jump to navigation

Telah Berpulang, Fahrudin Nasrulloh Juni 1, 2013

Posted by Mochammad Asrori in berita, budaya, indonesia, profil.
Tags: ,
trackback

Fahrudin NasrullohFahrudin Nasrulloh, eseis, cerpenis, dan editor buku freelance kelahiran Jombang menghembuskan nafas terakhir di RSUD dr Soetomo Surabaya, Kamis 30 Mei 2013. Sastrawan muda Jombang yang pernah nyantri di Denanyar Jombang dan pesantren Salafiyah Al-Muhsin Nglaren Yogyakarta adalah pegiat komunitas Lembah Pring Jombang dan Tim Pelestarian dan Perlindungan Seni-Budaya Jombang. Fahrudin yang juga seorang sarjana agama jebolan IAIN Sunan Kalijaga ini tak sanggup menahan gempuran sakit akibat gagal ginjal dan infeksi paru

Banyak orang merasa kehilangan atas meninggalnya cerpenis muda ini, tak terkecuali Nasrul Illahi (Cak Nas), budayawan yang juga adik adik kandung Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Bagi Cak Nas, Fahrudin merupakan oase di tengah keringnya dunia sastra di Kota Santri. Bahkan, Fahrudin juga mampu menggugah khasanah sastra di Jombang yang mati suri pada periode tahun 2000-an yang terlihat dari minimya karya sastra dan juga keringnya komunitas pegiat dunia tulis tersebut. Kalau pun ada, lanjut Cak Nas, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Bermula dari kepulangan Fahrudin sekitar tahun 2007 setelah bermukim di Yogyakarta untuk menyelesaikan studinya di UIN Sunan Kalijaga. Sulung dari tiga bersaudara ini mulai menggelorakan dunia satra di Jombang. Tulisan-tulisan ‘nakalnya’ mulai menghiasi sejumlah media lokal dan regional. Bahkan, dalam rubrik sastra di koran terbesar di Jatim, tulisan Fahrudin selalu mejeng tiap hari minggu.

Tidak cukup itu saja. Ia juga kerap mengumpulkan koleganya untuk berdiskusi tentang sastra di Jombang serta mendirikan komunitas-komunitas pegiat sastra. Fahrudin sendiri kemudian mendirikan komunitas Lembah Pring di rumahnya. Gayung pun bersambut. Komunitas serupa mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan. Dengan banyaknya komunitas tersebut, ruh sastra di Jombang yang lama mati perlahan bangkit.

Karena kegigihannya menghidupkan sastra Fahrudin pernah dicap sebagai teroris. Ceritanya, sekitar tahun 2010, komunitas Lembah Pring membedah tiga buku hasil karya seniman Lekra. Masing-masing buku itu ‘Kisah-kisah dari tanah Merah’, kemudian ‘Tanah Merah yang Merah’ dan ‘Gelora Api 26’. Namun di tengah gayengnya acara, sejumlah intel menyatroni diskusi tersebut. Akibatnya, warga sekitar juga ikut panik, dan acara itu nyaris dibubarkan.

Terlepas dari itu semua, Fahrudin memang dikenal sebagai penulis yang produktif meski usianya masih muda. Dari tangannya lahir berbagai tulisan yang menghisasi media massa. Selain itu, almarhum juga menulis sejumlah buku dan kumpulan cerpen. Puisinya termuat dalam antologi Jogja 5,9 Skala Richter (Bentang Budaya, 2006, Yogyakarta). Cerpennya berjudul Nubuat dari Sabrang masuk nominasi dalam antologi cerpen Loktong (kerjasama CWI dan MENPORA, 2007, Jakarta).

Beberapa buku yang telah terbit Syekh Branjang Abang (Pustaka Pesantren, 2007), Geger Kiai (Pustaka Pesantren, 2009). Fahrudin sendiri lahir di Jombang, 16 Agustus 1976. Usai menuntut ilmu di pesantren Denanyar Jombang (1995) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2002). Selamat jalan kawan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: