jump to navigation

Menikmati Seratus Ciuman Hujan Pablo Neruda Januari 12, 2013

Posted by Mochammad Asrori in budaya, dunia, profil, puisi.
Tags: ,
trackback

ciuman hujanLahir di kota Parral, Chili, pada 12 Juli 1904. nama lengkapnya Ricardo Eliecer Naftali Reyes Basoalto. Dalam tahun 1920, dia memakai nama pena Pablo Neruda, terinspirasi dari seorang penyair Ceko, Jan Neruda. Pada 1927, karena putus asa, Neruda menerima jabatan sebagai konsul kehormatan di Rangoon, Burma, seraya kerja serabutan di Kolombo, Srilangka, Batavia dan Singapura. Di Jawa ia menikahi isterinya yang pertama, seorang wanita Belanda pegawai bank, bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang.  Menerima International Peace Prize (1950) dan The Nobel Prize for Literature (1971).

Buku-bukunya yang terbit: Crepusculario (Senja, 1923), Veinte Poemas de amor y una cancion desesperada (1924), sehimpun sajak cintanya yang paling terkenal dan paling banyak diterjemahkan. Kemudian espana en el corazon (Spanyol di kalbuku) paska perang saudara di Spanyol, sebuah situasi yang mengubahnya dari seorang individualis menjadi aktivis dan membuatnya sangat terlibat dalam politik, Alturas de Macchu Picchu (1945), sebuah puisi yang tebalnya satu buku, ditulis dalam 12 bagian. Canto General de Chile (1950), menghimpun 250 sajak Neruda yang dicipta saat masa-masa sulit, menjadi seorang eksil di negeri sendiri. Kemudian Cien Sonetos de amor (1960), buku ini, terbit di Boenos Aires.

Neruda, meninggal di Klinik Santa Maria, Santiago, pada malam 23 September 1973 terpapar Leukimia. Konon, beberapa saat sebelum ia wafat, tentara-tentara Pinochet (Jenderal yang memimpin Kudeta militer pada 11 september 1973), menggeledah rumah Neruda di Isla Negra. Ucapan Neruda kala itu: “Carilah – hanya ada satu benda yang berbahaya untuk kalian di sini – puisi”.

Beberapa pilihan puisi/soneta Pablo Neruda dalam Ciuman Hujan:

XLVIII

Sepasang kekasih yang bahagia membuat sebuah roti,
satu rembulan gugur di rerumputan
Ketika berjalan, mereka melemparkan sepasang bebayang yang mengalir bersama;
ketika bangun, mereka meninggalkan satu surya yang suwung di ranjangnya.

Dari segala kebenaran yang mungkin, mereka memilih hari itu;
mereka menggenggamnya, bukan dengan tali tapi dengan satu aroma.
Mereka tidak merobek kedamaian, tidak pula meremukkan kata-kata
kebahagiaan mereka adalah menara yang tembus pandang

Udara dan anggur menemani sepasang kekasih yang bahagia itu.
Malam memberi kesenangan dengan kelopak-kelopaknya yang riang.
Mereka punya hak atas semua bunga anyelir.

Sepasang kekasih yang bahagia, tanpa suatu akhir, tanpa kematian,
mereka lahir, mereka mati, berkali-kali selagi mereka hidup:
mereka memiliki kekekalan hidup yang alamiah.

XC

Aku pikir aku sedang sekarat, aku rasakan hawa dingin mendekat
dan tahu bahwa dari seluruh hidupku cuma kau yang kutinggalkan:
siang dan malamku yang fana adalah mulutmu,
kulitmu adalah kerajaan yang didirikan oleh ciuman-ciumanku.

Pada saat itu buku-buku berhenti,
juga persahabatan, kekayaan menumpuk dengan gelisah,
rumah transparan yang kau dan aku bangun:
segala sesuatu berguguran, kecuali matamu.

Sebab sementara kehidupan mengusik kita, cinta hanyalah
gelombang yang lebih tinggi ketimbang gelombang-gelombang lainnya:
tapi oh, kala maut datang mengetuk pintu gerbang,

di sana hanya tatapanmu yang melawan begitu banyak kekosongan,
hanya cahayamu yang melawan kepunahan,
hanya cintamu yang mengusir bebayang

XVII

Aku tak mencintaimu seakan kau mawar-bergaram, atau manikam
atau panah bunga-bunga anyelir yang diluncurkan nyala api
Aku mencintaimu bak benda-benda gelap tertentu yang dicintai
dalam rahasia, di antara bebayang dan jiwa.

Aku mencintaimu bagaikan tanaman yang tak pernah berbunga
namun membawa sinar dari bunga-bunga tersembunyi dalam dirinya;
terima kasih pada cintamu atas harumnya yang penuh
yang bangkit dari bumi, mukim dalam gelap di tubuhku

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana
Aku mencintaimu dengan lugas, tanpa banyak soal atau rasa bangga;
begitulah aku mencintaimu sebab aku tak tahu jalan lain

selain itu: di mana aku tak ada, kau juga tak ada
begitu dekat sehingga tanganmu yang di dadaku tak lain tanganku,
begitu dekat sehingga ketika aku tidur seolah matamulah yang terpejam.

XXIX

Engkau datang dari kemiskinan, dari rumah-rumah di Selatan
dari lanskap-lanskap yang dingin dan berlindu
yang menawarkan pada kita – setelah dewa-dewa itu terjungkal
ke dalam kematian – hikmah hidup, yang terbentuk di lempung

Kau adalah kuda kecil dari lempung hitam, sebuah ciuman
dari lumpur gelap, Kekasihku, sekuntum popy lempung,
merpati senja yang terbang sepanjang jejalan,
tabungan airmata dari masa kecil kita yang melarat

Gadis kecilku, jantung kemiskinan telah ada dalam dirimu
kakimu terbiasa mengasah batu-batu
mulutmu tak selalu punya roti, atau gula-gula

Kau datang dari Selatan yang miskin, di mana jiwaku bermula
di ketinggian langit itu ibumu masih mencuci pakaian
dengan ibuku. Karena itulah aku memilihmu, mempelaiku.

XCI

Usia merangkumi kita bagai gerimis
waktu tak berkesudahan dan sedih
bulu garam menyentuh parasmu
tetesannya merusak bajuku

Waktu tak terbedakan di antara tanganku
dan sekerumun jeruk dalam dirimu
dengan salju dan hidup terbaik yang meluruh
dalam hidupmu, yang juga hidupku

Hidupku, yang kuberikan padamu, terisi
dengan tahun-tahun bak sekelompok buah yang mengembang
Anggur-anggur akan kembali ke bumi

Dan bahkan waktu turun di sana
terus-menerus, menunggu, menghujan
ke atas debu, berhasrat menghapuskan bahkan ketakhadiran

XLIV

Kau mesti tahu bahwa aku tak mencintaimu dan bahwa aku mencintaimu
sebab segala sesuatu yang hidup mempunyai dua sisi
sepatah kata adalah satu sayap dari keheningan
api mempunyai separuh dingin

Aku mencintaimu untuk mulai mencintaimu
untuk memulai ketakterbatasan kembali
dan tak pernah berhenti mencintaimu:
sebab itulah mengapa aku tak mencintaimu

Aku mencintaimu dan tak mencintaimu, seolah kugenggam
kunci-kunci di tanganku; untuk masa depan kegembiraan –
nasib malang yang kacau balau —

Cintaku mempunyai dua kehidupan, untuk mencintaimu;
sebab itulah aku mencintaimu ketika aku tak mencintaimu
dan pula mengapa aku mencintaimu ketika aku mencintaimu

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: