jump to navigation

Tanggal Lahir Abdoel Moeis Sebagai Hari Sastra Indonesia Mei 1, 2013

Posted by Mochammad Asrori in berita, budaya, indonesia, profil.
Tags: ,
trackback

Abdoel_moeisSetelah Indonesia memiliki Hari Puisi Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 26 Juli, giliran Hari Sastra Indonesia dimaklumatkan untuk diperingati setiap 3 Juli. Maklumat Hari Sastra Indonesia sendiri dilaksanakan di SMA 2 Bukittinggi (dulu Kweekschool) pada tanggal 24 Maret 2013. Jika Hari Puisi Indonesia didasarkan pada tanggal kematian penyair Chairil Anwar, maka dasar penetapan Hari Sastra Indonesia (HIS) setiap 3 Juli berkaitan dengan hari lahir Sastrawan Abdoel Moeis.

HSI digagas oleh sastrawan terkemuka Indonesia, seperti Ati Taufiq Ismail yang bertindak sebagai koordinator, Raudha Thaib, Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Rusli Marzuki Saria dan Taufiq Ismail. Pada awalnya mereka mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Tapi tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai HIS.

Penetapan tanggal tersebut dilakukan Wakil Menteri Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti saat acara Maklumat Hari Sastra Indonesia di gedung SMA 2 Bukittinggi. Dipilihnya SMA 2 Bukittinggi sebagai lokasi penetapan HSI karena merupakan sekolah yang sangat bersejarah, serta tempat bersemainya sastra modern Indonesia.

Taufiq Ismail dalam pidato sambutannya menilai Abdoel Moeis adalah sastrawan yang paling aktif dalam pergerakan nasional di zaman penjajahan Belanda. Beliau juga mengemukakan Abdoel Moeis memiliki banyak karya yang fenomenal seperti novel Salah Asuhan (1928), Pertemuan Jodoh (1933), Surapati (1950) dan sejumlah terjemahan novel sastra dunia.

Abdoel Moeis lahir di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, 3 Juli 1883 dan meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun. Beliau dikenal sebagai sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Penguruh besar Sarekat Islam ini juga pernah menjadi anggota Volksraad (anggota DPR) zaman Belanda. Sebagai penghargaan atas jasa dan perjuangannya bagi bangsa Indonesia, Abdul Muis dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional yang pertama oleh Presiden RI, Soekarno, pada 30 Agustus 1959.

Latar belakang keluarganya, Abdoel Moeis lahir dari kalangan orang terpandang di Minangkabau. Beliau putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, seorang demang yang menentang keras kebijakan Belanda di Agam. Sebagaimana lazimnya anak-anak bangsawan zaman Belanda, Abdoel Moeis pun dimasukkan sekolah dokter STOVIA di Batavia, yang sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun, beliau tidak bisa menyelesaikan pendidikannya di sana, karena sakit.

Gagal menjadi dokter—berkat bantuan Direktur Pendidikan Mr Abendanon—Abdoel Moeis menjalani karir sebagai klerk atau juru tulis di Departemen Onderwijs en Eredienst. Kehadirannya yang tidak disukai karyawan lain, membuatnya hanya 2,5 tahun bekerja di sana.

Dari juru tulis, beliau memasuki dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan di Bandung. Pada tahun 1905, beliau jadi anggota dewan redaksi majalah Bintang Hindia. Kemudian ia sempat menjadi mantri lumbung, dan kembali menjadi wartawan pada surat kabar Belanda Preanger Bode dan majalah Neraca pimpinan Haji Agus Salim.

Beliau memasuki dunia politik dengan bergabung di Sarekat Islam pada tahun 1913, disamping menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda. Setahun kemudian, melalui Komite Bumiputera yang didirikannya bersama Ki Hadjar Dewantara, Abdul Muis menentang rencana pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.

Salah satu jasa Abdoel Moeis terhadap dunia pendidikan di Indonesia, mendorong tokoh-tokoh Belanda mendirikan Institut Teknologi Bandung yang sekarang menjadi kampus terkenal. Dorongan mendirikan Technische Hooge School—Institut Teknologi Bandung (ITB)—di Priangan ini muncul saat beliau dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam pergi ke negeri Belanda untuk mempropagandakan komite Indie Weerbaar tahun 1917. Pada tahun 1918, Abdul Muis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Central Sarekat Islam.

Penjara bukanlah tempat yang asing bagi tokoh-tokoh pergerakan zaman Belanda. Begitu juga dengan Abdoel Moeis. Beliau pernah di penjara setelah berpidato di Toli-Toli, Sulawesi Utara. Bulan Juni 1919, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli, Sulawesi Utara dibunuh. Abdoel Moeis dituduh telah menghasut rakyat untuk menolak kerja rodi, sehingga terjadi pembunuhan tersebut. Atas kejadian itu dia dipersalahkan dan dipenjara. Selain berpidato ia juga berjuang melalui berbagai media cetak. Dalam tulisannya di harian berbahasa Belanda De Express, Abdoel Moeis mengecam seorang Belanda yang sangat menghina bumiputera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: