jump to navigation

Mengintip Puisi-Puisi Alejandra Pizarnik Februari 12, 2013

Posted by Mochammad Asrori in budaya, dunia, profil, puisi.
Tags: , ,
trackback

alejandra pizarnikAlejandra Pizarnik adalah satu penyair perempuan penting dan berpengaruh di Argentina, pemuka generasi tahun enam puluhan. Ia lahir di Buenos Aires, argentina, 29 April 1936 dari keluarga imigran Eropa Timur. Kuliah sastra dan seni rupa di Universitas of Buenos Aires dan belajar melukis kepada Juan Batlle Planas. Tahun 1960 sd 1964 menetap di Paris, Perancis, bekerja di jurnal “Cuardernos” dan beberapa penerbitan, sembari kuliah sejarah agama dan sastra mutahir Perancis di Sorbonne. Pizarnik sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa dan meninggal dunia pada 25 September 1972 lantaran kelebihan obat.

Buku yang pernah diterbitkannya: Los trabajos y las noches (work dan night), extraccion de la piedra de locura (extraction of the stone of folly), dan el infierno musical (the musical hell) dan kumpulan prosa la condesa sangrienta (the bloody countess). Dia

Mari kita simak beberapa puisinya yang dipetik dari Buku kumpulan puisi Luka Tunggal Sang Pencinta terjemahan Mar Hernandez:

Tempat Tinggal
kepada Theodore Fraenkel

di regang tangan si mati,
di ingatan si gila,
di kesedihan anak kecil,
di tangan yang mencari cawan,
di cawan tak terjangkau,
di kehausan senantiasa.

Lupa

di tepi lain malam
cinta adalah mungkin

— bawalah aku —

bawalah aku di antara lalu lalang hal-ihwal
yang mati setiap saat di ingatanmu

Pencinta

kalut muram hidup ini
lelucon samar hidup ini
menyeretmu Alejandra, jangan kau ingkari.

ini hari kau pandangi diri di cermin
dan pilu  –  kau sendiri
cahaya meraung udara bernyanyi
tapi kekasihmu tak kembali

akan kau kirim pesan lalu tersenyum
berkibaran tanganmu begitulah ia kembali
pencintamu duhai tercinta

kau dengar peluit tergila yang mencurinya
kapal bercambang buih
di mana telah tumpas tawa
kau kenangkan pelukan terakhir
oh, tiada derita

tertawalah di selampai menangislah dengan
gelak
tapi tutuplah pintu wajahmu
agar kemudian tak diucapkan
pencinta itu adalah engkau

siang menghantuimu
malam mendakwamu
menderamu hidup betapa betapa

yang putus asa, hendak ke mana?
yang putus asa, itu saja!

Kesunyian

kesunyian bukanlah ketidakmampuan mengucapkannya
karena tak bisa dilingkari
karena tak bisa dinamai
karena bukanlah sinonim sebuah lanskap
kesunyian adalah melodi patah dari kalimatku

Kepolosan Terakhir

Pergi
jiwa dan raga
pergi

Pergi
terlepas dari tatapan
batu-batu penindas
yang tidur di tenggorokan

Aku harus pergi
tiada lagi inersia di bawah matahari
tiada lagi darah yang beku
tiada lagi berjejer untuk mati

Aku harus pergi
Tapi terjanglah, pengembara!

Keheningan

kematian selalu menguntit
kudengar desirnya
hanya terdengar lenguhku

Di Hari Ulang Tahunmu

terimalah wajah ini yang sungguh milikmu,
bisu, memelas
terimalah cinta ini yang kupinta darimu.
Terimalah apa di diriku yang adalah engkau.

Syair Kecil di Dalam Prosa

matahari telah tertutup, telah tertutup makna matahari,
telah bersinar makna ketertutupannya.

akan hadir sebuah hari di mana puisi diciptakan tanpa
bahasa, hari di mana diundang hasrat-hasrat besar
dan kecil yang tertebar di dalam syair, semerta
terhimpun di dua mata, yang sama begitu
kupuja dalam gelora ketidakhadiran dari halaman
putih.

Pohon Diana

1
Aku melesat dari diri menuju fajar.
Meninggalkan tubuhku bersanding cahaya
dan menyanyikan duka dari apa yang terlahir.

2.
Inilah versi yang diajukan kepada kita:
sebuah lubang, sehampar tembok yang
gemetar…

3.
hanya dahaga
kesunyian
tiada perjumpaan

jagalah diri dariku sayangku
jagalah diri dari perempuan sunyi di gurun
dari kelana dengan gelas kosong
dan bayang dari bayangnya

4.
Kepada Aurora dan Julio Cortazar

Tapi:
Siapa lagi akan benamkan tanganya untuk mencari
upeti bagi si kecil terlupa. Dingin akan menebus
Akan menebus angin. Hujan akan menebus
Akan menebus prahara.

5.
untuk semenit hidup yang singkat
setunggal mata terbuka
semenit untuk menyaksikan
bunga-bunga mungil di otak
menari serupa kata di mulut si bisu

6.
ia telanjangi diri di surga
ingatannya
ia tak tahu takdir keji
pandangannya
ia takut bila tak tahu mengucapkan
yang tak ada

7.
ia menerjang dengan baju beriap api
dari bintang ke bintang
dari bayang ke bayang
tewas oleh kematian berjarak
yang kepada angin mencinta

dst sd 38 bagian

Komentar»

1. ahmadi aja - Mei 14, 2013

Selamat siang mas Mochammad Asrori, Saya Ahmadi dari majalah digital (online) Batam Pos di Batam. Di majalah ini kami ada rubrik puisi-puisi terjemahan penulis asing. Saya melihat banyak puisi terjemahan di Kedai Puisi. Apakah bisa kami terbitkan di majalah online kami dengan menyebutkan nama penerjemahnya? Terima kasih.

Ahmadi

Rori - Mei 27, 2013

Silahkan Mas Ahmadi…

2. lampumerah - Juli 2, 2013

tulisan dan blog ini menarik sekali… pasalnya banyak tokoh preseden yang global dan bermacam muasal… senang sekali menemukan blog hebat ini… salam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: