jump to navigation

Segenggam Arti Puisi Bagi Penyair Mei 15, 2010

Posted by Mochammad Asrori in budaya, indonesia, puisi.
Tags: , ,
trackback

Apakah arti sebuah puisi bagi penyairnya? Macam-macam tentunya. Penyair adalah orang yang berkesadaran bahwa anugerah dan hikmah kehidupannya bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Dengan bekal kejujuran nurani, penyair selalu menghayati dan memberi kesaksian atas hidup. Tapi tahukah alasan mengapa mereka memilih menjadi penyair dan melalui puisi membangun komunikasi dengan pembacanya?Nah, kali ini saya cuplikkan 8 puisi (dari Dodong Djiwapradja, Susy Aminah Azis, Taufik Ismail, Wing Kardjo, Sapardi Djoko Damono, Ayatrohaedi, Linus Suryadi, dan Subagio Sastrowardojo) yang menyatakan apa puisi itu sebenarnya bagi penyairnya.
PUISI

kun fayakun
saat penciptaan kedua adalah puisi
tertimba dari kehidupan yang kau tangisi

bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari
adalah puisi

udara yang kauhirupi, air yang akuteguki
adalah puisi

kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli
adalah puisi

gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali
adalah puisi

dan setiap tanah yang kaupijak
sawah-sawah yang kaubajak
katakanlah: sajak

puisi adalah manisan
yang terbuat dari butir-butir kepahitan

puisi adalah gedung yang megah
yang terbuat dari butir hati yang gelisah

(Dodong Djiwapradja, Tonggak)

SAJAK I

Seperti anggur ranum di pepohonan
Gemericiknya air pegunungan
Menghlangkan dahaga kerongkongan
Seperti tuanya apel
Merah bergayutnya di dahan
Begitulah sajak bagiku

(Susy Aminah Azis, Tonggak)

DENGAN PUISI, AKU

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya

(Taufik Ismail, Tirani dan Benteng)

SAJAK

jari-jari dalam diri
Bagai akar yang tak pernah berhenti
Menggali bumi, makin dalam di dalam kelam

jari-jari yang menulis kata
Makin keras-makin keras
Bagai pisau tajam
Mengoyak-ngoyak badan

mimpi dalam urat-urat diri
Mengalir berdebur-debur
Bagai ombak, bagai gelombang
Tak tahu pulang

(Wing Kardjo, Tonggak 2)

KEPADA SEBUAH SAJAK

dengan rendah hati kuserahkan engkau kepada dunia
sebab bukan lagi milikku. Tegaklah
bagai seorang lelaki yang lahir dalam zaman
yang riuh rendah
dan memberontak
kulepas kau ke tengah pusaran topan
dari masalah manusia, sebab telah dilahirkan
tanpa ayah dan ibu
dari jemariku yang papa
kaupun menjelma secara gaib wahai nurani alam
aku bukan asal usulmu. Kutolakkan kepada dunia
nama baik serta nasibmu
aku tak lagi berurusan denganmu
sekali kau lahir lewat tangan-tanganku, tegaklah
seperti lelaki yang tanpa ibu-bapa
mempertahankan nasibnya sendiri
terhadap gergaji waktu

(Sapardi Djoko Damono, Tonggak 2)

SAJAK

Sajak seorang penyair
lahir dari kecup bibir
menetes seperti air

Sajaknya adalah api
yang berkelip dalam hati
sajaknya adalah bunga
yang berbunga dalam dada

Sajak seorang penyair
curahan cintanya terhadap tanah air

(Ayatrohaedi, Pabila dan Di Mana)

PENYAIR

Dia serakan hidup antar desa dan kotanya
Selama menyeberangi arus deras sungai ke hilir
Selama jiwa di dalamnya membuka isyarat rahasia
Bahwa penyair berdiri dan bersaksi di pinggir

(Linus Suryadi, Rumah panggung)

SAJAK

Apalah arti sajak ini
Kalau anak semalam batuk-batuk
Bau vicks dan kayu putih
Melekat di kelambu,
Kalau isteri terus mengeluh
Tentang kurang tidur, tentang
Gajiku yang tekor buat
Bayar dokter, bujang dan makan sehari,
Kalau terbayang pantolan
Sudah sebulan sobek dan tak terjahit.
Apakah arti sajak ini
Kalau saban malam aku lama terbangun:
Hidup ini makin mengikat dan mengurung.
Apakah arti sajak ini:
Pikiran anggrek tricolor di rumah atau
Pelarian kecut ke hari akhir?

Ah, sajak ini
Mengingatkan aku pada langit dan mega,
Sajak ini mengingatkan pada kisah dan keabadian.
Sajak ini melupakan aku pada pisau dan tali.
Sajak ini melupakan kepada bunuh diri.

(Subagio Sastrowardojo, Simphoni)

STIFORP Indonesia

Komentar»

1. kemejapuisi - Mei 27, 2010

mantap…saya jd tergerak kembali untuk menuangkan kegemaran pada syair dan puisi kembali..
salam kenal, saya undang saudara mampir ke blog prematur saya ya🙂

2. Sukadi Brotoadmojo - Juli 29, 2010

sebuah pencapaian dari serangkaian kata adalah sekelompok mana yang mengalir dari penggal-peggal bait. puisi itu kata yang bermakna, tidak harus terangkai dalam bait2 indah.
trims

3. Lukisan Minimalis Murah - November 5, 2010

Buat kemejapuisi,,, y bagus itu, krn bermanfaat bgi pengguna internet, saya suka baca syair..
segera mengunjugi blog anda… mau liat2..heee


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: