jump to navigation

KLA Untuk Jantung Lebah Ratu November 20, 2008

Posted by Mochammad Asrori in berita, indonesia, puisi, woro-woro.
Tags: , , , ,
trackback

Kamis malam, tanggal 13 November di Atrium Plasa Senayan Jakarta, “Jantung Lebah Ratu” milik Nirwan Dewanto dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Khatulistiwa Literary Award (KLA) untuk Kategori Puisi. Menurut Hamsad Rangkuti “Jantung Lebah Ratu” mewakili spirit sastra yang serius dan matang. Pernyataan tersebut sekaligus kritik terhadap banyak bermunculannya penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat kata-kata dan mementahkan gagasan yang bernas dan sublimasi bahasa sebagai hal terpenting. Tapi apa semua setuju pernyataan tersebut?

Sebelumnya, saat mulai terbit, banyak serangkaian komentar mengenai “Jantung Lebah Ratu”. Dan bila dibaca, memang sebagian merupakan kritik pedas terhadap karya Nirwan. Kita bisa membacanya dari blog penyair OOk Nugroho dan Hasan Aspahani. Yang disebut terakhir ini bahkan membuat esei bersambung bertajuk “Tiga Belas Cara Saya Membaca Sajak Nirwan”

Rupa-rupa kritik dari Hasan Aspahani diantaranya adalah bagaimana ia menyoal kata yang kerap muncul dalam “Jantung Lebah Ratu”. Baginya amat menarik bila bisa menemukan satu dua kata yang pada satu kurun waktu tertentu digemari oleh seorang penyair dan dipakai dari sajak ke sajak. Kata yang menjadi lain penampilannya di dalam sajak, dibandingkan dengan kehadirannya di luar sajak atau di sajak dari penyair lain. Seperti Joko Pinurbo menghadirkan kata “kuburan”, “ranjang”, “kamar mandi, dan tentu saja “celana”.

Ia menemukan dua kata (dan sinonimnya) yang bersama-sama muncul tak kurang dari 35 kali, yaitu kata “jantung” dan “payudara” (bersama “susu” dan “dada”). Dalam pengamatannya kata “jantung” dan “payudara”, juga kata-kata lain, terlalu sering hanya dihadirkan sebagai mana adanya. Tidak ada peluang untuk memberi makna lain pada kata-kata itu. Beda dengan Jokpin. Jokpin amat suka dan berhasil mempersonifikasikan benda-benda mati. Jika dibandingkan dengan Afrizal Malna? Menurutnya, Nirwan juga tak sehebat Afrizal, persajakan Afrizal dijalankan seakan-akan dengan sebuah sistem yang di rancang khas, sistem yang mapan dan kemudian kata apapun atau tema apapun yang hendak ia sajakkan akan tunduk pada sistem persajakannya itu.

Menurut Hasan Aspahani, Nirwan mengandalkan sajak-sajaknya pada kekuatan komposisi kalimat. Ia seorang yang memerhatikan arsitektur, dan ketika menata ruang-ruang di dalam sajaknya gairahnya berkurang. Ibarat kata, dia sudah berhasil membangun gedung yang arsitekturnya kompleks, berliku-liku. Dia merasa tidak lagi harus terlalu cerewet menata pencahayaan di ruang-ruang bangunan itu, dia tidak lagi ingin menggantungkan satu dua lukisan di dinding-dinding dalam gedungnya. Atau meletakkan pot bunga di beberapa sudut ruangan sajaknya.

Atau baginya, desain interior itu adalah bagian yang terpisahkan dari arsitektur, maka detail ruang sajak-sajaknya selesai tertata ketika komponen pokok bangunan dibangun. Ibaratnya, gedung-gedung persajakannya itu memang sah selesai. Pemborong teken laporan, dan dapat bayaran. Tak ada lagi dinding yang dibiarkan menampakkan bata telanjang. Megah. Mewah. Tetapi pintunya yang gagah itu tampak selalu tertutup. Ditambah lagi, tak ada jalan ke pintunya, apakah orang yang lalu lalang di jalan depan rumah itu akan tertarik untuk singgah dan masuk? Mungkin dia akan bilang, “ah buat apa menerima para tamu buta?”

Begitulah rupa-rupa komentar tentang “Jantung Lebah Ratu”. Memang banyak sekali cibiran yang di alamatkan pada Nirwan. Hal ini bermula saat ia mengikuti International Writing Program (IWP) University of Iowa. Nirwan disebut memiliki (bukan telah menerbitkan) satu buku kumpulan esei, satu kumpulan puisi Buku Cacing, dan “dalam waktu dekat” akan menerbitkan buku Perenang Buta. Padahal IWP menyebutkan sejumlah persyaratan, antara lain sudah menerbitkan minimal sebuah buku (puisi, novel atau kumpulan cerpen – kumpulan esei tidak dihitung) atau setara dengan sejumlah karya yang terbit media lain (jurnal, majalah, dan antologi – surat kabar tidak disebutkan). Berbekal sebuah kumpulan esei, manuskrip yang belum terbit, serta sebuah rencana buku, Nirwan mewakili sastrawan Indonesia di Iowa. Itulah kenapa Saut Situmorang menggugat dan mempersoalkan keberangkatannya.

Tentu masih banyak yang lain, tapi cukuplah berbantah-bantah. Kembali ke KLA, Khatulistiwa Literary Award, memang salah satu ajang rutin untuk memberikan apresiasi pada kerja keras dan prestasi dalam dunia kepenulisan sastra di tanah air. Ajang ini dilaksanakan melalui tiga tahap seleksi mencakup karya yang terbit sejak Juli 2007 hingga Juni 2008. Seleksi terakhir dilakukan oleh tim yang digalang Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Remy Sylado, dan Linda Christani.

Ajang ini tidak tanggung-tanggung memberikan suntikan dukungan bagi penulis, untuk kategori buku prosa terbaik dan buku puisi terbaik, masing-masing mendapat hadiah uang 100 juta rupiah. Sedang untuk kategori prnulis muda berbakat mendapatkan 25 juta rupiah. Bersama “Jantung Lebah Ratu”, juga dinobatkan Novel “Bilangan Fu” milik Ayu Utami untuk Kategori Prosa, dan “Cari Aku di Canti” karya Wa Ode Wulan Ratna, untuk Kategori Penulis Muda Berbakat. Ayu Utami, novelis yang terkenal melalui novel dwilogi “Saman” dan “Larung”, mendapatkan catatan sebagai orang yang turut mengembangkan kehidupan sastra tanah air dengan basis penelitian yang kuat.

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. Hyu - Desember 21, 2008

numpang lewat om……
keren lah….

2. langitjiwa - Januari 1, 2009

mas Rori,menulis puisi yang baik itu bagaimana?
selamat tahun baru,mas.
salam hangat selalu.
oh iya,mas.
kalau boleh tanya alamat sampean di surabaya dimana,mas?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: