jump to navigation

Hegemoni Puisi Liris di Indonesia April 25, 2008

Posted by Mochammad Asrori in indonesia, puisi.
trackback

Tidak bisa dipungkiri, bahwa lirisisme dalam sejarah perkembangan puisi Indonesia selalu mendominasi semua ruang kreativitas, bahkan menjadi sebuah hegemoni bagi para penyair. Walaupun dalam beberapa kasus, dan akan selalu ada kasus baru, di mana para penyair muda akan mencoba keluar dari jalur utama itu dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.

Sapardi Djoko Damono, yang dikenal sebagai penyair pengusung lirisisme mengakui bahwa puisi liris timbul sejalan dengan kuatnya tradisi lisan di tanah air. Ketika sedang berbicara soal puisi, sebenarnya tidak akan berpaling dari membicarakan persoalan bunyi, yakni rima, tata kata, dan irama. Rima yang terdapat dalam puisi liris, kata Sapardi, adalah langkah untuk memudahkan orang melakukan pemenggalan terhadap penulisan dan pembacaan.

Sapardi tergolong dalam kelompok pengusung tradisi puisi liris bersama sejumlah tokoh, seperti Abdullah Abdul Kadir Munsyi, Sanusi Pane, Goenawan Muhammad, Acep Zamzam Noer, Ramadhan K.H., dan Sitor Situmorang. Sementara itu, kelompok pencipta arus alternatif diisi oleh Chairil Anwar, W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, hingga Afrizal Malna. Tapi lambat laun, kelompok terakhir ini juga kembali ke bentuk liris, seperti Chairil, Rendra, dan Remy Silado.

Dalam diskusi “Imperium Puisi Liris” di Bentara Budaya Jakarta, bulan Maret lalu, Afrizal Malna mengatakan lirisisme bukanlah hal mutlak dalam menciptakan karya puisi. Afrizal, yang terkenal dengan gaya sastra materialisnya, menilai puisi liris telah menjadi imperium dalam dunia kesusastraan Indonesia. “Seakan-akan penyair harus lewat lirisisme,” kata Afrizal.

Pendapat Afrizal ini bertolak dari pengamatannya terhadap perkembangan sejarah budaya masyarakat. Ia menuturkan, bahwa konteks perkembangan puisi liris dalam budaya lisan Indonesia bersumber dari hasil persentuhan dengan berbagai budaya luar lainnya. Persentuhan ini lambat laun membuat bahasa liris digunakan penguasa untuk menancapkan kukunya sebagai satu-satunya media yang memiliki nilai estetika. Ia menambahkan, ”Kekuasaan kolonial memakai lirisisme dengan mendirikan Balai Pustaka untuk melestarikannya.”

Bagi pengamat sastra, Kris Budiman, lirisisme merupakan sistem ideologi yang hegemonik dalam dunia sastra, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Dominasi puisi liris di Indonesia, kata dia, sudah bermula sejak Rustam Effendi dan Muhammad Yamin. “Warisan ideologi romantika pada puisi liris tidak hanya pada nyanyian, tapi juga pada proses produksi,” dia menambahkan.

Menurut Kris, diperlukan sebuah studi teks yang komprehensif mengenai kesusastraan Indonesia sejak zaman Majapahit. Perlawanan oleh kelompok alternatif, kata Kris, tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Pertentangan seperti itu, ujarnya, merupakan sesuatu yang kontinu atau memang selalu ada dan menghiasi dunia sastra. Hal ini merupakan kecenderungan penyair untuk tunduk pada konvensi puisi yang sudah diinternalkan.

Komentar»

1. langitjiwa - April 26, 2008

mas,postingan ini sangat berguna sekali bagi diriku.

2. Rori - April 28, 2008

Trims, pengennya memang tiap postingan ada gunanya bagi yang membaca, kalau nggak, ya baca postingan yang lain sampai nemu yang ada gunanya, hehe…

3. langitjiwa - Mei 1, 2008

mas,aku ingin kirim beberapa puisiku ke jawapos atau surya. gimana caranya? terima-kasih

4. Rori - Mei 5, 2008

Hai, Langit Jiwa (Andra). Sori, baru jawab. Long week-end nih. Cara ngirim puisi? Yah, asal tahu alamat redaksi yang dituju, langsung aja tulis pengantarnya, sedang puisinya di-attach. Jangan lupa biodata singkat!

Tapi, Jawa Pos tidak rutin memuat rubrik puisi lho. Mending Surya, selain rutin, standar puisinya juga tidak terlalu tinggi, ramah untuk penyair-penyair baru. Alamat email Surya redaksi@surya.co.id. Kalau mau alamat dan data media-media lain, bisa diunduh di sini. Oke, met ngirim….

5. langitjiwa - Mei 5, 2008

terima kasih,ams. atas infonya
salamku

6. Rindu - Mei 23, 2008

*nyimak …*

7. chairan hafzan yurma - Juni 12, 2008

salam… semula saya mau mencari blognya
a. muttaqin. saya coba cari di google, dengan kata kunci “rabu sore”. dan yang saya temukan blog berisi tentang sastra hanya ini. saya mau link ke blog ini dan mas juga link donk ke blogku,he..he.. apa diizinkan, mas?
oh iy, menarik benar tulisannya walaupun cuma sedikit. kecenderungan itu sepertinya juga tak lepas dari selera redaktur. begitulah adanya puisi yang dimuat koran mingguan. saya heran, apa tak ada ruang untuk bernafas lagi bagi orang-orang yang keluar dari jalur lirisisme itu? tak pula dapat saya berbohong. saya dulu juga nulis puisi seperti itu. tapi akhirnya saya lelah. tarikan nafas saya terlalu pendek. saya juga curiga, apa saya bakal cepat mati?he..he..

8. Rori - Juni 14, 2008

Trims buat Hafzan, saya rasa teman saya A. Muttaqin belum bikin blog, saya dengar beberapa hari lalu dia sibuk kerja di tempat baru. “bakal cepat mati?” Wah jangan lah….

9. Chairan Hafzan Yurma - Juni 15, 2008

OK lah.. titip salam aja buat dia. ha..ha.. becanda kok mas…

10. BigBaNG - Agustus 18, 2008

Zttt…, istirahat sejenak. Rasakan “pencerahan” dari buku terbitan kami, MUSLIMONOT dan PASTI ADA JALAN. Silakan mampir!

11. BigBaNG - Agustus 18, 2008

Planet Robot, yup!

12. bluethunderheart - Agustus 28, 2008

selamat malam salam, kenal dan salam hangat selalu

13. Esha Tegar Putra - Oktober 10, 2008

Numpang berkunjung mas..

esha

14. benny - Oktober 11, 2008

CintaNya Cahaya Yang Menerangi

http://www.duniasastra.com

Hati yang tercerahkan oleh cahaya Cinta, lebih berharga daripada semua kilau permata di dunia.

Tak ada penyembuh yang lebih baik daripada kehadiran orang yang dikasihi bila seorang pecinta sakit . Dan Tak seorang pun dapat mempercayai suatu perlindungan, betapa pun besarnya, kecuali perlindungan yang diberikan oleh Cinta.

Semua ‘kekuatan ajaib” -ada dan tercipta karena dorongan Cinta.
Betapa seorang induk ayam akan bertarung mati-matian dengan musang demi mempertahankan kelangsungan hidup anaknya.
Betapa ruang waktupun takluk dalam genggaman cinta, pernahkah kau rasakan ketika kekasih berada disisi?. Satu hari berpisah dalam Cinta sama dengan seribu tahun, dan seribu tahun bersama Kekasih terasa hanya sehari. Perjalanan ribuan kaki terasa hanya beberapa kaki, dan beberapa kaki terasa ribuan kaki tanpa kehadiran-Nya..

Dalam kesadaran Cinta. bentuk Cinta yang paling hakiki adalah Cinta kepada-Nya sebagai bentuk total penyerahan diri terhadap Sang Penggenggam Hidup, sedang cinta pada insan dan alam semesta menciptakan keadaan surgawi- apabila berlandaskan Cinta ; menjadi kabut duniawi bila menjelma hasrat nafsu.

Aku tak pernah tahu seberapa kerasnya hati ini, apakah sekeras baja?….bila ya,maka aku akan mengharap api cinta melelehkannya hingga ku dapat membentuk dan menjadikannya kembali dingin. Bila hatiku selembut lilin yang mudah meleleh ketika tersentuh api maka kuyakin dengan sumbu yang ideal,maka kudapat mempertahankan nyalanya hingga habis terbakar……Ataukah hatiku seperti kertas? Menyala dengan cepat lalu menjadi asap sekejap.

Dalam keheningan ini, kuingin kau tahu bahwa Cinta-Nya pada kita laksana bara api yang saling terkait , yang terangnya adalah cahaya atas cahaya. Bila api cinta ini menyala, maka Sang Terkasih akan menerangi jalan dan kegelapanpun lenyap.
Mungkinkah kita dapat mempertahankan api cinta kita, untuk tetap menyatu dalam cahaya keterpisahan-Nya?….

Kala jiwa terbangun dalam keterjagaan malam, Pernahkah jiwa bertanya : “Mengapa tiba-tiba hati ini selembut kapas?!”,….”Sihir macam apakah yang melemahkan kemudaan dari bahu dan mematahkannya hingga hancur berkeping-keping?!”…

Tolaklah kenyataan ini, maka retaklah cermin itu, bukankah merupakan kesia-siaan belaka, seumpama wajah rupawan berkaca pada cermin yang retak ?. Dan Bagiku jiwa yg resah…. dapatkah jiwa memandang diri sebelum memandang orang lain?!…..dan dapatkah kau bangkit dari kematianmu sebelum kau menuju pada kematian yang sesungguhnya?!”……

Rahasia setiap pencapaian dalam setiap agama dan mistisme adalah Cinta. Konon tanpa Cinta sang pencari akan menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam jalur ini, dan akan selalu gagal untuk memusatkan pikiran mereka pada satu kesadaran.

Laksana “mata ketiga”, pesan telepati yg disampaikan kepada kekasih menghadirkan bunga-bunga Imajinasi, pikiran, mimpi dan visi seorang pecinta, semuanya mengungkapkan segala sesuatu tentang Dia yang dicintainya.

Tetapi cinta memaksa pecinta, menahan visi tentang kekasihnya di depan pandangan-Nya yang tertutup oleh pandangannya. Cintanya sendiri adalah Cermin pemantul bagi bayang yg bercerita tentang diri, ,orang lain serta lingkungan yang dikasihinya.

Dan aku menyadari tiada daya yang lebih besar daripada Cinta. Semua kekuatan muncul ketika cinta bangkit di dalam hati.
Andai mereka tahu bahwa rahasia semua itu berada di dalam Cinta!

Hartono Beny Hidayat

Dalam tangisku ini, Ya Allah, anugerahilah jiwa hambamu ini dengan hangatnya CintaMu,
dan mencintai mereka yang mencintaiMu,
dan mencintai apapun yang mendekatkan aku padaMu,
dan jadikan cintaMu lebih berharga bagiku daripada air segar bagi dahaga.

15. inadwiana - April 9, 2009

Salam kenal,
Info ini menambah wawasan mengenai dunia sastra di Indonesia,
termasuk buat saya yang mempunyai hobby menulis..

16. anis - Juli 4, 2009

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.malam,saya anis mau tanya kalau ngirim puisi tuh bisa melalui email atau pos?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: