jump to navigation

Small Events, Everyday Life: What’s Up Puisi Jatim Januari 16, 2008

Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, puisi.
trackback

Kemungkinan-kemungkinan, kemenduaan-kemenduaan, dan keremang-remangan selalu menjadi tawaran menarik di dalam puisi yang menjadikan segala sesuatunya menjadi bermakna. Beragam peristiwa semesta, kehidupan, dan manusia telah menghidupi puisi menjadi bangunan-bangunan kesaksian yang berkabar. Jadilah sepanjang 2007, dan menatap 2008 ini, telah terjadi satu fenomena yang mewarnai ranah perpuisian di Jatim. Sublimasi, ketenangan, kelembutan, dan ketulusan telah menjadi basic menarik perpuisian Jatim.

Di penghujung tahun 2007 lalu beberaga gawe dilakukan di ranah kepenyairan Jawa Timur. W. Haryanto, Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur, sibuk menyusun peta penyair terkini Jatim melalui serangkaian penerbitan antologi Generasi mutakhir penyair Jawa Timur. Satu diantaranya yang telah terbit adalah antologi puisi Kepada Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan. Dalam antologi puisi ini dimunculkan nama sembilan penyair Jatim yaitu; Abimardha Kurniawan, Amal Sejati, Ali Ibnu Anwar, Didik Wahyudi, M. Helmy Prasetya, Javed Paul Syatha, Panji K Hadi, Puput Amiranti N, dan Ragil Sukriwul.

Juga terdapat penerbitan buku Dokumentasi Sastra Festifal Cak Durasim yang digalang oleh Trio; Tjahyono Widijanto, Tjahyono Widarmanto, dan R. Giryadi. Di dalamnya terdapat karya-karya puisi dari tujuh penyair dan cerpen dari tiga cerpenis Jatim. Mereka yang turut berbagi dalam Pelayaran Bunga: Dokumentasi Sastra Festifal Cak Durasim antara lain; Didik Wahyudi, M. Faizi Kaelan, Javed Paul Syatha, A. Muttaqin, Puput Amiranti N, R. Timur Budi Raja, Imam Muhtarom, Lan fang, dan Mashuri. Festifal Cak Durasim adalah festifal tahunan yang menjadi salah satu program Taman Budaya Jawa Timur yang sudah terselenggara sejak 1997.

Bisa dikatakan nama-nama di atas adalah representasi dari sastrawan Jatim terkini yang memiliki potensi kuat mewarnai dinamika sastra Jatim bahkan sastra nasional. Generasi terkini yang lebih sublim, menahan ledakan geram sedemikian rupa, mengupas sederhana kecemasan, tidak tergesa, tenang, tulus, dan lembut menata makna peristiwa kehidupan yang telah memukaunya.

Aku bersama empat orang gadis/ menjumpai matahari, melewati embun/melalui pasar dan berpapasan dengan orang-orang/beraut muka sedih// aku bersama empat orang gadis/ semakin dekat dengan matahari, menelusuri jalan/ berpapasan lagi dengan kesedihan yang sama// aku dengan sedihku/ empat gadis dengan sedihnya pula/ melihat sepasang muda-muda mengitari kesedihan/ dengan pura-pura berpelukan melihat seorang bocah/ berlarian kesana kemari// aku bersama empat gadis/ sudah berada di depan matahari/ namun tak kutemukan apa-apa, selain orang-orang/ yang menengadahkan kepala dan tangannya/ kea rah langit// “sesungguhnya mereka telah sempurna mengetahui cara berdoa/// (M. Helmy Prasetya, Aku Bersama Empat Orang Gadis)

Bisa dibilang dari keberagaman tema dan gaya pengucapan, penyair Jatim lebih mendekati peristiwa-peristiwa kecil, kehidupan sehari-hari, namun memiliki ketertautan erat dengan nilai-nilai universal.

Aku mengenalmu dari kulit manggis/ ketika senyum kembang kempis/ dan wajahmu ungu, bagai kubur yang/ menunggu// Dua tahi lalat menggantung mungil/ di bibirmu, seperti mengucap ingin/ kuncup-kuncup yang tak bakal tumbuh/ di mulut garing dan mata kuning, tapi// aku telah menciummu, penuh/ seperti menyambung umur, seperti/ melabur purnama yang tertidur// langit jadi ungu, sepi dan menjauh/ sebuah kaca melukis wajah kita/ lipat ganda/ Seperti melipatgandakan/ kematian dari waktu yang tak pernah/ kita kenali/ kecuali detik-detik yang/ berguguran dari dadamu, dari dadaku// Ada satu biji yang tumbuh di situ/ biji yang juga ttak kita kenal, selain/ tangkapannya yang licin, rasanya/ yang getir, dan daging yang beracun// Buah apa yang pecah dari bibirmu?/ tanyamu. Buah yang membuat Hawa ngerti/ bahwa bumi punya sungai-sungai yang/ melahirkan nabi sekaligus pencuri, jawabku// Qin, kenapa langit jadi ungu dan tebal/ seperti kulit manggis? Karena aku melukaimu/ dan kau tak menangis, karena kita menyimpan/ gerimis, dan bumi tak jadi najis, menerima/ bibit cinta dengan senyum manis/ Allah kau memang pintar merayuku, hingga/ sepasang kepompong di mataku jadi kukpu-kupu…// waktu memutih. Nafasmu pun berhenti/ dan tak ada yang lewat setelah ini, kecuali/ keinginan saling mencuri, saling menyudahi/// (A. Muttaqin, Gerimis Dari Kulit Manggis)

Bidikan penyair Jatim bukanlah peristiwa besar dan sarat sejarah, namun ketika didedah dengan pengucapan estetis milik otensisitas penyairnya, puisi menjadi demikian dalam dan bermakna penting bagi manusia. Puisi-puisi yang lahir menggeser kecenderungan puisi yang gagah, penuh nada geram, meledak-ledak, dan tergesa-gesa bicara persoalan besar pada era sebelumnya.

Tapi dari sana pula dapat disimpulkan satu urgensi penting yang lahir bersama perkembangan signifikan peta sastra Jatim, yaitu satu kerangka masalah yang melanda sastra Jawa Timur. Pertama adalah permasalahan geografis, antara pusat dan daerah, antara titik tumpu dan sebarannya. Sastra Jatim terkini tidak lagi terkonsentrasi pada dua titik sebagai kota besar di Jatim, yaitu Surabaya dan Malang. Namun telah merambah kuat di wilayah pesisir, yaitu Lamongan dan Pulau Madura. Dua medan ini melalui sangar-sanggar yang marak oleh aktivitas sastra dan singgungan yang erat teratur dengan sastra dan sastrawan di luar daerahnya telah mekar bertransisi mencapai bentuknya sendiri, menjadi satu warna tersendiri dalam peta sastra Jatim.

Namun yang perlu dikemukakan lebih jauh adalah peta sastra Jatim sendiri pun mengalami perubahan. Hal ini ditengarai terjadi pasca maraknya sajak-sajak sosial yang menggeser gaya Afrizalian. Sejak tahun 2000 hingga sekarang, sajak-sajak para penyair Jatim (bahkan di Indonesia) mengalami keragaman tema bidang garap dan gaya pengucapan. Hal ini tampak di berbagai rubrik-rubrik sastra di dalam surat kabar, majalah, jurnal-jurnal, dan buku-buku antologi puisi yang terbit.

Mereka-mereka yang lahir sebagai generasi terkini tersebut sadar akan konteks tekstual dan kontekstual penciptaan puisi. Sebagai serangkaian kelahiran dan perjalanan simbol-simbol yang menghidupi sisi psikologisnya, Penemuan diksi dan lompatan-lompatannya mengalir bersama riak sungai publik budayanya, bukan sebagai pengamat tapi langsung terlibat, menjadi kedewasaan puitik. Generasi yang lahir bukan sebunyi dengan Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noer, Sitok Srengenge, Afrizal Malna, atau penyair-penyair lain yang telah ditasbihkan terlebih dahulu.

Permasalah kedua yang mencuat adalah ketimpangan pesatnya perkembangan sastra Jatim tanpa disertai munculnya sebuah kritik apresiasi sebagai jembatan kepada masyarakat luas. Sastra bergulir menjadi eksklusif, sebagai dunia yang hiruk pikuk tapi tanpa bentuk. Karya sastra menjadi tidak menemukan ukurannya karena tidak ada juru timbang yang membuat para sastrawan menemukan satu bentuk kematangan estetika.

Di tengah hiruk pikuk munculnya penyair dan karyanya, pembaca menjadi kehilangan seorang juru babat alas, yaitu seorang kritikus yang mampu membuka medan tafsir di dalam puisi, sehingga pembaca awam dengan intepretasi yang miskin, atau bahkan para penyairnya sendiri menemukan lusinan lanskap baru yang lahir dari para kritikus. Sinergi yang mampu merangsang gerak dinamis lahirnya karya-karya kreatif yang baru.

Tahun ini, di ruang yang begitu luas untuk membangun jejak-jejak monumental dalam perkembangan puisi, saatnya pula mencipta iklim kreatifitas yang sehat bagi perkembangan puisi Jawa Timur.

Komentar»

1. ALIE HAIDAR - November 6, 2008

bang, Masih kenal aku gak? Aku anak Inggris 2001. Temannya Romadenan juga…..

alie


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: