jump to navigation

Golf Untuk Rakyat Oktober 23, 2008

Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, profil, puisi.
Tags: , ,
trackback

Lho Kang Karto, kok cuma ngelamun di kebun. Sudah pernah main golf belum? Kalau belum ya tunggu sampai dapat dawuh, siapa tahu sekali sampean ayunkan stik sampean langsung deh dapet hole in one.

Ini perkara pembangunan lapangan golf di awal PJPT kedua di Indonesia. Den Mas Menteri Jeroan ngendika, golf dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sedang Menteri Kanuragan bilang, golf pertanda masyarakat kita sudah lebih sejahtera.

Lha ya berapa banyak lapangan golf mesti dipasang untuk menyejahterakan dua ratus juta rakyat, berapa tumbal mesti dikorbankan untuk mengempiskan kantung-kantung kemiskinan. Gusti kami tunggu dawuh paduka.

Sementara Menteri Pagupon pesan, “Silahkan bikin padang golf mister, asal jangan gusur rumah rakyat.” Dan Menteri Besar Jogoboyo wanti-wanti, “Silahkan bikin padang golf Sir, asal bangun juga sarana olahraga buat para kanoman.”

Begitulah secuplik sajak Golf Untuk Rakyat yang ditulis oleh Darmanto Jatman. Sajak adalah ungkapan personal, satu ekspresi individual penyair, namun sebagian besar sajak Darmanto Jatman bukanlah semata ungkapan personal, ia cenderung menggunakan bentuk puisi sebagai kendaraan untuk mengungkapkan gagasan-gagasannya terhadap masalah-masalah sosial.

Sajak ”Golf Untuk Rakyat” ini pernah dilarang untuk di baca. Saat itu Darmanto Jatman diundang oleh Linus Suryadi dkk untuk turut dalam acara pembacaan sajak di Purna Budaya, Bulak Sumur Jogja. Beberapa polisi datang dan mereka menyatakan bahwa sajak itu dilarang untuk dibaca karena suasana di Jogja saat itu sedang kritis karena ada pembangunan lapangan golf yang kemudian di demonstrasi oleh masyrakat karena membuat beberapa orang termajinalisasi dan tersengsarakan akibat penggusuran-penggusuran.

Darmanto Jatman dilahirkan di Jakarta 16 Agustus 1942 dari sebuah keluarga priyayi Jawa Jogya. Keluarga, baik dari garis keturunan Ayah maupun Ibu semua tinggal di Jogja. Namun karena keduanya harus sekolah dan bekerja di Jakarta, hingga akhirnya menikah di Jakarta pula, maka lahirlah Darmanto Jatman di sana.

Darmanto Jatman sudah menulis puisi sejak di bangku SMA dan kemudian mengirimkannya dan dimuat di beberapa media. Pada tahun 60-an puisi-puisinya mulai dimuat di majalah kebudayaan Basis dan Horison. Sejak itu kepenyairannya mulai dikenal luas. Sekalipun sudah dikenal sebagai penyair, Darmanto malah menempuh pendidikann tingginya di bidang psikologi Universitas Gajah Mada.

Ia merasa untuk jadi penulis bekal yang terpenting adalah pemahaman tentang manusia, maka ia memilih psikologi dengan harapan bisa mengetahui atau lebih memahami manusia dengan psikologi. Tapi kemudian, setelah hampir menjadi sarjana,ia malah menyadari bahwa psikologi yang dipelajarinya itu malah menjauhkannya dari manusia, tidak membuatnya mengerti tentang manusia.

Ia malah merasa psikologi membuat manusia seperti Cadaver, manusia dianalisis, tidak membuat empati atau simpati pada orang yang harusnya dimuliakan. Padahal dalam bersastra ia merasa harus memahami manusia seperti yang ia cintai, seperti yang ia hormati, seperti yang ia kenal, seperti yang ia gauli.

Antara tahun 1972-1973, Darmanto Jatman sempat tinggal di Hawai. Ini pertama kalinya ia berkesempatan tinggal di luar negeri. Disinilah penyair ini mengalami kejutan budaya di luar kejawaan yang kemudian tercermin dalam puisi-puisinya. Pengalaman memakai bahasa selain bahasa Ibu rupanya menggugat bangunan kesadaran berbahasanya. Ia merasa tidak dapat menyamakan pengalaman-pengalaman berbahasa Jawa dengan bahasa lain. Pengalaman otentik dalam bahasa tertentu menurutnya harus diutarakan menurut bahasa itu, tidak perlu mencari padanannya dalam bahasa lain.

Darmanto Jatman merupakan salah satu penyair yang mencoba menggunakan pandangan hidup orang Jawa dalam upaya menyampaikan tema modern. Pandangan hidup yang tidak selalu digarisbawahi, tapi kadang-kadang juga dijegalnya, ditekuknya, sehingga menjadi sangat menarik. Ia terampil memainkan ironi dengan menggunakan metafor-metafor, ungkapan-ungkapan, atau tamsil-tamsil dari banyak kebudayaan, terutama Jawa untuk menyampaikan sesuatu yang khas.

Selain Hawai, Darmanto juga pernah tinggal di London pada tahun 1977-1978 untuk belajar sosiologi. Di sanalah beberapa sajaknya yang terkenal ditulis, seperti sajak Isteri, Anak, Rumah, dan Marto Klungsu dari Leiden. Simaklah nukilan puisinya, Bahwa Aku Merasa Tua yang berakar kuat dari kemampuannya memahami manusia dengan segala empati dan simpatinya.

Bahwa Aku Merasa Tua

Sekarang bahwa aku merasa tua, gemetar tanganku menyentuh bibirmu isteri yang tua, bijak dan setia. Tak ada lagi asmara untuk kita bagi berdua. Hanya tingagal angan-angan menetes pada kedua telapak tangan kita.

Ah, ah, ah, Sekarang bahwa aku merasa tua, aku tahu ada batas waktu bagi kita, ada batas kalori jatah kita yang kita bakar habis sia-sia, waktu kau purik dan aku berzina, sebab bukankah bunga-bunga tulip yang mekar di luar tak bermaksud menyuramkan ayesin yang kupelihara dalam kamar, tapi kenapa tanganku mesti gemetar, mengusap wajahmu yang makin tua, yang sungguh mati bukan urusanku

dan sekarang bahwa aku merasa tua, kenapa terus juga aku nyinyir bertanya-tanya, sementara jawabnya dulu telah lama kau berikan, waktu kau bersimpuh di kakiku yang lumpuh oleh beribu perkara

Ya, ya, kita memang pernah muda

Begitulah Darmanto dan perjalanan panjang kepenyairannya. Pada tahun 2002 Darmanto Jatman menerima penghargaan SEA Write Award. Tulisan-tulisan sajaknya sudah di kumpulkan dalam beberapa buku, seperti Sang Darmanto, Bangsat, Ki Blakasuta Bla Bla, Golf Untuk Rakyat, Isteri, Ditunggui Naga, dan Kumpulan Sajak-Sajak Lengkap: Sorry Gusti.

Di masa menjelang pensiun dari menyair, bersama beberapa rekan ia mendirikan departemen psikologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Diponegoro dan menjadi pengajar di sana. Sebagai akademisi ia juga menelurkan buku-buku, diantaranya buku Psikologi Jawa, sebuah karya yang membahas teori-teori mengenai cara memahami manusia dalam konteks kebudayaan. Jatman. Psikologi yang ia kembangkan adalah psikologi yang memahami orang, mencintai orang, yang memuliakan orang, dengan empati dan simpatinya. Psikologi yang melatih untuk memahami orang lain.

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. langitjiwa - Oktober 26, 2008

hanya mau mengucapkan slmt malam saja.
sdh lama aku tdk berkunjung keblogmu ini.
salam

2. Rori - November 7, 2008

Alo juga mas, saya juga lama absen kok, hehe…

3. The Dexter - November 15, 2008

Dua jempol buatmu Bro….. salam kenal

4. Rori - November 17, 2008

Salam kenal juga Bro…

5. dewa api - Juli 30, 2010

mantaf. jdi ingat dulu pernah baca karya2 darmanto jatman

6. Brotoadmojo - Oktober 24, 2010

karya pak Darmanto memang bagus, saya suka🙂

7. rou'd scooter holic - Oktober 25, 2010

dulu…kala aku kecil..tiap mw tdur pasti dengerin syair bla bla bla…marto klungsu dari leiden…karya darmanto jatman…sayang kaset nya udah hilang…tolong bantu aku bwt nyari kaset ato mp3 yang memuat karya karya darmanto jatman…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: