jump to navigation

12 Kulit Asmaradana (Bagian 4) Januari 30, 2010

Posted by Mochammad Asrori in budaya, essay, indonesia, puisi.
Tags: , ,
trackback

Dengan kata-kata, roh dan semangat yang dikandungnya, puisi dapat terus menerus menjaga dan menghidupkan kemanusiaan. Hidup dalam puisi, berarti ikut sejiwa dengan kata. Penyair tidak lagi dibatasi oleh kelamin, usia, apalagi ras dan keturunannya. Tidak penting lagi apakah penulisnya sudah mati atau masih hidup.

Dan mengenai puisi dapat terus menerus menjaga dan menghidupkan kemanusiaan dapat terlihat dalam lirisnya sebagai berikut:

Tiga anak menari
tentang tiga burung gereja
Kemudian senyap
disebabkan senja
Tiga lilin kuncup
pada marmer meja
Tiga tik-tik hujan tertabur
seperti tak sengaja
”Bapak, jangan menangis”
(Sajak Anak-Anak Mati, Goenawan Mohamad)

Penyair pada khususnya, tidak hanya memberi harga pada sesuatu yang sia-sia; yang lebih penting lagi memberi harga pada seseorang yang sia-sia. Puisi harus berada di pihak manusia korban, manusia yang lemah, yang tertekan, yang terasing atau diasingkan dari kenyataan kekuasaan, dari komunikasi kemanusiaan.

Jika di tinjau lebih dalam lagi pada sajak anak-anak mati, Goenawan menggambarkan bagaimana seorang anak menahan Bapaknya untuk tidak menangisi bagaimana sisi kehidupan mereka, bagaimana anak-anak menjadi lebih tabah dan tegar dalam menghadapi pahit getirnya hidup.

Dan ketegasan Goenawan Mohamad mengenai dunia kepenyairannya tampak jelas serta semakin mengukuhkan kepedulian hatinya dalam lingkup sosial nampak dalam sajak Hari Terakhir Seorang Penyair, Suatu Siang.

Di siang suram bertiup angin. Kuhitung pohon satu
-satu
Tak ada bumi yang jadi lain: daun pun luruh, lebih bisu
Ada matahari lewat mengendap, jam memberat dan
hari menunggu
Segala akan lengkap, segala akan lengkap, Tuhanku
Kemudian Engkau pun tiba, menjemput sajak yang
tak tersua
Kemudian hari pun rembang dan tanpa cuaca
Siang akan jadi dingin, Tuhan, dan angin telah sedia
Biarkan aku hibuk dan cinta berangkat dalam rahasia.

10

Bagaimana sebetulnya obsesi pengarang atau penyair, tentu saja tergantung pada pengarangnya sendiri10. Obsesi pengarang menyangkut hakikat kehidupan, bukan aspirasi, bukan cita-cita, dan juga bukan ambisi.

Obsesi pengarang datang dari dalam dirinya sendiri, meskipun pemicunya bisa datang dari luar dirinya. Apakah mungkin seseorang menunda kematian, memilih orang tua sebelum dilahirkan, dan menolak untuk menjadi orang melarat. Sehingga Budi Darma menyatakannya bahwasanya obsesi pengarang, yaitu serangkaian pertanyaan yang terus menerus mendorong pengarang untuk menulis.

Rupanya Goenawan pun menangkap apa yang diisyaratkan oleh Budi Darma itu sehingga ia menulis sajak Nota Untuk Umur 49 Tahun di bawah ini:

Pasir dalam gelap waktu
menghambur
ke dalam plasmaku
Lalu di sana tersusun gurun
dan mungkin oase
tempat terakhir burung-burung
(Sajak Nota Untuk Umur 49 Tahun, Goenawan Mohamad)

11

Jika dunia adalah puisi, mengapa tak membaca dunia.
Jika dunia adalah puisi, mengapa tak mencatat Dunia.
Jika dunia adalah puisi, mengapa tak mengenalinya.

12

Jika dunia adalah puisi, maka sebagian dunia telah tercatatkan di buku kumpulan puisi Asmaradana, Goenawan Mohamad ini. Jika belum beragam yang tercatatkan mengapa tidak belajar mengenalinya.

Yang ada hanya aku:
tangan yang menulis
pada sabak hitam
ketakutanku
telah pulang
Dosa telah dilenyapkan
Senja telah dibersihkan
Dan langit telah lapang
Tapi aku tak bisa pulang
Tubuh itu juga
(Sajak Perempuan Yang Dirajam Menjelang Malam, Goenawan Mohamad)

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. winant - Januari 30, 2010

keinginan……
harapan…..
impian………
saling mendahului untuk berpacu mencapai puncak
sedangkan keadaan memaksa menempuh puncak yang sepi
puisi menjadi jalan setapak penghibur jiwa
puisi menjadi segenggam obor penerang cahaya
atau gelap menguasai dan menyelimuti dalam kehangatan

2. abie - Februari 27, 2010

keren

3. Rori - Maret 6, 2010

Aduh, duh… Winant dan Abie
Salam…

4. ketoles - Maret 6, 2010

Bagus banget

5. iin syah - Maret 11, 2010

Bagaimana dgn aku, penyair yg terbuang dari kumpulannya?
Slm kenal…

6. evi rantian - April 30, 2010

Mas Goen,membuat sy slalu merasa jatuh cinta ….
Dan menjadi orang sinting yang bermakna penting ..
Paling tidak utuk mengungkapkan hal hal penting yg ada dlm kepala sy yg sinting.

7. Dede Farhan Aulawi - September 21, 2010

Akhir Sebuah Cerita
Oleh : Dede Farhan Aulawi

Sahabat…
Kita semua adalah manusia biasa…
bukan manusia hebat yang selalu tahan menghadapi setiap godaan
…yang selalu tabah menghadapi setiap ujian
…yang selalu sabar menghadapi setiap kesulitan

Memang segala sesuatu pada akhirnya kita kembalikan pada Dia yang Di Atas
Tapi sebagai manusia biasa terkadang kita butuh orang tempat berbagi
…yang bisa leluasa mencurahkan segenap rasa
…meminta pendapat yang terbaik dan terbijak
…yang selalu telaten membimbing dan memberi petunjuk
Lalu kita berfikir dan mempertimbangkan semua,
…untuk memutuskan sikap yang terbaik atas banyak pertimbangan

Sahabat…
Kita memang perlu untuk terus belajar…
Belajar dan belajar…dari setiap jengkal perjalanan yang kita lalui
Terutama belajar akan arti dan makna kehidupan
Lalu bertanya dalam diri dan pada hati sendiri,
…sudah benarkah jalan hidup yang kita tempuh …?
…inikah jalan kebahagiaan yang selama ini kita cari dan kita dambakan ?
…yakinkah ini jalan kemuliaan menuju keabadian ?

Kita perlu terus bersikap konsisten dan konsekuen
Meskipun hal itu tentu bukan hal mudah
Karena kita hanyalah manusia biasa
…yang kadang teguh dalam keyakinan
…sesekali hanyut dalam gelombang kealfaan
…lalu sadar tuk kembali ke jalan kebenaran
…esok lusa kadang terpeleset dan jatuh kembali
Itulah manusia…
Kita sadar bahwa hal itu sebenarnya tidak baik
…tapi…,ya itulah kita yang tak luput dari salah dan khilaf
Oleh karenanya kita harus selalu memiliki kesadaran…
…sehingga saat menyimpang…tidak terus tersesat jalan
…tapi segera sadar, dan kembali ke jalan yang benar

Indahnya bunga yang mekar di tengah tebing bebatuan
Bukan sekedar indah…
Tapi juga tersirat pesan agar kita selalu waspada dan hati – hati
Karena saat salah jalan yang kita pijak,
…berpegang pada rumput lusuh dan kayu rapuh
…maka kita kan tergelincir dengan aneka kemungkinan,
Iya kalau kita masih bisa berdiri…,dan merangkak tertatih…
Tapi bagaimana kalau itu adalah akhir dari segala cerita yang kita ukir ???

8. dody.kristianto - April 11, 2011

Mas, klo gak salah ini tulisane Mas Yusuf yo? he3…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: