan bunga dari uang simpanan pemasukan hanyalah sebagian gambaran dari CDB, ada yang lebih penting; membantu mereka meraih skill kerja yang berharga.

Anak-anak jalanan sangat bertalenta dan memiliki kualitas entepreneur. Namun mereka memiliki satu masalah besar; mereka tidak memiliki tempat menetap. Persoalan inilah yang memicu banyaknya anak-anak jalanan yang ditindas dan rawan menjadi korban kekerasan dan penyimpangan seksual. Mereka tidak dapat menabung karena tidak memiliki tempat yang aman untuk menyimpan uang mereka, karena berdasarkan pengalaman, uang yang mereka sisihkan lebih banyak di curi oleh orang lain.

Uang yang mereka tabungkan di CDB telah memberi aspirasi besar bagi mereka untuk bekerja lebih keras. Jika ditanya, beberapa dengan raut yakin memiliki cita-cita yang sangat tinggi, dan mereka sepenuhnya tahu tantangan yang harus mereka siapkan; uang yang banyak dan belajar dengan keras. Beberapa orang mungkin berargumen, bahwa apapun alasannya anak-anak tidak selayaknya bekerja. Tapi hal itu toh tidak dapat dielakkan, sebagian besar anak-anak ini lari dari kemiskinan di kampung halaman, di mana orangtua sudah tidak mampu menyekolahkan dan menuntut mereka membantu perekonomian. Situasi ekonomi di New Delhi dan kota-kota lain di dunia yang memiliki anak jalanan dengan populasi besar tidak mempunyai alternatif lain seperti yang CDB berikan.

Ditempa oleh kehidupan jalanan, anak-anak jalanan memiliki kecerdasan yang lebih dari kecerdasan anak-anak kelas menengah tentang nilai uang. Tauladan yang bagus bukan? Adakah yang sejenis CDB di Indonesia? Katakanlah Jakarta dan Surabaya? Semoga ada dan akan ada yang memeloporinya. Membantu anak-anak jalanan menemukan ranting, batang dan akar mereka!

STIFORP Indonesia

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: