jump to navigation

Tomas Transtromer Memenangi Nobel Sastra 2011 Oktober 7, 2011

Posted by Mochammad Asrori in berita, dunia, puisi.
Tags: ,
trackback

Penyair terbesar Swedia, Tomas Transtromer, memenangi Nobel Sastra 2011. Transtromer yang sudah 20 tahun diserang stroke sehingga membatasi gerakan dan bicaranya, namun tak membatasi kekuatannya menulis.

Penyair berusia 80 tahun ini diberikan Nobel karena karyanya yang kaya metafora dan gambaran alam dari negerinya, yang dieksplorasi melalui tema kematian, kenyataan, kesepian dan penebusan. Penghargaan untuk Transtromer ini membawah kebanggaan pada negerinya yang hanya dikenal luas karena penulis kriminal Henning Mankel dan band ABBA itu.

Transtromer berhak atas uang 10 juta kron Swedia atau setara US$1,45 juta. Di dalam jumpa pers singkat, Transtromer didampingi istrinya, Monica, yang kadang menjawab langsung pertanyaan padanya. Penyair ini lumpuh pada bagian kanan tubuhnya dan juga kesulitan berbicara.

Istrinya menyatakan sangat terkejut dan tak menyadari ini nyata. Seperti kebanyakan pecinta sastra Swedia dan pensiunan, mereka duduk di depan TV untuk melihat siapa yang mendapatkan penghargaan dan berharap seorang penyair akan mendapatkannya.

Transtromer sendiri masuk nominasi Nobel sejak 1993. Kecintaan lain penyair ini adalah musik. Dia bisa bermain piano dengan tangan kirinya, yang tergambar dalam sejumlah puisinya.

Penyair Swedia ini mengalahkan penyair Suriah Adonism novelis Jepang Haruki Murakami dan penyanyi Amerika Serikat, Bob Dylan.

Terakhir kali Swedia menjadi rumah penghargaan Nobel Sastra pada 1974 ketika Eyvind Johnson dan Harry Martinson, yang menjadi kontroversial karena mereka bagian dari Akademi Nobel.

Transtromer dilahirkan di Stockholm pada 15 April 1931, dari pasangan ibu seorang guru dan ayah seorang jurnalis. Karya tahun 1954-nya, “17 Puisi” disebut sebagai debut sastra terbaik pada dekadenya. Ketika meraih gelar psikologi, dia membagi waktunya antara menulis dan menjadi psikolog.

Penyair yang karyanya telah diterjemahkan ke 60 bahasa ini menurut penyair Amerika, Robert Hass, “Memberi rasa yang pas tentang apa rasanya menjadi orang kebanyakan menjalani hidup di saat kehidupan berjalan sesuai jalurnya.”

Tahun lalu, Nobel sastra diraih warga Peru, Mario Vargas Llosa. Ia menjadi penulis Amerika Selatan pertama yang memenangkan penghargaan itu sejak Gabriel Garcia Marquez mendapatnya pada 1982. Dari Asia, belum ada lagi pemenang sejak Gao Xingjian yang kelahiran China meraih hadiah itu pada 2000.

Mungkinkah akan ada peraih Nobel di bidang sastra yang berasal dari Indonesia dalam mendatang? Mungkin saja. Peluang itu semakin besar setelah panitia Nobel di Swedia merekrut lebih banyak ahli untuk memantau karya para penulis yang menulis dalam bahasa bukan Eropa. Perekrutan itu dilakuan demi memperluas cakupan hadiah tersebut, kata juru bicara panitia Nobel.

Swedish Academy, yang memilih para pemenang di bidang sastra, telah dikritik terlalu Euro-sentris dalam menentukan pilihannya. Dari 10 hadiah terakhir, tujuh pemenang adalah orang Eropa.

Sekretaris Tetap Swedish Academy Peter Englund kepada Associated Press mengatakan bahwapPara ahli itu telah menjadi pengintai mereka di dunia dan membantu mereka untuk tidak melewatkan para penulis penting.  Ia menambahkan, dalam dua tahun terakhir, akademi itu mendorong 10 hingga 15 ahli freelance untuk mengusulkan karya para penulis dalam bahasa yang tidak dikuasai anggota juri.

Englund menambahkan bahwa masalah besar bukan di bagian dunia berbahasa Inggris. “Tidak ada wilayah bahasa yang menerima Hadiah Nobel sastra lebih banyak ketimbang wilayah berbahasa Inggris,” kata Englund. “Bagaimana jika kami melewatkan seorang penulis Amerika atau jika kami melewatkan seorang penulis Inggris? Bukan itu yang membuat saya tidak tidur di malam hari. Tetapi itu lebih pada, apa kompetensi kami ketika misalnya itu berkaitan dengan karya sastra dari Indonesia?” kata Englund.

Kesenjangan yang lebar juga dialami penulis dari Timur Tengah dan sub-Sahara Afrika, yang merupakan tempat tinggal penulis Amos Oz dari Israel dan penyair Suriah Adonis. Kedua orang ini disebut-sebut sebagai bakal peraih Nobel sastra mendatang.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: