jump to navigation

Anak-Anak Kata yang Santun Pada Ihwal Desember 17, 2009

Posted by Mochammad Asrori in budaya, indonesia, puisi.
Tags: , ,
trackback

Kau pasti menertawaiku, karena seringnya aku berbicara tentang puisi tapi aku tak pernah menghanyutkan satupun yang serupa puisi dalam kedai ini. Jadi kawan, di bulan yang penuh berkah, di awal tahun hijriyah, inilah beberapa (yang serupa) puisi dariku. Kutebarkan untukmu. Semoga nantinya jadi anak-anak kata yang santun pada ihwal yang melahirkannya.

Mematikan Lampu Beranda Rumah

dia menyambut malam dengan mematikan lampu beranda rumah
karena kupu-kupu sewarna pandan selalu hinggap dan mencelupkan sayap
di cangkir teh hangatnya yang wangi melati hutan

dia menyambut malam dengan mematikan lampu beranda rumah
karena kucing pelangi hitam putih selalu meloncat ke atas kursi jalinan harum rotan
dan menjilati tulang-tulangnya yang kuyup oleh hujan

kupu-kupu sewarna pandan itu selalu mengabarkan tetamu yang pangling
saat berhenti di halaman, sama seperti kucing pelangi hitam putih
yang menggeliat dan mengasah cakarnya dengan mengoyak secuil kabar
di awal pagi tadi, kabar dari halaman koran

2008

Rumput di Telapak Tanganku

saat kau tidak pulang ke rumah semalam
rumput-rumput mulai tumbuh di telapak tanganku

kau hanya tertawa dan menganggapku manja
kau pun menyewa seorang tukang kebun
sebagai isyarat bukan malam ini saja nantinya
kau tidak pulang ke rumah

katamu, tiap pagi dan menjelang petang, tukang kebun itu
dengan sabar akan babat rerumput yang memenuhi
telapak tanganku dengan gunting besar dan sabit

mungkin kau alpa mengeja rumput
tapi begitulah rumput, saat aku mandi
rumput itu telah berbunga di telapak tanganku
saat kumulai makan malam rumput itu telah rapat
tumbuh di punggungku, saat rebah tidur
keesokan pagi aku telah sempurna menjadi
semak-semak

2008

Senandung Tiupan Paru-Paru

aku keluarkan sebangun rumah mungil
dari tiupan paru-paruku, karena dalam rahimmu
anak-anak menyenandungkan perjalanan rotan
yang dihanyutkan sungai dari belukar hutan

: lelaplah mereka dalam segenggam tembang rotan
yang ditasbih menjadi ranjang goyang

aku keluarkan sepetak halaman dari tiupan
paru-paruku, karena di penghujung tembang
anak-anak mulai rajin menyemai embun
agar rumput cepat tebal dan empuk rimbun

: berlarian mereka mengejar kupu-kupu
menyengaja jatuh terantuk sesuatu, telak menimpa
rimbun bunga sepatu yang baru seminggu
kukeluarkan dari tiupan paru-paruku

senandung tawa anak-anak dalam rahimmu
adalah umbar tawa paling terang, terulur panjang
menjelma benang dan langlang layang-layang

2008

Potongan Kata

aku tertidur di emper-emper malam saat hujan turun
menghanyutkan potongan kata-katamu hingga ke muara

aku mengejarnya saat terjaga
berloncatan di batang-batang punggung buaya
menelusup di sulur-sulur ekor bakau rimba
menyelam ke dasar sela terumbu-terumbu purba
memungutnya kembali sebelum matahari rekah
dipunggungku yang telah ditumbuhi ganggang merah

karena aku belum sempat mengejanya
karena aku belum sempat merekatkankan potongan kata-katamu
menjadi rumah

2008

Bagaimana kawan, semoga empat puisi dari penjaga kedai yang malas ini mampu menghiburmu. Ya, ya, aku tahu kawan, Kau pasti melihat tahun kelahirannya yang sudah usang. Baiklah-baiklah, di kesempatan berikutnya akan kuhanyutkan sejumput anak-anak kata segar untukmu, teristimewa. Semalam kulihat belukar kata di kepalaku juga sudah rimbun timbun. Tapi untuk saat ini cukupkanlah, sekarang jerangan kantukku sudah mulai menggelegak. Salam.

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. salsabila - Februari 1, 2010

uy salah ya bikin puisinya , tapi bukan ak ngenjelekin tapi emang benerrrrrrrrrrr . maaf ya sedikit komentar kalau judul harus beda size nya sama isi puisinya. benerin ya

2. nasya - Februari 1, 2010

Hai , maaf ya sedikit komentar puisimu itu bagus tapi ada yang kurang tanggalnya gak ada dan judulnya jngn sama size nya ok, perbaikin ya kebetulan aku lg ada pr bahasa disuruh nyari puisi sama guruku . memang kalau sdh kels 5 susah banget pelajarannya apalagi buat puisi

3. Rori - Maret 9, 2010

Trim buat salsa dan nasya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: