jump to navigation

12 Kupas Kulit Asmaradana (Bagian 2) Desember 29, 2009

Posted by Mochammad Asrori in essay, indonesia, puisi.
Tags: , , ,
trackback

Kata-kata yang bertebaran di sekeliling kita, yang sudah menjadi begitu umum dan abstrak, yang sudah diberi arti yang kaku oleh kamus, tak akan mampu mendukung imaji seorang penyair.

Puisi adalah suatu unikum, hasil dari pengamatan yang unik seorang penyair. Hal ini tak bisa dicapai kalau si penyair dengan tenang saja mengoper kata-kata yang bertebaran di sekelilingnya, menyesuaikannya dengan dunianya yang baru, yang unik.

7

Sampai di sini nampak bahwa tugas penyair terberat adalah melawan kata-kata, untuk bisa menguasainya kemudian memurnikannya dan memberinya bobot.

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa
hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bima sakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya
disebutkan.
…………….

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.
(Sajak Asmaradana, Goenawan Mohamad)

Dunia memberi kehidupan kepada manusia sehari saja. Tapi dunia terus memberinya, tak pernah berhenti. Jika hidup adalah kesenangan maka mati adalah kedukaan. Jika hidup adalah kecahayaan maka mati adalah kegelapan. Jika hidup adalah optimisme maka mati adalah pesimisme.

Jika hidup adalah …maka mati adalah… .

Jika hidup adalah keinginan, maka mati adalah kekosongan. Keinginan dalam kehidupan bukanlah suatu keharusan untuk menjelma menjadi kenyataan karena sebagian keinginan hanya akan berhenti pada keinginan itu sendiri, bahkan keinginan tak memberinya apa-apa.

5

Jika dunia adalah ibu, maka dunia memberikan kasih sayang kepada manusia seperti ibu. Jika dunia adalah ibu, maka dunia rela untuk selalu menunggu anak-anaknya menjadi dewasa. menjadi manusia, menjadi pusaka, menjadi harapan, menjadi tumpuan.

Apakah semua itu berari antara nilai dan kesakralan dan kesurgaan kaum ibu sangat berbeda dan terpisah dengan nilai produktivitas kaum ibu di sektor publik?. Artinya masih ada kemungkinan nilai kesakrakalan dan kesurgaan kaum ibu bergandengan dengan nilai produktivitas kaum ibu di sektor publik? Atau justru nilai kesakralan dan kesurgaan kaum ibu terbenam selaras dengan berkembangnya nilai produktivitas kaum ibu di sektor publik?

Masih panjang perdebatan tentang hal ini. Yang menarik adalah, jika saat ini ada seorang mirip posisi Ibu Kunti dalam perang Baratayuda mendatangi seseorang yang mirip Adipati Karna untuk meminta kematian anaknya yang hilang itu, apakah masih ada?

Jawabannya hanya ada dalam mitos pewayangan. Maka seperti itulah Goenawan Mohamad menulis dalam Sajaknya Sajak Buat Arti:

………..
Demikian itulah bermula
sebuah klise:
Seorang anak, yang berkata,
Aku pergi ke sebuah sore.
Dan seperti semestinya
ia ke dermaga
dengan pantalon katun tua
meninggalkan ibunya

Kudengar, Ibu, layar beringsut
Kudengar garam berdesir
Kudengar palka menyusut
Kudengar hujan menyisir
Adakah ia gentar?
Siapakah yang gentar?
Ibu itu tak hendak melambai
hanya tangisnya menatap lantai

Lihat, Bu, bayang-bayang
Lihatlah aku.
Sesuatu yang menghilang
ketika senja sampai ke pintu.
Esoknya tak tiba surat
karena ibu adalah menunggu
Kamar menatap. Cahaya berat.
Sebuah lampu. Sice tanpa tamu.
……………….

6

Jika hidup adalah belajar mengemas setia, maka kehidupan itu sendiri adalah kesetiaan, Jika hidup adalah belajar untuk mencintai, maka kehidupan itu sendiri adalah cinta yang tak pernah putus, tak pernah berhenti mengayomi manusia.

Jika hidup adalah sebuah dongeng sebelum tidur, maka dongeng itu akan selalu hidup dalam tidur manusia yang beraneka ragam menjual mimpi. Lewat sajaknya yang satire, Goenawan Mohamad menyisirkan sebuah cerita, sebuah dongeng. //Mengapakah tak percaya/Mimpi akan meyakinkan seperti matahari pagi//.

Marilah disimak penggalan mengenai dongeng seorang Raja Jawa yang bisa berbicara pada binatang (cecak), namun tak mau menceritakan isi perbincangan cecak tersebut kepada permaisurinya. Sehingga Sang Raja pun mengeluh //Batik Madrim, Batik Madrim, mengapa harus, patihku?/Mengapa harus seseorang mencintai kesetiaan lebih dari/ kehidupan dan sebagainya dan sebagainya?//

STIFORP Indonesia

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: