jump to navigation

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani Maret 11, 2010

Posted by Mochammad Asrori in budaya, essay, indonesia, puisi.
Tags: , , ,
trackback

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja:

”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab
di bingkai pertama, balon percakapan
itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut,
juga dingin dan kata-kata di dalamnya
jadi percik rintik.

Aku menggambar payung untukmu,
tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu:
”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Lalu kugambar sebuah rumah di bingkai kedua
dengan kamar-kamar labirin. ”Aku tersesat,” katamu.

”Tidak! aku bersembunyi dan kau mencariku seperti
permainan petak-umpet!”

DI bingkai ketiga, kugambar genangan basah
air mata dan keringat yang
berpunca dari resah dan lelah,
”Aku mau pulang dan tidur,” pekikmu
(Sajak ”Komik Strip, 1”)

Telimpuh adalah sebuah kumpulan puisi yang terdiri dari tiga bab: “Kitab Komik”, “Kamus Empat Kata”, dan “Malaikat Penjaga Gawang”. Sejumlah sajak yang ada dalam tiap bagian memiliki satu nafas dominan yang sama. Hasan Aspahani memang sering mendulang ide bahwa tiap kali seorang penyair menulis sajak, hendaknya ia memperhitungkan adanya kebaruan dalam karyanya. Kebaruan menjadi sesuatu yang selalu diikhtiarkannya tiap kali ia menulis sajak. Serasa “Tiba-tiba, bersama puisi, di depan dada terbentang gunung, langit, laut, sungai, semuanya juga menawarkan penjelajahan yang tak habis-habisnya.”

Dengan anggapan tersebut tak heran kita akan menjumpai sejumlah “eksperimen” dalam banyak puisinya. Eksperimen itu mungkin tercium dari tema-tema yang digubahnya jadi puisi; dari bau intertekstualitas yang diruapkan oleh sajak-sajaknya; atau dari cara ucap puisinya yang cenderung terus melakukan pengelakan terhadap “logat sajak” penyair-penyair yang telah lampau.

Pada “Kitab Komik”, semua sajak berkait dengan komik. Membacanya serasa diri kita dipenuhi beragam renungan percakapan yang dipenuhi paradoks. Seolah ada dua manusia yang berdialog dan tak pernah bisa menemu kata sepakat, meski upaya menuju “satu pemahaman” tak pernah benar-benar berhenti. Ada tegangan di sana, suatu perasaan kehilangan, uluran tangan, penampikan, dan pesimisme.

Pelajaran Bebas Menggambar Komik

Pada saatnya tiba, kita harus memberi
percakapan pada gambar itu, lanskap
dengan huruf bisu itu. Kelak ketika kita
khatamkan kitab komik ini, tak ada senyap
turun mendekap gurun, hati yang gerun.

Pada saatnya tiba, kita harus membubuhi
warna pada gambar hitam putih itu, dengan
pastel pelangi. Kelak ketika kita kumpulkan
kertas kucal ini, tak ada bidang kosong
yang menjerit, menuntut minta diwarnai.

Tapi, sebenarnya, percakapan tak selalu hadir dalam tegangan yang memancarkan sebersit pesimisme. Ia justru bisa mewujud menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan, semacam “penghidup” bagi sesuatu yang dulunya mati, menjadi “pewarna” bagi hal-hal yang sebelumnya kurang semarak.

Catatan Seorang Pembuat Komik

Sudah kuduga dia: tokoh komik yang baru saja
terbunuh di lembar terakhir cerita. Aku sangat
mengenal efek bunyi langkah kakinya. Dan, zing!
Tajam suara sunyi, bunyi diamnya. Tapi, siapa yang
terakhir memegang kunci studio? Aku hanya ingat
pesuruh kantor yang kuminta membakar sisa-sisa A3.

Sia-sia bergegas. Alamat dan rumah ternyata telah
terkemas, bersama kuas, pensil 3B, dan tinta cina.
AKu pun ternyata ada di sana: di dalam ransel kerja
yang selalu didekap dada – kadang di kepala. Ada
skenario gambar-gambar, narasi adegan, teks, dan
balon-balon ucapan yang belum digelembungkan.
“Mari pulang ke komik kita, Saudara. Engkau
sebenarnya hendak merantau kemana?” Siapa yang
berkata? Rasanya aku tak pernah menuliskan
kalimat yang diterbangkan tokoh komik itu.
….

Masih juga, ada yang terus mengikuti langkahku.
Bahkan ketika aku kembali ke studio, melangkah
melawan arah rumah, bahkan ketika kunyalakan
lampu di atas meja gambar. Pasti dia juga yang
membuat makam sendiri pada kertas-kertas yang
terbakar, eh ada batu nisan yang minta diberi
nama dan tanggal kematian. “Namamu sendiri,
Saudara. Kau tidak melupakannya, bukan?”

Dialog-dialog yang terucap dalam puisi itu lebih menyerupai gumam yang kebingungan. Di satu sisi, jelas bukan hanya aku-lirik yang ada di sana, tapi pada sisi lainnya, sosok yang mengajak bercakap itu tak sepenuhnya nyata. Kisah-percakapan yang terbentuk dalam puisi itu, akhirnya membawa semacam renungan eksistensial tentang rumah, kepulangan, juga kematian.

Pada “Kamus Empat Kata”, Hasan Aspahani membuat eksperimen unik: pada masing-masing sajak, ia memilih empat kata dengan huruf depan sama, kemudian menuliskan beberapa larik kalimat sebagai “penjelas” kata-kata tersebut. Ia membicarakan bahasa, percakapan, dan proses yang terkait dengan hal-hal itu. Pada sajak-sajaknya yang demikian, akan nampak dengan jelas bahwa bahasa, percakapan, dan manusia adalah tiga hal yang berada dalam ketegangan-ketegangan. Simak sajak “Kamus Empat Kata Berhuruf Awal P”:

PERTAL: Dari bahasa ke bahasa, kita saling menerjemahkan.
Masih saja ada yang tetap tak bisa kita mengertikan
sepenuhnya. “Biar saja, aku yang melupakan bahasaku,”
katamu. “Tidak, biarkan aku yang memperfasih bahasamu,”
kataku. Atau adakah waktu bagi kita untuk belajar mencipta kata
mengucapkan kita, dengan kamus yang sejak semula terbuka?

PERUAK: Lalu jarak itu semakin melebar. Melabur semua lembar.
Di seberang kau berteriak, aku hanya mendengar. Kau melambai,
aku hanya menyebut, “ah, diri yang lalai.” Lalu kau tenggelam, aku
belum juga sadar, hari sudah malam. Sudah lama larut malam.

PERUANG: Padahal sebenarnya, kita pernah bersama belajar mantera.
Mengapung di permukaan air. “Tapi, aku ingin tenggelam bersamamu,”
katamu. “Aku ingin kita berangkulan, melawan arus yang tak terlawan.”
Padahal sebenarnya, aku masih ingin tenggelam dalam keasingan
bahasamu-bahasaku. Padahal sebenarnya, aku nyaris sampai pada
kesimpulan itu: mungkin sungai itu adalah kamus yang mencatat
seluruh kata dalam hidup kita.

PERUM: Lalu, aku sendiri. Ada yang sepertinya sudah aku mengerti. Di tepi
sungai yang mencatat akhir keasingan bahasamu-bahasaku,
aku melabuhkan batu penduga. Seperti ada yang menyapa di seberang
sana. “Hei, kau hendak berlayar kemana,  Saudara?”

Dalam konvensi bahasa kita yang formal, kata ”pertal”, ”peruak”, ”peruang”, dan ”perum” memiliki makna yang cukup berjauhan. Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Balai Pustaka, 2006) menyebut ”pertal” bermakna menerjemahkan; ”peruak berarti menjadi lebar; ”peruang” terdefiniskan sebagai ilmu atau mantra yang menyebabkan tidak tenggelam di air; dan ”perum” sebagai batu penduga.

Makna keempat kata yang berjauhan secara formal itu, didekatkan oleh Hasan Aspahani dalam sajaknya. Puisi ”Kamus Empat Kata Berhuruf Awal P” menggemakan pada kita problem berbahasa yang dialami manusia dengan selipan kisah serta percakapan yang tragis dan menggemaskan.

Sajak ”Kamus Empat Kata Berhuruf Awal L, 2” juga berisi soal percakapan, bahasa, dan kata. Masih dengan situasi tarik-menarik yang khas, juga problem-problem yang mengalir, tapi kini dibumbui renungan-renungan:

LENGAR: Dia menyebutku dengan maksud yang lain,
kau mengartikanku dengan niat yang juga berbeda,
Dan pada akhirnya aku juga tak tahu dalam
percakapan sesederha apa hingga bisa memaknai
diri sendiri sepenuh-penuhnya. “Selamat pingsan
sajalah. Dalam kamus yang nyaman, kau sebaiknya
tidur saja.”

LENGGANA: Yang paling malang – atau paling beruntung – adalah
menjadi kata, yang bisa meramalkan takdir sendiri. Siapa yang
kini menyebutmu? Tak ada. Siapa yang kini mengertimu?
Tak ada. Siapa yang kini mengalimatkanmu? Semua
bisa menjawab dengan menyebutmu saja. Semua segan,
semua enggan, semua tidak lagi sudi meyakinkanmu sebagai
kata yang pernah ada.

LENGKARA: Berapa usia sebuah kata? Sebab ucap yang basah kelak
mengering jua; Sebab lidah yang tak bertulang tak pernah
mengingat apa yang dikatakannya; Sebab bibir yang punya
bahasa sendiri tak pernah minta disusun dalam kamus abadi;
maka kuucap saja kata yang terdengar mustahil, kata yang
seperti sesuatu yang tidak mungkin ada. Tapi ada. Tapi ia kata.

LENGKING: Dalam setiap kata, ada nyaring yang sama. Dalam setiap
suara ada makna yang bertahan meski telah lama mengabut gema.
Di dalam kamus, kau temui dia diam, sebisik pun tak bersuara.
Dalam jeritmu, dia mendengar kau meyakinkannya bahwa
dia memang ada. Dia punya makna.

“Lengar” artinya berasa seperti pening; ”lenggana” memiliki definisi segan, enggan, tidak sudi; ”lengkara” bisa diartikan sebagai mustahil, sesuatu yang tidak mungkin ada; dan “lengking” memiliki makna bunyi nyaring dan keras. Dilihat makna masing-masing, di antara kata-kata itu juga terpaut jeda yang jauh. Tapi, sekali lagi, Hasan Aspahani menunjukkan kemampuannya menyusun sebuah ”kisah-percakapan” yang padu tentang kata, bahasa, dan manusia, menggunakan kata-kata tersebut.

Sajak ”Kamus Empat Kata Berhuruf Awal L, 2” mengisahkan betapa makna dan kata tak selalu bergerak-berberengan. Salah satunya bisa mrucut dari yang lain dan oleh karenanya, percakapan bisa menjadi sesuatu yang melelahkan. ”Kelelahan” itulah yang mungkin membuatnya mengucapkan salam perpisahan. Tapi, sebagaimana kita baca dalam bait ketiga dan keempat, pesimisme tentang percakapan itu selalu diikuti dengan semacam ”upaya” untuk tetap meyakini bahwa ”kata yang mungkin saja mustahil” itu tetap memiliki makna.

”Sajak-sajak sepakbola” Hasan Aspahani yang terangkum dalam bagian ketiga Telimpuh bisa dikatakan meruapkan tendensi utama pendayagunaan sepakbola beserta seluruh kosa kata dalam permainan itu sebagai ”jalan masuk” menuju sebuah kontemplasi. Di sana dan di sini, masih kita temukan gaya ucap lincah yang dipadu dialog-dialog cerdas, kadang diselingi satu dua subversi sajak penyair yang lampau.

Kwatrin Gawang Sebenarnya

Dia pun terbaring sendiri di lingkar tengah lapangan,
Sebuah bola bulat telanjang tergolek di sampingnya.
Tak ada lagi gawang sendiri dan gawang lawan,
Hanya dengus nafasnya dan detak jantung bola.

“Inilah saatnya menyatukan cinta, sebulat-bulatnya,”
katanya kepada bola. Dibukanya sepatu dan kaus kaki.
“Inilah saatnya kita memahami vonis hati: adu penalti,”
katanya pada diri sendiri. Lalu erat didekapnya tubuh bola.

Telah dilepaskannya nama dan nomor di punggungnya.
Baru ia sadari, “O, betapa lembut rambut rumput lapangan.”
Dan ketika ia telah meringkuk di rahim bola, maka tahulah ia
: kenapa bapak dulu mengajarinya hakikat sebuah tendangan.

Berapa pertandingan hati ke kaki sudah dikejarnya?
Berapa kartu merah mengusirnya dari lapangan tanya?
Di dalam sunyi bola, rahasia kehidupan membuka terbaca,
Membawanya ke gawang sebenarnya, gol sesungguhnya

Dalam puisi-puisi Hasan Aspahani terkandung sebuah “upaya” untuk meneruskan “optimisme-percakapan” kita sebagai manusia. Dalam sajak-sajaknya, problem ketegangan percakapan selalu diikuti oleh sebuah “upaya” untuk mengatasi masalah itu. Dari pola yang semacam ini, kita tahu: kisah manusia selalu beriring harapan, secercah cahaya tentang kesalingmengertian, dan sebongkah mimpi puitis tentang masa depan yang lebih indah.

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. deni - April 9, 2010

membaca limpahan kata-kata mas Asrori membuat saya ingin bertanya …
bisakah saya menjadi seperti anda dalam mengolah kata-kata?
kalo jawabnnya bisa (dan saya yakin jawabnya pasti begitu🙂 ),
pertanyaan selanjutnya adalah : “caranya bagaimana ?” ….

2. agus setiawan - Juni 3, 2011

Hasan Aspahani memang pandai meminang kata
pun Mochammad Asrori tampak sangat paham kata
Narasinya indah saat dibaca

3. Tilarso - Oktober 22, 2012

saya sedang kehilangan Hasan Aspahani maka saya menulis ini http://keripikkata.blogspot.com/2012/10/curhat-sejuta-puisi.html

4. Membincang Telimpuh Hasan Aspahani | Puitika.ID - Maret 31, 2016

[…] 11 Maret 2010 Mochammad Asrori […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: