jump to navigation

Dementia Si Kacamata Pecah Desember 10, 2007

Posted by Mochammad Asrori in dunia, essay, indonesia, puisi.
trackback

Awalnya adalah kebiasaan yang tak kunjung sembuh, saya suka lupa meletakkan di mana kacamata saya selepas istirahat, jadi dalam kondisi mata masih setengah bangun, saya menajamkan mata minus saya dan mencari sekeliling. Hahh, gelap sekali, lalu mulailah saya menggerayang-gerayang; di saku baju, disekitar tangan saya, di sekitar bantal, di balik guling, di sekitar badan, di belakang punggung, di atas bentangan sprei, di atas meja belajar, di dalam laci, uh…, tidak juga saya temukan kacamata saya. Jadilah saya bangkit dari ranjang, dan “kreiuek…” Ada bunyi merdu yang tepat berada di bawah telapak kaki saya. Coba tebak di mana kacamata itu kemudian saya temukan?

Semua berawal dari puisi ini:

kacamataku pecah hari itu/ terdiaspora dalam keping waktu// malam yang lelah tidur/ kuletakkan ia di atas meja/ di samping terakota/ seekor kucing berbulu pelangi datang/ menendangnya jatuh ke lantai/ dan pagi tanpa sadar/ aku menggeliat bangun/ menginjaknya lumat/ di bawah ranjangku yang lindap// (Kacamata Pecah, Moch. Asrori)

        Kata orang ada waktunya bagi daya ingat mengalami surut. Mereka bilang tanda-tanda kepikunan, atau yang lebih manis dementia. Ragam lupa pun ada-ada saja wujudnya, mulai dari sekedar lupa nama seseorang, lupa hari apa dan tanggap berapa, lupa menyisir rambut waktu berangkat beraktifitas, lupa menaruh garam di seduhan teh, lupa menaruh pakaian di kulkas, atau yang lebih parah tiba-tiba lupa sedang berada di mana? Jadilah banyak hal-hal lucu timbul karena masalah ini.

        Jadilah kita kalang kabut menaggulangi masalah lupa ini. Ada yang secara kesehatan langsung mengkonsumsi suplemen atau obat-obat yang menawarkan mampu melawan penyakit lupa, seperti Ginkobiloba, yang bisa melindungi membran sel dan fungsi antar syaraf, atau asam lemak omega-3, asam lemak tak jenuh, yang konon dapat mengatasi kemunduran kognitif termasuk kepikunan. Secara preventif, Kita menyimpan nomor-nomor penting di telepon genggam, kita menandai acara-acara penting di kalender, memasang alarm, menyewa asisten untuk mengingatkan jadwal kita, atau untuk membayar tagihan-tagihan agar tidak kelewat dari temponya. Walaupun banyak juga orang-orang yang menganggap lupa sebagai salah satu berkah paling berharga dari Tuhan untuk manusia, jadi mereka asyik-asyik saja mengalaminya.

        Tapi yang jelas kelupaan saya pada kacamata saya secara harfiah atau tidak adalah satu kenyataan yang ingin saya kemukakan. Menemukan kacamata lumat terinjak kaki sendiri di kolong ranjang adalah contohnya. Saya pernah lupa menaruhnya di bawah bibir ranjang, satu kebiasaan yang saya biasa lakukan ini juga ada versi lain, yaitu kelupaan saya tidur tetap memakai kacamata, atau tidur dengan menggenggam kacamata tanpa meletakkannya di tempat yang aman. jadilah saya pernah menginjak kacamata saya lumat di bibir ranjang ketika bangun tidur, atau mematahkan framenya karena tetap memakainya waktu tidur, atau juga meremasnya di genggaman seiring skenario mimpi yang saya alami. Semua pernah terjadi, dan saya terpaksa bolak-balik ke optik untuk urusan ini.

        Repotnya saya kemudian jadi berpikir selepas menginjak kacamata, betapa saya kadang terlambat menyadari sesuatu. Mungkin di siang hari kita menonjolkan satu pendapat kita pada orang lain dengan beragam argumen dan fakta-fakta penunjang. Saking yakinnya kita jadi mementahkan beberapa kemungkinan yang hadir dari sudut pandang berbeda. Kita berpikir gagasan kita mampu mewadahi keseluruhan ide yang ada. Gak ada cela. Tapi apa ada sesuatu yang tidak bercela? Semua komponen yang tergabung dalam satu sistem pasti menghasilkan efek samping. Katakanlah mekanik bengkel tahu betul keunggulan tiap merk motor sebagai bawaan pabrik, mungkin ada yang bersandar pada kecepatan, keiritan, desain, atau kenyamanan. keinginan pabrik ya mendapatkan segala keunggulan tersebut, tapi ya apa bisa? Dan saat terbangun dari tidur saya menyadarinya, mungkin pikiran jernih memang bisa dihasilkan selepas seluruh beban pikiran kita tanggalkan dalam rutinitas yang kita biasa sebut istirahat, atau tidur.

        Yah semoga saya tidak menginjak kacamata saya tanpa arti. Karena sebagian orang senang sekali mengelabui dan memanfaatkan kepikunan saya, mereka suka menyembunyikan kacamata saya tanpa sebab, suka menaruh kacamata saya yang saya lepas sebentar ke tempat lain dari tempat yang saya ingat terakhir saya meletakkannya. saya berharap, semoga saya mendapatkan kacamata baru yang jauh lebih dapat menampung cakrawala yang terbentang luas ini. Apa bisa? Semoga, maka amin!

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. dusone - Desember 12, 2009

mas, gak bisa diunduh neh….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: