jump to navigation

Mencicipi Buli-Buli Lima Kaki Nirwan Dewanto Oktober 25, 2011

Posted by Mochammad Asrori in budaya, indonesia, puisi.
Tags: , ,
trackback

 Puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam Buli-Buli Lima Kaki seperti kolam eksotis yang misterius. Menggoda kita untuk mencelupkan tangan dan kaki ke dalamnya, atau bahkan menceburkan diri ke dalamnya untuk merasakan hangat dan sejuknya. Namun kita harus waspada, karena remang kabut dan aneka makhluk-tak-dikenal yang menyesak di sekelilingnya membuat kira ragu-ragu untuk masuk lebih dalam. Butuh keberanian lebih untuk menyelaminya.

Berikut ini beberapa pilihan puisi Nirwan Dewanto dalam Buli-buli Lima Kaki, silahkan menkmati!

Apel dan Roti
Di balik dua butir apel selalu ada sekeping matahari
Hijau, sehingga pisaumu tentu akan tersipu malu
Menatap merah yang selalu padam itu.
Di antara dua potong roti selalu ada selapis jantung
Kuning, sehingga lidahmu pasti akan berhenti
Sebelum mencapai putih yang menyala itu.
Di antara hijau dan kuning selalu ada ekor rubah
Abu-abu, yang empunya hanya mampu bertahan
Di balik gaunmu, sebelum menerkam sajakku.
Di antara perutmu dan piring yang termangu, lapar
Bisa juga bernama bianglala, yang segera berakhir
Ketika aku menumpahkan sajakku ke mejamu.
Sungguh lapar dan birahi tak akan terlihat oleh mata
Yang tersembunyi dalam sajakku yang terlalu lama
Tersimpan dalam lemari es di sudut dapurmu
Di luas meja yang telanjur basah oleh umpama itu
Terkecoh oleh si matahari dan si jantung, rubahmu
Makan hitam berulam mata. Mataku barangkali.
(2009)
Lazar
Jangan renggut kematian dariku,
Aku tengah berusaha memilikinya.
Tolong tutup lagi pintu mausoleum ini,
Sebab terang di luar sana hanya milikmu.
Pasti kudengar langkah kakimu ke mari.
(Kau belum pernah melayatku, bukan?)
Namun jika aku mampu bangkit bahkan
Dalam kafan yang mulai terasa sejuk ini,
Yeshua, bukanlah aku juru selamatmu.
(2010)
Tulisan pada Nisan
Kuucapkan selamat tinggal kepadanya,
Meski aku tetap terjatuh ke haribaannya.
Kukenakan pakaian panjang putih. Supaya ia
Leluasa menodaiku. Mungkin menghitamkanku.
Masih ada bercak darah kubawa, ternyata.
Ia berkata seseorang menembakku di Gaza.
Ia bertanya kenapa aku bergegas ke mari.
Kujawab tidak. Sudah kulupakan matahari,
Sebab terang bukan milikku dan percayalah
Namaku telanjur terpahat di batu gamping ini.
Ia bumi, bukan? Aku belajar mencintainya
Ketika kalian berebut wajahnya nun di atasku.
(2010)

Setiap tengah malam
Setiap tengah malam, bunyi serunai kereta api pengangkut batubara
Mendesak gendang telinganya. Tengah malam ketika ia merasa mesti
Menginum segelas susu, sebelum menyelamatkan ke dalam mimpinya—
Menyelamatkan, misalnya, warna merah pangkal sayap burunghitam
Atau ceceran darah rakun yang mati terlindas sia-sia di jalan raya –
Sudah tiga musim begini, dan ia tetap saja tak mampu memastikan
Rangkaian gerbong terbuka yang merayap sopan itu melewati depan
Ataukah belakang rumahnya. Dan ia berharap si masinis selalu belia.
(2009)
Kuintet
Namaku piano, dan bebilahku lelah oleh jemarimu.
Namaku klarinet, dan mulutku mencurigai mulutmu.
Aku teramat haus, tapi telingamu hanya menatapku.
Baiklah, di bawah sorot lampu akan kupuja sepatumu.
Di depan kita, mereka yang hanya membawa bola mata
Mengira kita pasangan yang serasi meninggi menari.
Tapi namaku biolin, dan betapa dawaiku sudah beruban.
Dan kau masih hijau, masih menghapal khazanah lagu.
Mereka bertepuk tangan ketika terhunus pisau tiba-tiba
Dari balik lambungku, siap menyadap madu di lehermu.
Ternyata namaku kontrabas, dan aku jirih pada pujian.
Mereka memacuku ke puncak penuh karangan kembang.
Maka namaku masih marimba, dan kuseret kau ke danau.
Di mana si komponis buta rajin mencuci telinga mereka.
(2009)
Jalan ke Vignole
Berjam-jam (tidak, barangkali juga berabad-abad)
Aku dan kaum jemaat itu sabar menunggu di Giudecca
Si tukang perahu yang akan mendamparkan kami
Ke sebuah pulau yang dilahirkan matahari
Pastilah ia akan benar-benar serupa
Dengan si pemberontak yang dihukum mati
Di Golgotha, ketika umurnya baru 33. (Tetapi
Ia bangkit pada hari ketiga.) ”Tak ada
Pendayung ulung serupa itu di sini,”
Kata seorang lelaki berkuda, angkuh
Dan beku dalam baju zirahnya
Berabad-abad, seakan pasukan Turki
Akan selalu menyerbu ke mari. Dan jawabku:
“Colleoni, kamilah para penyerbu terkini
Tapi kami tak membunuh pulau-pulaumu.”
Ya, aku telah membinasakan barisan mobil
Pakaian seragam, jalanan aspal, kitiran besi.
Kepalaku penuh abu, embun dan maut
Ketika aku terbangun di bawah pohon palma
Di dunia yang baru saja ditorehkan Carpaccio:
aku pun bangkit bersama iringan jemaat berjubah
(Yang baru saja menguburkan Santo Jarome)
Merayap di lelurung berbau kemih anjing
Muntah di teras lapang aneka basilika
Dengan tubuh hijau lebam kami rubuh lagi
Di antara meja-kursi di Paizza San Marco
Dan seekor singa bersayap menggeram:
”Pergilah kalian para pemabuk jahanam,
Bertobatlah hanya sebelum tiba malam.”
Maka terdamparlah kami di muara amis itu:
“Persetan dengan si tukang perahu!”
Tapi sebuah perahu besar tiba-tiba
Merenggutkan kami dari kabut muram lena.
Melewati pekuburan yang dilindungi ombak
Kami terhadang hantu Pound dan Stravinsky
Padahal sudah lama kami membenci musik dan puisi
Yang pasti bukan bagian dari penyelamatan kami
Yang cuma hiburan jika kami sampai di neraka nanti.
Musim semi menggosok tangan kami
Yang perlahan terlihat seperti sayap
Tidak, sungguh kami tak ingin terbang,
Kami tak pernah bersekutu dengan Gabriel,
Kami suka mengukur laut dengan jengkalan.
”Pesiarkah, atau pembuangankah ini?”
Tanya dua belas orang di antara kami
Yang tiba-tiba mirip serdadu Roma, seraya
Mengeluarkan palu dan paku dari saku
Kami akan segera sampai di pulau matahari itu
Untuk menghajar berpiring ikan mentah
Dengan baluran minyak zaitun dan cuka
Dengan roti gandum coklat dan anggur merah tua.
Kemudian di anatra rerumpun asparaga
Kami akan memilih perawan paling murni
Untuk berlama-lama mendoakan kami
Agar kami segera menemukan pemberontak itu
Yang kukira menyamar sebagai si tukang perahu.
Padahal ia bekerja sebagai koki di restoran tujuan kami:
Pastilah ia tengah melubangi kedua telapak tangannya
Dan mengucurkan darahnya ke hidangan siang kami.
(1994)

Komentar»

1. keladi tikus - November 21, 2012

buset gan bagus banget link ya keladitikus.com

2. Adityarn - November 8, 2013

puisi gelap yang tegang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: