jump to navigation

Wayang Suket: Pengalaman Bawah Slamet Gundono April 2, 2008

Posted by Mochammad Asrori in jawa, profil.
Tags: , ,
trackback

Kedua orang tuanya petani tulen, tak mempunyai darah seni sama sekali. Nama asli pemberian orang tuanya cuma Gundono. “Slamet” merupakan pemberian guru SD-nya yang lalu diterakan di ijazah, entah biar panjang atau lebih gagah. Setelah itu ia justru mengubah akte kelahirannya daripada harus mengubah ijazah SD.

Kesenangannya pada pedalangan secara disadari karena ia tertarik sejak kecil. Tapi ia tidak menyukai kehidupan kesenian pedalangan saat itu yang dekat dengan minum dan main perempuan. Masuklah ia ke pesantren di Lebak Siu sampai Madrasah Aliyah. Tapi, justru di sekolah saat itu, di bawah kecintaannya terhadap wayang tidak pernah hilang, ia semakin rindu wayang.

Kini, Wayang Suket menjadi sebuah ikon bagi Slamet Gundono, alumni Jurusan Seni Pedalangan, Sekolah Tinggi Seni Indonesa (STSI) Surakarta tahun 1999. Slamet yang berpenampilan nyentrik dengan tubuh subur seberat 150 kg ini, semula dikenal sebagai dalang wayang kulit. Di saat mulai laku manggung pakeliran, ia malah membelok, menekuni seni wayang suket. Awalnya ia kerap menjadi bahan olok-olok dan mengundang pendapat miring dari kalangan seniman. Tahun demi tahun, pentas wayang suketnya ternyata banyak mengundang minat. Tak Cuma keliling berbagai kota, tapi juga ditanggap ke luar negeri. Ia pun menjadi sosok seniman fenomenal. Di tangan Slamet Gundono, Wayang Suket menjadi sebuah media seni teater berbasis kesenian tradisional wayang.

Slamet Gundono yang lahir di Slawi, Tegal, pada 19 Juni 1966 ini sama sekali tidak berpikir bahwa suket akan menjadi tren wayang suket. Wayang suket adalah pengalaman bawah sadar masa kecilnya. Bukan kesengajaan yang dimunculkan dan dieksplorasi di dunia seni. Tiap hari di masa kecil ia ke sawah. Tiap hari ia melihat suket. Ketika petani lagi santai suket mereka menganyam bagian batang jenis rumput menyerupai model wayang untuk mengisi waktu.

Pertama kali wayang suket dimainkan pada tahun 1997 di Riau. Tiba-tiba ia harus mementaskan wayang. Padahal, di sana tidak ada wayang kulit. Juga tak ada gamelan. Kebetulan kakak saya punya studio lukis yang terletak ditengah alang-alang sawah. Muncullah pengalaman masa kecil tentang suket. Akhirnya ia memutuskan untuk memakai suket, ia bentuk, ikat, dan gulung menjadi beragam bentuk yang kemudian ia mainkan. Gamelannya pakai mulut, ala kadarnya dengan lakon “Kelingan Lamun Kelangan”. Itulah pertunjukkan wayang suket pertamanya.

Bekal pengalaman pertama dari Riau itu ia bawa pulang. Slamet Gundono mengumpulkan beberapa teman dan membentuk komunitas wayang suket yang kemudian ia pakai sebagai nama Padepokan Komunitas Wayang Suket, di Ngringo, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah. “Kelingan Lamun Kelangan” adalah lakon cerita tentang Banjaran Karno. Mulai dari lahir sampai mati. Lakon ini menggambarkan bahwa orang itu baru sadar setelah kehilangan. Ketika Dewi Kunthi memilih membuang anaknya, Karna, ke sungai ketimbang menanggung rasa malu sebagai perempuan yang dihamili. Ia baru merasa memiliki anaknya ketika anaknya sudah berubah menjadi seorang senopati.

Kelebihan wayang suket adalah ruang yang sangat bebas bagi penonton untuk membangun imajinasinya. Menafsir kembali siapa itu wayang-wayang sebagai bayangan hidup. Manusia terus tumbuh, tapi wayang kulit tidak. Werkudoro yang sedang sakit tetap membusung gagah, menangis pun tetap membusung gagah. Satu sisi ini menunjukkan wayang kulit sudah terlalu puncak, sudah selesa sebagai sebuah perjalanan estetika. Sudah stagnan untuk memberi ruang bebas. Sehingga akhirnya muncul eksperimen-eksperimen vulgar.

Slamet Gundono tidak ingin ikut arus tersebut, sehingga ia memutuskan memilih suket untuk memulainya. Setelah wayang suket pentas banyak yang berebutan wayang suket dan dibawa pulang untuk dipajang. Durasi pementasannya fleksibel, pernah hanya 15 menit, pernah satu jam, pernah juga tiga jam. Pernah pentas dengan tiga orang, pernah pula pentas dengan 30. Begitu juga dengan iringan musiknya, ia hanya membawa satu atau dua jenis perangkat gamelan, bambu, ditambah gitar kecil untuk berimprovisasi, bisa juga dengan cangkem (mulut).

Filosifi suket sebagai sesuatu yang terus tumbuh adalah spirit yang membuatnya bangga. Suket hanya butuh air dan sinar matahari. Kekuatan filosofi ini menggambarkan kekuatan ruang imajinasi dari wayang suket. Pertunjukkannya merupakan simbol grass root yang mempertanyakan tentang diri, bukan memberontak atau merusak. Konsep pertunjukannya adalah pelataran seperti lagunya, urip kuwi mung koyo bocah cilik dolanan nang pelataran.

Slamet Gundono mengemas Wayang Suket secara apik dan unik sebagai kreasi baru dunia pewayangan. Cerita yang diangkatnya bukan sekedar cerita-cerita klasik yang bersumber dari kitab Mahabarata, Ramayana, kisah Panji, atau kisah Menak, tapi sudah berkolaborasi dengan sumber cerita keseharian yang lagi menjadi sorotan. Gundono menyandingkan tokoh-tokoh wayang yang biasa dikenal dengan tokoh yang dicomot dari dunia keseharian sang dalang, semuanya berbalut kritik sampai joke-joke yang membuat penonton terpingkal-pingkal.

Ketika tampil di panggung, Slamet Gundono tidak menggunakan baju beskap, blangkon, dan keris di pinggang sebagaimana kaidah-kaidah seni pedalangan tradisional. Ia biasa tampil dengan pakaian setengah telanjang atau seperti koboi. Media pementasannya pun tidak menggunakan wayang, kecuali untuk gunungan atau beberapa tokoh. Malah kadang ia menggunakan buah-buahan hasil kebun; seperti cabe, mentimun, tomat, bawang merah, dan lain-lain yang tertancap di batang pisang; jika di panggung.

Dari pengalaman beberapa tahun memopulerkan wayang suket, ia menandai orang-orang yang mengundang wayang suket tidak sekadar nanggap. Ia menangkap romantisme kuat pada mereka, yakni romantisme masyarakat agraris. Itu ada di ruang bawah sadar orang-orang kota. Tak hanya orang-orang asal Jawa yang antusias. Penonton di Berlin, Jerman, pun memberikan antusiasme serupa. Begitu terkesannya pada pertunjukan Slamet Gundono, beberapa penonton mengundangnya makan malam seusai pentas.

Selain lakon masternya, “Kelingan Lamun Kelangan”, ada lakon-lakon lain yang digarap Slamet Gundono, antara lain; “Sukesi atau Rahwana Lahir”, “Limbuk Ingin Merdeka”, dan “Bibir Merah Banowati” tergantung segmen dan keinginan pasar. Di tangan Slamet Gundono, Wayang Suket menjadi tontonan yang enak, segar, dan penuh tuntunan. Ia berpijak pada seni tradisi dalam mengupas persoalan pada masa kekinian.

Komentar»

1. deztubby - April 14, 2008

ad yg taw alamatna ki dalang yg satu ini ga? atau ada yg taw seniman solo yg juga unik n asyik lainnya? buat tugas dokumenter niy..thx all

2. Rori - April 14, 2008

Wah-wah yang lagi ngebet garap tugas, yang saya tahu dari beberapa literatur Slamet Gundono beraktivitas di Padepokan Komunitas Wayang Suket, alamatnya ya di Ngringo, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Semoga sukses dengan tugas dokumenternya ya Des…

3. diah - Juli 11, 2008

Mas maaf wayang suket itu apa ya..?
dan usaha mas itu bagus banget semoga padepokannya
tambah BOOMING.
terus banyak yang Update wayang suket
hidup kesenian indonesia………

4. ubay - September 6, 2008

Buat om Nono semoga sukses dalam berkarya lewat wayang suket nya,jangan lupa kabar kabarin ya om kalo mao mentas di jakarta,insya alllah syamsul & mirna dateng.salam buat mba nuning & nandung yaa Om,Bravoooo

5. Qie - November 27, 2008

Wayang suket itu pertama kali di Populerkan oleh eyang tholib coba de liat blognya di http://wayangsuket.wordpress.com/

sekian terima kasih

6. sentot - Februari 24, 2009

Beberapa tahun yang lalu saya sempat melihat pentasnya mas Slamet, dan minggu kemarin hanya sempat lihat di koran Kompas Bagaimana ya kalau mas Slamet bisa tampil pada acara dilingkungan PNS yang sedang outbond sekitar 150 orang?????
Apa mungkin kira2 pelaksanaan di bulan April 2009.
Kemana saya harus menghubungi
Matur Nuwun sebelumnya. barangkali bisa Klop dan terjangkau
Sentot, Putra kelahiran Solo.

7. buneyasmin - Februari 4, 2010

Mas Gundono tinggal di Sanggar Suket, jl Sibela Timur III no 1 perum Mojosongo. Dia bisa dihubungi di no HP 08178478214

8. nayung - Februari 17, 2010

mojosong solo?

9. Rori - Maret 6, 2010

Wah jadi hiruk pikuk nyari Mas Slamet. Makasih buneyasmin yang dah ngasih alamat, makasih juga buat ubay, Qie, sentot dan nayung. Mas Slamet memang top, mengangkat seni tradisi dalam mengupas persoalan pada masa kekinian.

10. Azis wisanggeni - Oktober 11, 2011

Aku kan terus mengeja dari berbagi makna termasuk Ndiko, rasa cintaku pada senini yang lupa akan kesedihan didepan semua orang sebuah lakon yang berat dalam titi lan setiti

11. Muhammad Yatin Ali - Januari 27, 2012

slamet gundono adalah seniman yang sangat halus dalam menyindir tetapi sangat dalam jika dirasakan tapi itu hanya dapat dirasakan oleh orang2 yang masih punya hati, dan saya ingin banget liat kang slamet berkolaborasi dengan cak nun dan gus mus…………suwun……

12. okiwastab@yaho.co.id - Februari 22, 2012

ni dalang kontemporer apik bangat, bisa lucu romatis lan agamis, apamaning suarane nek gawe album tah keren loh!

13. dasmad - Agustus 28, 2012

wayang suket msh ada hub dengan yg di desa wlahar purbalingga ga yah..?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: