jump to navigation

Menelisik Bilik Pulau Penyengat Februari 14, 2008

Posted by Mochammad Asrori in indonesia, puisi.
trackback

Suatu ketika ada saudagar yang hendak mampir mengambil air di sebuah pulau yang kaya pasokan air tawar di bagian Selatan Semenanjung Tanah Melayu. Tapi, tiba-tiba saudagar tersebut diserang ribuan lebah yang tersembunyi di pepohonan. Maka dinamailah pulau itu ‘Penyengat’. Pulau yang menyimpan sejarah kejayaan imperium Melayu diawal abad ke-19 merupakan tonggak perkembangan sastra dan budaya Melayu di Riau khususnya, dan di Nusantara pada umumnya. Di saat kegiatan tulis menulis belum begitu dikenal di Nusantara, sejarah mencatat tahun 1890-an dua buah percetakan yakni Mathba’atul Al Riauwiyah dan Mathba’atul Al Ahmadi dibangun untuk menerbitkan karya-karya yang dihasilkan oleh para sastrawan.

Sekilas pulau di bagian Barat Pulau Bintan yang menurut catatan sejarah merupakan mas kawin Raja Mahmudsyah untuk Engku Raja Hamidah itu tidak terlihat istimewa, sepintas hanya tampak pepohonan hijau dengan jajaran rumah-rumah panggung (kelong) di sepanjang pantai. Namun di Pulau inilah terhampar kekayaan sejarah Kerajaan Riau Lingga.

Pulau Penyengat adalah saksi sejarah akar tradisi keilmuan dan tulis-menulis. Hal ini tak terlepas dari pengaruh istana. Pada tahun 1787 Pulau Penyengat memang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga dan berubah menjadi salah satu pusat pengembangan agama, intelektual, dan tradisi tulis. Para raja yang memerintah mempunyai kesadaran yang amat tinggi terhadap tradisi keilmuan dan literasi. Bahkan menurut catatan sejarah sebuah perpustakaan bernama Khutub Khanah dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau X Raja Mohd Yusuf Al Ahmadi.

Para raja sadar perlunya referensi agar masyarakat dapat menajamkan pemikirannya dalam menuliskan suatu karya. Ribuan koleksi buku dan karya tulis pun didatangkan dari India dan Mesir. Sayangnya bangunan percetakan dan perpustakaan yang pernah dibangun di pulau itu kini sudah tidak dapat lagi dilihat bekas atau puing-puing reruntuhannya. Tersisa hanya beberapa ratus buku dan naskah kuno yang kini disimpan di Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu Riau dan Masjid Sultan termasuk sejumlah naskah karangan Raja Ali Haji yang dikenal luas dengan Gurindam XII-nya.

Kejayaan Kerajaan Johor Riau Lingga dicapai pada masa Sultan Mahmud Shah III (1761- 1812). Mahmud Shah III diangkat menjadi sultan dalam usia sembilan tahun pada tahun 1761. Oleh karena itu roda pemerintahan dikendalikan Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja dan kemudian digantikan oleh Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji Fisabilillah.

Raja Haji Fisabilillah berperan besar dalam masa pemerintahan Sultan Mahmud III. Ia berhasil menjadikan kesultanan Johor-Riau sebagai pusat dagang dan budaya paling penting di kawasan itu. Beliau wafat ketika bertempur melawan Belanda tahun 1784. Raja Haji meninggalkan dua putra, yaitu Raja Ahmad dan Raja Ja’far. Raja Ahmad adalah pangeran pertama dari Riau yang naik haji. Ia sangat menyukai bidang sejarah. Salah satu karyanya “Syair Perang Johor” menguraikan tentang perang antara Kesultanan Johor dan Kesultanan Aceh abad 17. Selain itu, Raja Ahmad juga orang pertama yang menyusun sebuah epos tentang sejarah orang Bugis di daerah Melayu dan hubungannya dengan raja-raja Melayu.

Bakat menulis ini lantas menurun kepada putranya, Raja Ali Haji. Sejak masih remaja ia sering mengikuti ayahnya berekspedisi ke sejumlah wilayah, termasuk ke Batavia, perjalanan dagang, serta naik haji ke Tanah Suci. Pengalaman bepergian ini secara langsung memberikan wawasan pengetahuan luas pada Raja Ali Haji. Menginjak usia 20 tahun, dia sudah diberikan tugas-tugas kenegaraan yang tergolong penting. Hingga usianya 32 tahun, Raja Ali bersama sepupunya, Raja Ali bin Raja Ja’far, dipercaya memerintah di daerah Lingga, mewakili Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang masih berusia muda.

Sudah sedari belia Raja Ali Haji dikenal sebagai ulama dan sering dimintakan fatwanya oleh kerabat kerajaan. Pengetahuannya di bidang agama sangat menonjol dan dimanfaatkan guna membimbing para guru agama di Riau ketika itu. Pada waktu Raja Ali dikukuhkan sebagai penasehat keagamaan negara ia memiliki pengaruh besar dalam politik kebudayaan di Melayu saat itu. Karya-karyanya justru lahir di masa kerajaan Melayu melemah akibat kolonialisasi Belanda sehingga tak jarang dimaknai sebagai bentuk perlawanan melalui bahasa dan tulisan.

Di bidang sastra, satu karyanya berjudul Hikayat Abdul Muluk merupakan karya sastrawan Riau yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1846. Dari sejak itu, banyaklah karya Raja Ali Haji terpublikasi. Dalam beberapa buah karyanya, beliau selalu menyisipkan pesan etik yang berdasarkan lukisan peristiwa nyata yang terjadi di masanya yang menekankan bahwa taat kepada hukum Allah SWT yang telah digariskan kitab suci Alquran adalah satu-satunya jalan mengatasi hawa nafsu dan mencegah konflik.

Karya-karyanya sangat variatif, mulai dari karya sastra, keagamaan, filsafat, pemerintahan, sampai kebahasaan. Karya sastranya di antaranya Syair Siti Shianah, Syair Awai, dan Gurindam Dua Belas. Sekian banyak hasil karya Raja Ali Haji, tampak tidak pernah meninggalkan ciri khasnya, yakni mengakar pada tradisi kesusastraan Islam serta Melayu, juga kesungguhannya dalam menyajikan sejarah masa lalu disesuaikan dengan tuntutan kondisi di zamannya. Raja Ali tak hanya sekadar sejarawan dalam arti sempit. Beliau juga adalah guru dan teolog yang punya komitmen memelihara nilai keislaman serta rasa tanggung jawab terhadap masyarakatnya.

Pada awal tahun 1890, segenap sanak keluarganya mendirikan perkumpulan bernama Rusdyiah Club yang merupakan perkumpulan cendekiawan dan para penulis. Klub tempat para pujangga- pujangga membuat syair-syair dan diterbitkan. Puluhan karya dilahirkan warga Penyengat saat itu. Klub itu bergerak di bidang kebudayaan dan pembinaan umat dan terbuka kepada siapa saja orang yang mau jadi anggotanya dengan syarat utama yaitu harus memiliki dua karya.

Tradisi keilmuan Pulau Penyengat kian surut setelah pemerintahan dibubarkan Belanda. Pada tahun 1911, sultan, para penulis, dan cendekiawan meninggalkan Penyengat dan pindah ke Johor, Singapura, dan beberapa kawasan di Kepulauan Riau. Tahun 1930-an, sesungguhnya telah ada usaha menghidupkan kembali tradisi menulis di kepulauan itu, tetapi hasilnya tidak seperti di masa lalu. Pada tahun tersebut lahir Madarasatoel Moe’alimin, sebuah sekolah agama di Pulau Penyengat yang kemudian juga menerbitkan beberapa buku dan majalah.

Saat ini, sisa kejayaan Pulau Penyengat yang kini dihuni sekitar 2.000 jiwa hanya terlihat dari bangunan-bangunan tua dan makam raja- raja. Masjid Raya Sultan Riau Penyengat atau Masjid Sultan tepat berada di depan gapura masuk desa yang dapat dijangkau dengan perahu kecil (pompong) selama kurang lebih 10 menit dari Kota Administratif Tanjung Pinang. Masjid dengan warna kuning mencolok, warna kejayaan kerajaan melayu, ini terdiri dari 13 kubah dan empat menara yang konon dibuat dengan campuran putih telur. Menurut sejarah masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdurrahman (1832-1844) tepat pada hari raya Indul Fitri pada 1 Syawal 1249 H.

Pusara raja-raja yang ada di Pulau Penyengat antara lain; Yang Dipertuan Muda Riau IV Raja Haji Fisabilillah (1777-1784) yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional karena peranannya dalam Perang Riau; Yang Dipertuan Muda VI Raja Jaafar (1808-1832), Raja Riau yang mula-mula merancang pola tata kota di Penyengat; dan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman (1832-1844), penguasa Riau yang membangun Masjid Sultan. Selain itu juga terdapat pusara Permaisuri Sultan Mahmudsyah, Engku Puteri Raja Hamidah, pusara Yang Dipertuan Muda IX Raja Haji Abdullah, dan pusara sastrawan Melayu, pengarang Gurindam XII, Raja Ali Haji.

Ketika Sultan Abdurrahman Muazzamsyah berkuasa di Kerajaan Riau, dia membangun istana megah di bumi Penyengat. Sayangnya istana megah itu kemudian dibumihanguskan oleh Belanda ketika Penyengat jatuh ke tangan Belanda tahun 1911. Namun masih ada sebuah istana raja megah yang masih bisa dinikmati keindahannya di Penyengat, yaitu sisa-sisa bangunan istana Raja Ali (1844-1857) yang hingga saat ini masih tegak berdiri. Bangunan dua lantai yang berdinding kokoh itu kini disebut Istana Marhum Kantor karena Yang Dipertuan Muda Raja Ali Haji wafat di gedung tempat dia melakukan tugas-tugas kerajaan itu.

Pulau yang menjadi taman bagi para pujangga Melayu, kini berubah menjadi pinggiran yang sepi. Hanya segelintir warga yang aktif menulis. Sebagian besar masyarakatnya berkonsentrasi menjadi nelayan atau pegawai negeri sipil setelah marak pemekaran wilayah dan dibukanya kantor-kantor pemerintahan baru. Yang mengkhawatirkan, buku dan naskah tua itu sendiri semakin rawan raib lantaran pertarungan identitas Melayu dengan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, yang rajin berburu naskah tua yang berani menawarkan harga hingga Rp 50 juta-Rp 100 juta.

Komentar»

1. Ihsan Maulana - Februari 26, 2008

Mas, menarik ya. ternyata ada nama pula”penyengat”. o ya ada lho nama pulau yang lucu, seperti pulau kambing, pulau setan, pulau manuk. tolong dibahas juga dong Om!;P

2. Rori - Maret 5, 2008

Ada-ada Kang Ihsan ini, saya rasa nama-nama Pulau yang sampeyan sebut itu cuma menarik dinamanya saja dan pasti tidak juntrungannya dengan dunia kesusastraan.

Tapi entah juga jika ada ahli folklore yang kemudian (atau sudah) membahasnya?

3. andripr - Agustus 9, 2008

mas bagi-bagi ilmu puisinya donk


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: