jump to navigation

Mari Nembang untuk si Mungil Januari 8, 2008

Posted by Mochammad Asrori in dunia, geguritan, indonesia, jawa, puisi.
trackback

Seorang ibu muda sedang berjalan sambil menimang-nimang bayinya. Senyumnya seperti kembang merekah di pagi hari, dari bibir si ibu terlontar puji-pujian manis. Ia mengajak bayinya berbicara mengenai apa-apa yang mereka lihat bersama. Tatkala si bayi mulai rewel, sang ibu mencoba mengalihkan perhatian dengan menunjuk dan mengubah topik pembicaraan lain, mulanya tentang bunga-bunga, lalu burung-burung gereja, kemudian kucing yang sedang menjilati ekornya, hingga ayam yang sedang mengais-ngais tanah. Tapi ketika tak kunjung berhasil menenangkan si bayi dalam timangan, ia pun mulai gemas. Aha untung saja ada si nenek yang dengan sigap mengambil alih dan mendendangkan sebuah tembang; tembang dolanan.

Si nenek langsung saja mendendangkan sebuah tembang yang sudah akrab ditelinga kita, tentang merdunya suara seruling, yah apalagi kalau bukan tembang Gambang Suling.

Gambang Suling
Gambang suling kumandhang swarane
Thulat-thulit kepenak unine
Unine mung nrenyuhake
Bareng lan kentrung
Ketipung suling sigrak gambangane

Tembang tersebut memang hanya terdiri dari lima baris, namun hebatnya tanpa iringan instrumen apapun nuansanya sangat kental dan enak didengar. Terbukti, si mungil dengan manifestasi tembang dolanan yang disenandungkan melalui ekspresi hati yang senang dalam timangan si nenek, langsung tersenyum dan lalu terbuai tidur. Tembang bisa diartikan sebagai syair lagu yang tidak lain adalah puisi, sedangkan dolanan berarti permainan. Tembang dolanan atau puisi lagu permainan sudah sejak dahulu menjadi salah satu alat ampuh para orang tua dalam mencurahkan rasa kasih sayangnya pada si buah hati.

Tembang dolanan banyak ragamnya di Jawa. Tembang tersebut tidak diketahui secara pasti masa dan siapa penciptanya. Tembang terebut hadir turun temurun melalui tradisi lisan masyarakat Jawa. Walaupun pada masa ini, beberapa diantara tembang warisan leluhur tersebut dibukukan untuk menjaga kelestariannya agar tidak hilang ditelan arus kemodernan.

Selain Gambang Suling, beberapa tembang dolanan yang sudah sangat akrab ditelinga, antara lain tembang Gundhul Pacul, Menthog-Menthog, dan Sluku-Sluku Bathok. Mungkin untuk nostalgia dan pengenal bagi generasi masa kini, berikut ini petikan tembang-tembang tersebut;

Gundhul Pacul
Gundhul-gundhul pacul-cul, gelelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul glimpang segane dadi saratan
Wakul glimpang segane dadi saratan

Menthog-Menthog
Menthog-menthog tak kandhani
Mung rupamu angisin-isini
Mbok ya aja ngethok ana kandhang wae
Enak-enak ngorok ora nyambut gawe
Menthog-menthog mung lakumu
Megal-megol gawe guyu

Sluku-Sluku Bathok
Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Si rama menyang sala
Leh-olehe payung motha
Pak jenthit lolobah
Wong mati ora obah
Nek Obah medeni bocah
Nek urip nggoleka dhuwit

Walau berwujud tembang dolanan, tidak berarti baris-baris puisi di dalamnya tanpa makna. Justru tembang dolanan tersebut menawarkan satu makna yang dalam mengenai kondisi lingkungan masyarakat yang tumbuh di sekitarnya hingga memuarakan nilai-nilai budi pekerti, sopan santun, lingkungan hidup, terutama kebersihan dan kesehatan, serta kehidupan beragama, walaupun kadang penyampaiannya dengan cara sindiran ataupun kelucuan. Namun tidak dapat dielakkan bahwa secara tersurat maupun tersirat, tembang dolanan sangat kaya akan makna kehidupan.

Dari tembang-tembang dolanan inilah secara sadar ataupun tidak kita telah memperkenalkan rasa keindahan dan kesastraan. Tembang-tembang ini berisi syair yang penuh permainan bahasa, seperti aliterasi, asonansi, rima, dan irama. Misal pada Gambang Suling, dari lima larik, empat larik berakhir dengan bunyi /e/, juga dominannya bunyi nasal /ng/, seperti pada kata gambang, suling, kumandhang, mung, bareng, kentrung, dan ketipung pada larik-lariknya. Bisa dikatakan struktur yang dipilih dalam tembang dolanan secara umum, memperlihatkan pilihan kata, sintaksis, dan pemberdayaan pepindhan (perbandingan), cangkriman (teka-teki), paribasan (peribahasa), wangsalan, serta parikan. Semua dipertimbangkan dengan takaran yang pas mana yang paling memiliki efek yang dapat menyentuh hati pendengar. Kesemuanya merangsang sensitifitas bayi terhadap bunyi-bunyi bahasa hingga pada akhirnya timbul kesadaran akan fungsi dan keajaiban kata.

Dalam tradisi Jawa, ada beberapa jenis puisi, antara lain berwujud tembang macapat, tembang tengahan, dan tembang gedhe. Kesemuanya memberikan aturan yang ketat dalam pilihan kata, karena memiliki pakem yang tidak dapat dilanggar, yaitu jumlah larik tiap lagu/bait (guru gatra), jumlah suku kata tiap larik (guru wilangan), dan bunyi akhir tiap larik (guru lagu). pakem tersebut merupakan satu ukuran keindahan dari tembang, jadi pelanggaran pada pakem dianggap merusak dan kurang nilai keindahannya. Tembang dolanan karena tidak mensyaratkan secara ketat adanya jumlah guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu, tidak masuk dalam kategori di atas. Bisa dikatakan sebagai satu bentuk dari geguritan yang bentuknya bebas.

Bentuk tembang dolanan merupakan wujud yang universal, di Indonesia atau di belahan dunia lain bentuk ini juga ada. Dalam bahasa Indonesia misalnya kita mengenal tembang dolanan yang populer seperti Balonku, Burung Kakaktua, Keplok Ame-Ame, dan Satu-Satu (Aku sayang Ibu). Masing-masing tembang dolanan tersebut memiliki keistimewaan dalam tatanan bunyi bahasa. Misalnya Burung Kakaktua yang seluruh larik bunyinya diakhiri fonem /a/, jumlah suku kata larik pertama dan keduanya sama, larik ke tiga dan ke empat merupakan tiruan bunyi (onomatope) yang berfungsi mengkonkretkan dan memantapkan efek suara yang diperoleh.

Di belahan bumi lain pun, ibu-ibu juga mendendangkan tembang dolanan untuk meninabobokkan anaknya. Tentu saja dengan cara sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Puisi lagu anak-anak di belahan bumi lain dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan istilah nursery rhymes. Salah satu contohnya adalah puisi di bawah ini.

Monday’s Child
Monday’s child is fair of face
Tuesday’s child is full of grace
Wednesday’s child is full of woe
Thursday’s child has far to go
Friday’s child is loving and giving
Saturday’s child work hard for its living
But the child’s that’s born on the sabbath day
Is bonny and bright, and good and gay

Sama halnya dengan tembang dolanan, permainan bunyi untuk memperoleh persajakan sangat intensif, dengan pola a-a-b-b-c-c-d-d, dalam delapan larik, tiap dua larik memiliki persajakan sama. Juga eksploitasi penggunaan pararelisme dalam kata dan dalam larik, yaitu penggunaan fonem /f/. Nursery rhymes yang paling kongkret lahir dari tradisi oral yang turun temurun dengan unsur-unsur permainan bahasa maupun lirik lagu yang kental unsur sense dan nonsense yang memperkaya pengalaman.

Betty Botter Bought Some Butter
Betty Botter bought some butter
But she said ‘the butter bitter’
If I put in my batter
If will make my batter bitter
But a bit of better butter
That would make my batter better
So she baught a bit of butter
better than her bitter butter
And she put it in her batter
And the batter was not bitter
So it was better Betty Botter
bought a bit of better butter

Sebagaimana tembang dolanan, nursery rhymes juga mengandung makna-makna tertentu, hanya saja makna kurang mendapat proporsi kuat. Secara umum nursery rhymes berkaitan dengan binatang, binatang dengan anak, keadaan cuaca, dan beberapa aktivitas tertentu. Faktor utama yang dijadikan kekuatan adalah unsur menghiburnya, atau untuk kepentingan memperoleh kesenangan. Namun adakalanya nursery rhymes tidak berupa puisi lengkap yang bisa disenandungkan, kadang nursery rhymes cuma berupa senandung, pengulangan bunyi-bunyi, irama-irama sederhana yang mendapat penekanan, atau ketukan-ketukan tangan yang berirama.

Begitulah tembang dolanan, atau juga istilah-istilah lainnya dalam bahasa berbeda. Pada masa anak sudah bisa berkomunikasi, biasanya akan dihadirkan oleh orang tua bersama dengan kisah-kisah dongeng atau petualangan yang menarik. Sebagai orang tua tentunya hal ini memberikan kenikmatan tersendiri juga, menghadirkan sesuatu yang benar-benar murni dari kemampuan alamiah sebagai orang tua untuk menghibur sang buah hati, bukannya menjejali dengan kesenangan permainan-permainan yang berbandrol mahal.

Bagaimana Ibu, mari nembang untuk si mungil.

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. artja - Januari 8, 2008

membaca postingan ini, saya jadi rindu masa kecil… hangat dalam dekapan ibunda yang tak pernah berhenti menatap dengan kasihnya. hiks…

2. Rori - Januari 9, 2008

Terima kasih untuk Mas Artja telah turut mengapresiasi tulisan ini. Tulisan ini juga lahir dari rasa kangen yang terngiang-ngiang pada kehangatan masa kecil, ditambah melihat kenyataan yang berkembang pada kehidupan generasi kini yang baru lahir dan tidak mendapat salah satu bentuk porsi kasih sayang seperti yang saya rasakan.

Tapi bukan berarti saya mengatakan mana yang tidak dan seharusnya diberikan, hanya sekedar menyampaikan kesan-kesan yang mungkin bermanfaat untuk membangun karakter positif yang lebih baik pada orantua dan anak-anaknya.

3. Ersis W. Abbas - Januari 9, 2008

Waduh aku bisa berkelana ke masa lalu dengan nyaman. Trims. Sangat inspiratif dan memoratif (?) dinikmati.

4. Rori - Januari 14, 2008

Trims juga, Pak Ersis. Memang tujuannya untuk mengajak berkelana ke masa lalu. Menikmati buaian ibu melalui tembang-tembang dolanan.

5. mama ndith - Januari 31, 2008

saya sbnarnya ngak bs bhs jawa tp krn bpk jawa dan saya ngak mau anak saya ngk bs cara jawa kayak mboknya makanya saya mau ngenalin anak saya lagu2 dolanan jawa yang oke punya….
Jadi tx bangt ya
Btw saya lagi cari teks lagu montor-montor cilik
bisa nbantu???
makasih

6. Kartiko Pramudito - Januari 26, 2009

Kalau bisa keseniannya ditambah dong ya….Tx ya

7. Rori - Januari 29, 2009

Trims Pak Kartiko, saya akan berusaha sesuai harapan Bapak😀

8. yuni - September 7, 2010

maturnuwun pak, kula nggih madosi tembang-tembang jawi kangge lare kula. Menawi wonten liyane maluh, kula nggih purun. nuwun

9. kang janadi - Juni 9, 2011

MATUR NUWUN… KELINGAN MASA CILIKANKU…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: