jump to navigation

Mengenang Sajak-sajak Suripan Januari 22, 2008

Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, jawa, puisi.
trackback

D. Zawawi Imron menjuluki Suripan sebagai penyair beras kencur, karena sajak-sajaknya lebih banyak mengungkap ramuan-ramuan jamu tradisional seperti kecipir, kenikir, kolang-kaling, dan adas pulasari. Korie Layun Rampan menulis sajak-sajak Suripan khas pada gaya ungkapnya yang bersahaja dan daya sindir yang kuat. Setya Yuwana Sudikan memaknainya sebagai sebagai penyair sajak-sajak kampung(an), karena dipenuhi pegungkapan ide yang didukung oleh lukisan alam pedesaan. Tentu saja tidak ada yang salah pendapat mereka, karena memang begitulah adanya sajak-sajak Suripan Sadi Hutomo yang semasa hidupnya dikenal sebagai dosen, pengamat sastra, dan dokumentator sastra yang mumpuni.

Walau sajak-sajak Suripan jumlahnya tidak banyak, namun semuanya memiliki spesifikasi yang menandai kepenyairannya yang khas. Sajak sebagai dunia ide yang belum persis dan tidak berkomunikasi secara tuntas, di tangan Suripan menjadi loncatan-loncatan imaji yang membuat pembacanya aktif menyingkap apa saja yang diungkapkan dari hati ke hati melalui susunan kata dan simbol-simbolnya. Kita bisa melihatnya dari sajak Kecipir dan Hartati berikut ini:

KECIPIR

Kecipir buah kecipir
Kenikir daun kenikir
Kucium beribu bibir
Tak juga habis pikir

Ada ladang tembakau
Ada mulut harimau
Kutu busuk penuh rabuk
Dalam handuk dalam ceruk

Tebing hati getuk lindri
Mata yang belati
Sepasang sepatu jengki

Kemudian selesai yang itu
Kemudian selesai yang satu
Kemudian selesai yang tak kutahu

1976

HARTATI

Hartati nama kidungku
Kidung daun kemangi bunga turi
Hartati nama kidungku
Kidung sayur lumbu ikan teri

Adas pulasari brambang
Ini bukan sekedar angan-angan
Sebab daun sambirata
Buat pengobat sakit jiwa

Hartati nama kidungku
Kidung daun kemangi bunga turi
Kidung sayur lumbu ikan teri
Adah, aduh
Hatiku sudah berlabuh

1976

Kita bisa melihat keremang-remangan sajak Suripan yang bertemu dengan nuansa alam pedesaan. Kita serasa mendengar sebuah tembang kehidupan sehari-hari yang di satu pihak mencerminkan keteduhan damai suasana tenteram pedesaan namun di pihak lain mencerminkan keresahannya melihat situasi lingkungan sebagai penyair. Melihat satu persatu perilaku manusia yang mulai meninggalkan esensinya sebagai makhluk, terlebih sebagai manusia timur yang memiliki keunggulan budi pekerti.

Sebagai manusia yang turut hidup dan bersanding dengan realita, sajak Suripan jelas-jelasnjuga banyak merefleksikan permasalahan sosial di pedesaan. Mengupas sisi ekonomi yang menjadi ukuran nomor satu status keberadaan manusia dewasa ini. Ketentraman hanya bisa digapai dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yaitu materi yang sekaligus menjadi ukuran tinggi-rendahnya derajat manusia dihadapan manusia yang lain. Sajak Ke Blora dan Bukit menggambarkan dengan gamblang permasalahan di atas:

KE BLORA

Ke Blora ia akan pulang
Ke Blora ia akan memikul cendawan
Menyusur kali lusi yang gersang
Dada dada montok kemiskinan

Tembang di bukit-bukit hutan jati
Hidup pencuri sindir polisi
Main kong kalikong
Menghitung hari-hari basah kantong

Ke Blora ia akan menikmati
Ke Blora ia akan kembali bermimpi
Masa kanak dan cinta yang gagal
Ia terlalu hafal

Ke Blora rindunya ranum
Bapak ibu mengulum senyum
Anakku pergilah
Dunia tidak sepanjang galah

Sumber-sumber air yang dalam
Batu padas menikam-nikam
Ke Blora untuk apa kau kembali
Ke Blora untuk apa kau mencari?

1975

BUKIT

Bukit tanpa pohonan dan rumputan
Bukit gundul tanpa aspal
Sebuah danau penuh kurcaci
Sebuah kapal ada di laci

Satu-satu tetes peluh dari pundak
Satu-satu tubuh rebah tanpa gerak
Seruling kereta malam yang sengak
Kita tak teringat bantal bau apak

Gatoloco berperang melawan Perjiwati
Inti hakekat kehidupan azali
Dan suluk demi suluk saling memeluk
Dalam singir pantai berteluk

Bukit tanpa pohonan dan rumputan
Bukit gundul tanpa aspal

1975

Sajak Ke Blora melukiskan keraguan untuk kembali ke kampung halaman. Kentara sekali nuansa batin di dalamnya, bagaimana penyair melukiskan sisi-sisi kehidupan di kampung halaman. Secara sadar Suripan yang juga kelahiran Blora bernostalgia dengan harapan-harapan, yang kemudian berbaur mesra dengan ironi, sindiran-sindiran yang menyebabkan nuansanya jadi demikian tragis. Bagaimana ia melukiskan permasalahan penebangan dan pencurian kayu jati yang runyam alurnya, namun ia tidak berapi-api mengeluarkan nada sumbang, ia santun dan halus dalam menyindir. Sajak lainnya yang kental nuansa sindiran bisa kita simak juga dalam sajak Si Kikir berikut:

SI KIKIR

“Si kikir kembali bernyanyi
O, bonekaku yang manis
Janganlah kau menangis
Kembang bakung kembang turi
Gadis kampung milik kami

Terurai rambut jagung
Bunga di kebun berayun-ayun
Si tua di atas pedatitakut terlambat di caci maki
Takut terlambat di sendat hari

Si kikir namanya
Si kikir punya kuasa
Kau mau apa?

Pagar berjalur janur
Kapan kau bisa makmur
Hutangmu sedalam sumur
Menolong liang kubur

Si kikir terus bernyanyi
O, bonekaku yang cantik
Kemarilah kau kujentik
Jangan kau malu
Bertelanjang lebih ku mau
Bakal kupegang susu-susu
Bakal kuremas anu-anu

Ai betapa nyaman rasa
Semerbak bedak adalah “Dunia”
(Tuhan jauh di surga si kikir lupa mengaca)

Terurai rambut jagung
Bunga di kebun berayun-ayun
Si tua di atas goni
Hati susah si anak perawan tani
Malam ini bakal di rotitak boleh di sangka antri
Tak boleh tersedia peti
Merunduk bunga dip agar
Rimba semak membelukar
Di mana angin sejuk
Menyingkap bau busuk?

Perlahan menetes mata
Kenapa kau menangis pak Tua
Bukanlah zaman telah merdeka?
Rembulan di langit
Menghimpit jerit
Demikian nyata

Dan kau pun juga di sana
Dan selalu bertanya
Ke mana?
Kemana saudara?”

Sajak-sajak Suripan merupakan sajak-sajak ritmis yang ditulis dengan bahasa yang sederhana, wajar, dan tidak rumit. Individualitasnya sebagai penyair memunculkan kreatifitas yang bisa jadi merupakan eksperimentasi yang memperkaya kekhasan di ranah perpuisian tanah air.

Suripan tidak jengah untuk menggunakan beragam karakter benda-benda, tumbuh-tumbuhan, dan binatang-binatang yang biasa dia akrabi untuk hadir dalam sajak-sajaknya. Di dalamnya kita bisa menemukan permainan bunyi yang dominan, terutama pengulangan suku kata, larik, bahkan bait sebagaimana ada dalam tembang Jawa.

Tidak itu saja, Suripan juga tidak sungkan untuk menggugah imajinasi pembaca dengan sajak-sajak unik yang bisa dikatakan mbeling. Walaupun tetap mengandung warna pedesaan, tapi ia mengungkap sesuatu secara latah, dan imajinasi yang tidak begiru dalam. Berikut ini beberapa sajak Suripan yang bernuansa eksperimentasi yang unik:

TRI

Tri, tri, utri, mantri
Tri, tri, utri, mantri
Pohon dondong buah belimbing
Janaka pakai sumping

Gong, gong, Bagong, nggonggong
Gong, gong, Bagong nggonggong
Kelabu satru
Kuku landak punya ndaru
Kuping gajah, Nagasari
Bulan berbelah
Hikayat para nabi
Tua tate rokok tingwe

KOLANG KALING

Kolang kaling dawet ayu
Sajak yang ngibing
Juga milikku

Adalah pasar wage
Kambing gibas makan gambas
Tampak di daun sente

Begitulah pohon gude
Pohon semangka mempelam kweni
Matahari berpijar api

Kolang kaling dawet ayu
Sajak yang mbeling juga milikku

KI AJISAKA

Ki Ajisaka menoleh pada kita
Keris keraton tinggal besi tua
Adakah azimat mulai dari aksara?
Dora dan Sembada
Sama-sama setia, sama-sama pralaya
Tegak bagai tugu selaksa

CURUT

Curut dan tikus, kremi dan cwimi
Sepiring nasi putih
Kita telah menulis panjang sekali
Gugusan-gugusan kasih

Daun apa-apa, ulat keket di srikaya
Semut beriring rayap menyayat mata
Uget-uget dan set di berak kita
Warna biru langit berenda

Air hitam air cebokan kita
Air putih dari kelakian priya
Air dari rahim ibunda
Dan kambing mengembik juga
Sepiring nasi putih
Gugusan-gugusan kasih

Bisa disimpulkan bahwa sajak-sajak Suripan adalah sajak-sajak yang kontekstual. Sajak yang membawa kita ke suasana unik pedusunan. Ia ringan menyindir tapi mengena pada sasaran. Kekhasan gaya ucapnya merupakan sahaja yang mandiri dalam khasanah puisi Indonesia.

Berikut ini sajak-sajaknya yang mengupas masalah kerinduannya, beberapa adalah hasil tulisan ketika bertandang ke negeri orang:

STANZA BLORA

Begitu nafas tertumpuk di batu
Gelora jiwa memapah anganmu
Yang tegak di rel kereta tua
Sia-sia mencari, sia-sia menyapa

Manila, 1982

KUINGAT JALAN BATU

Kuingat jalan batu
Antara kota Blora dan kota Cepu
Gadis-gadis pun senyum malu
Ketika kelelawar pulang berburu

Kuingat jalan kecil berbatu
Antara Blora dan rumahMu
Anak-anak kecil di kerak batu
Menunggu embun tumbuh di bubu

Bukit kecil yang ramping
Di sisinya kali kecil menyumping
Larut dalam nyala udara
Menyambut hari depan yang gila

Kuingat itu semua
Karena aku adalah miliknya

Tokyo, 1982

BULAN TERTIKAM KALI LUSI

Bulan tertikam kali lusi
Darah bagaikan jeram niagara
Mencurah diantara kaki benua
Manusia di manapun adalah gua
Gelap pekat

Bulan membelit pokok jati
Suara jengkerik di desa Banjarsari
Suaranya oh bagaikan simponi
Di lobi hotel sang maharani
Aku catat ini

New York, 1982

SEPANJANG KANAL

Sepanjang kanal sepanjang kayal
Adalah adaMu semata
Sepanjang kananl sepanjang kayal
Adalah sifatMu semata

Tik tok! Tik tok!
Dokar itu pelahan jalan
Kuhitung orang mandi telanjang
Kuhitung bunga telekan
Pohon mahoni rumpun bamboo
Tawa terkekeh di balik gardu

Sepanjang kanal sepanjang kayal
Semua telah kukenal
Antara Jajak Tanjungreja
Antara Banyuwangi Surabaya
Hijau daun-daun lamtara
Hijau daun-daun puspanyidra

Alam yang murni jalan yang sunyi
Adalah panggilan seni
Wajah yang sunyi wajah yang sepi
Adalah hati nurani

Sawah ladang rumah lama
Lampu teplok buah gadung
Rindu sayang yang mendamba
Rindu sayang kampung

Guci tuak kopi
Senyum manis poci
Warna lembut menjelaga
Warna lembut petai cina

Reguk dan puaskan tusuk dan habiskan
Bisik lembut dalam igauan
Kita bertemu dalam kerinduan

2-11-1976

Stanza Blora, Kuingat Jalan Batu, Sepanjang kali Lusi, dan Sepanjang Kanal adalah sajak-sajak kerinduan Suripan pada kampung halaman. Keakraban dengan alam pedesaan dan dominasi bunyi pendukung menandaskan keunikan sajak-sajak Suripan. Terasa sekali kehati-hatian dalam memilih dan menghadirkan lambang-lambang yang digunakan menggugah imajinasi pembaca. Nostalgia masa lalu penyair hadir di sana. Semua mengangankan masa lalu yang kemudian di refleksikan ke masa depan. Bagaimana segala kesulitan merupakan satu tantangan untuk maju. Hidup di rantau dan rindu kampung halaman membuatnya sadar bahwa ia tetap orang kampung.

Suripan memang sudah lebih tujuh tahun pergi menghadap sang kuasa, tapi sajak-sajaknya menggugah kita kembali ke esensi kesederhanaan kita sebagai manusia.

Komentar»

1. tri astuti ning sih - Februari 19, 2010

semoga tulisan ini bermanfaat bagi manusia untuk di baca.dan saya mengucapkan terima kasih kepada suripan.beliau sendiri yang menulis karangan ini.saya ucapkan terima kasih.

2. Rori - Maret 6, 2010

Ya, semoga… Sajak-sajaknya menggugah kita kembali ke esensi kesederhanaan kita sebagai manusia.

3. ikablingerforever - Maret 22, 2011

aku suka sajaknya…
semoga saja bisa bermanfaat buat semua orang….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: