jump to navigation

Soundscape Hujan Bulan Juni Januari 14, 2008

Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, puisi.
trackback

Sayangnya bulan ini bukan bulan Juni, namun hujan di bulan Januari ini nampaknya menjadi ihwal menarik ketika saya membaca kembali karya-karya bertema hujan dalam Hujan Bulan Juni, kumpulan puisi dari Sapardi Djoko Damono. Di dalamnya termuat 96 puisi yang telah diseleksi dari ratusan puisinya selama periode 1964 hingga 1994. Beberapa puisi di dalamnya telah dibukukan dalam buku kumpulan puisi Mata Pisau, Akuarium, Perahu Kertas, maupun Sihir Hujan. Membaca puisi-puisi Sapardi, saya dibawa ke suasana muram, mistis, penuh tanda tanya, penuh pengakuan, juga kearifan hidup melalui kendara-kendara imajinasinya. Salah satu kendaraan yang mudah dicerna dalam kumpulan puisi ini adalah hujan. Hujan dalam puisi Sapardi menjelma menjadi suatu lanskap ritmik, di mana kita bisa menganalogkan sebagai satu sajian soundscape nan indah. SoundscapeHujan Bulan Juni.

Istilah soundscape berasal dari dua kata, sound (suara, bunyi) dan scape (dari lanscape, pemandangan). Soundscape dapat diartikan sebagai pemandangan yang berupa bunyi atau suara. Istilah ini dimunculkan oleh komponis Kanada, Murray Schafer dalam buku berjudul Ear Cleaning yang membahas pemandangan bunyi dan bagaimana bunyi-bunyi itu mengambil bagian dalam konteks lingkungan. Kiranya seperti itulah yang coba saya hadirkan dalam perbincangan ini. Bagaimana Sapardi mengolah hujan yang merupakan pemandangan keseharian saat musim hujan datang, menjadi soundscape indah. Lanskap hujan menjadi sumber melodrama dan cerita humanitas tanpa batas.

Sapardi tidak sekedar melihat lanskap hujan sebagai butir air yang jatuh, tidak juga sekedar menangkap iramanya, namun seolah ia memberikan hujan sebuah jiwa yang kemudian dapat ia lihat tingkah polahnya. Hujan menjadi sebuah tokoh yang begitu dekat dengan kita. Hujan menjadi seseorang yang begitu kita kenal suaranya (saat mengeja daun-daun bugenvil), menjadi seseorang yang setia pada percintaan (pada tanah), yang tiba-tiba membuat rasa iri, karena tidak ada yang mampu menyapa kita setulus hujan.

Apakah yang kau tangkap dari suara hujan dari/ daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela/ apakah yang kau tangkap dari bau tanah, dari ricik air yang/ turun di selokan// ia membayangkan hubungan gaib tanah dan/ hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan/ yang berulang// “Tak ada. kecuali bayang-bayangmu sendiri yang di balik pintu/ memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa/ pinggir hujan// (Hujan dalam Komposisi 1)

Suara-suara hujan telah membentuk suatu lingkungan, suatu komunitas yang ramai dengan karakter-karakter unik. Sama halnya ketika kita mendengarkan musik, Kita bukanlah semata sedang mendengar suara yang ditimbulkan oleh alat musik atau komposisi sebuah musik, tetapi kita juga mendengar suara-suara yang ada di kepala kita sebelum atau sesudah mendengar komposisi musik. Merujuk pendapat John Cage, tanpa adanya musikpun telinga dapat membuat musiknya sendiri, dalam artian telinga sebagai indera pendengaran dapat menjadi penyaring suara, hingga di dalam kepala kita timbul soundscape, timbul pemandangan dengan lingkungan suara-suara.

Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”// “Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”//(Percakapan Malam Hujan)

Hujan dan lampu taman dalam puisi di atas adalah perkakas-perkakas personifikasi dari Sapardi. Ia lugas menggambarkan pada kita sebuah lanskap audiovisual, di mana hujan menjelma menjadi tokoh antagonis yang dapat di imajikan secara kasat mata: bermantel, bersepatu panjang, dan berpayung. Lagaknya bisa jadi seperti preman yang sedang berkonfrontasi dengan lampu taman untuk menjaga malam. Hujan sebagai tokoh antagonis terlihat bersiasat hadir sebagai penjaga manusia, dan kita serasa di beri wejangan agar selalu memandang asal usul kehadiran, bagaimanapun hujan berasal dari mendung hitam yang berarak-arak, dan sulit menebak apa yang dikehendaki.

Hal tersebut di atas menjadikan puisi-puisi Sapardi menjadi dunia melodrama, dunia yang penuh pembengkokan realita, di mana terlihat penciptaan tokoh yang akhirnya menciptakan konflik. Hujan dalam beberapa puisi Sapardi tampil dengan wajah yang berbeda-beda. Seperti dalam puisi sebelumnya di atas, hujan tampil sebagai karakter yang ramah dan selalu dirindukan kehadirannya, dan hujan juga tampil sebagai karakter tokoh antagonis yang diragukan niat baiknya.

Soundscape berhubungan dengan ekologi di mana masyarakat tinggal, jadi ia dipengaruhi sosial, politik, tradisi, dan budaya yang ada. Soundscape di ekologi kota berbeda dengan sounscape ekologi pegunungan, ekologi urban, atau ekologi masyarakat pantai. Masyarakat kota dalam kesehariannya menghadapi berbagai suara-suara bising dari aktifitas metropolis. Hujan dalam puisi-puisi Sapardi lebih tepat dikatakan bukan mengusung soundscape dari satu lingkungan ekologi, tapi suatu lingkungan budaya humanistis. Puisinya merupakan wujud tekad manusia menciptakan sesuatu yang bernilai baik, menjadi homo humanus, yang mencoba selalu sejalan dengan moral dan tindakan manusiawi. Hujan datang tanpa bisa ditolak oleh siapapun, pagi yang basah hanya sebersit rasa sadar tentang kehadiran hujan.

Mendengar suara alam oleh sebagian tradisi masyarakat dianggap sebagai hubungan yang harmonis antara mikrokosmos dan makrokosmos. Dalam soundscape suara kecil di tengah kesunyian dapat berfungsi secara maksimal dibanding diantara polusi suara lingkungan. Di Cina, Jepang, bahkan Bali, musik atau gamelan dikaitkan dengan dengan apa yang disebut Pengider Duana, arah dunia, bunga, air, senjata, warna, dan berbagai atribut yang memberi ciri khas setiap wilayah kosmos.

Hujan turun semalaman/ paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi;/ mereka tidak mengenal gurindam/ dan peribahasa, tapi menghayati/ adat kita yang purba,/ tahu kapan harus berbuat sesuatu/ agar kita, manusia, merasa bahagia. Mereka/ tidak pernah bisa menguraikan/ hakikat kata-kata mutiara, tapi tahu/ kapan harus berbuat sesuatu, agar kita/ merasa tidak sepenuhnya sia-sia// (Hujan, Jalak, dan Pohon Jambu)

Sebuah musik sebagai soundscape yang serasi dengan suara-suara alam, keserasian antara karya buatan manusia dan buatan alam. dan juga penggambaran alam dalam bentuk musik, Kita dapat merasakan bau bunga persik dari petikan sato, kita dapat membayangkan lenggok penari Bali ketika mendengarkan gamelan kecak, atau kita dapat membayangkan alam pegunungan, suasana agraris, dan kehidupan masyarakat Jawa ketika mendengarkan gamelan Jawa.

Tidak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan juni/ dirahasiakannya titik rindunya/ kepada pohon berbunga itu// tak ada yang lebih bijak/ dari hujan bulan juni/ dihapusnya jejak-jejak kakinya/ yang ragu-ragu di jalan itu// tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan juni/ dibiarkannya yang tak terucapkan/ diserap akar pohon bunga itu// (Hujan Bulan Juni)

Jadi inilah yang dilakukan oleh Sapardi. Ia mencoba menghadirkan hujan dalam tulisan yang dapat di indera kembali oleh pembacanya menjadi sebuah gambaran eksotik di tiap kepala. Gambaran tersebut berbeda-beda antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lain, karena tiap pembaca memiliki perbedaan tradisi dan kultur berpikir yang berbeda pula, memiliki gambaran yang melodramatik dan humanitas dalam kepala saya, Anda tentunya memiliki sebuah soundscape yang berbeda.

Komentar»

1. Ryan Rachman - Desember 6, 2008

Mas Asrori, tulisan “Soundscape Hujan Bulan Juni” tak posting buat dimuat di buletinku ya, tapi gratisan gak papa kan? terimakasih sebelumnya.

2. Rori - Desember 9, 2008

Boleh saja… Salam buat teman-teman di Sanggar Sastra Wedang Kendhi Purwokerto.

3. andry - Mei 7, 2009

E9x1Xt comment1 ,

4. nizar alamsyah - November 8, 2009

dah lama gak baca puisi sapardi. kangen sama hujan bulan juni. betul mas, setiap baca puisi sapardi saya selalu bisa membayangkan ruang kejadian dan bunyi puisi itu. pengalaman yang selalu bikin rindu he he he. thanks essaynya keren.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: