jump to navigation

Mengulik Puisi Yudhistira AN Massardi Agustus 2, 2013

Posted by Mochammad Asrori in budaya, indonesia, profil.
Tags: ,
trackback

yudhistira an masardiYudhistira Ardi Nugraha Massardi, kelahiran Subang, Jawa barat 28 Februari 1954. Aktif menulis sejak 1970, berupa puisi, cerpen, esai, sandiwara dan lirik lagu. Novelnya, Arjuna Mencari Cinta dinyatakan sebagai fiksi terbaik 1977 oleh Yayasan Buku Utama. Novelnya yang lain, Mencoba Tidak Menyerah (Aku Bukan Komunis) memenangkan hadiah sayembara roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (1977). Sandiwaranya Wot atawa Jembatan (1977) dan Ke (1978) juga memenangkan hadiah sayembara DKJ. Novelnya yang lain: Ding Dong (1978), Obladi Oblada (1978) dan Arjuna Mencari Cinta Part II (1980). Kumcernya: Penjarakan Aku dalam Hatimu (1979), Yudhistira Duda (1981) dan Wawancara dengan Rahwana (1983). Ia juga menulis lirik lagu, sejak 1977, yang dinyanyiakn Franky & Jane yang terekam hingga 7 kaset. Kumpulan sajaknya yang lain Rudi Jalak Gugat (1982).Berikut beberapa puisinya yang dicuplik dari http://www.kepadapuisi.blogspot.com

Sajak Sikat Gigi

Seseorang lupa menggosok giginya sebelum tidur
Di dalam tidurnya ia bermimpi
Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya terbuka
Ketika ia bangun pagi hari
Sikat giginya tinggal sepotong
Sepotong yang hilang itu agaknya
Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali
Dan ia berpendapat bahwa kejadian itu terlalu berlebih-lebihan
(1976)

Biarin

kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

habisnya, terus terang saia, aku nggak percaya sama kamu
Tak usah marah. Aku tahu kamu orangnya sederhana
cuman, karena kamu merasa asing saja makanya kamu selalu bilang seperti itu

kamu bilang aku bajingan. Aku bilang biarin
kamu bilang aku perampok. Aku bilang biarin
soalnya, kalau aku nggak jadi bajingan mau jadi apa coba, lonte?
aku laki-laki. Kalau kamu nggak suka kepadaku sebab itu
aku rampok hati kamu. Tokh nggak ada yang nggak perampok di dunia
ini. lya nggak? Kalau nggak percaya tanya saja sama polisi
habisnya, kalau nggak kubilang begitu mau apa coba
bunuh diri? Itu lebih brengsek daripada membiarkan hidup ini berjalan
seperti kamu sadari sekarang ini
kamu bilang itu melelahkan. Aku bilang biarin
kamu bilang itu menyakitkan
(1974)

Tilpon

Tilpon berdering. Seseorang melompat dan mengangkat tilpon itu.
“Halo?”
— seandainya tilpon itu tidak diangkat
apakah para tentara mengangkat senjata? –
Orang itu melangkah surut. Kemudian mulai yakin
bahwa kabel tilpon, bisa digunting. Oleh siapa saja.
(1976)

Seorang Orang
Seorang murid tak mau bertanya
gurunya mengunyah kembang-gula
Seorang gadis mendesak kawin
pacarnya mengancingkan celana
Seorang kondektur turun dari bis kota
para penumpang menjual karcis
Seorang wartawan membawa pancing
ikan-ikan pada mencibir
Seorang pegawai menolak gaji
kasir melepas kacamatanya
Seorang kawan menodongkan belati
kita semua merasa terancam!
(1978)

Tak Sempat

Pemburu tak sempat menembak
Pencopet tak sempat mencuri
Pelaut tak sempat berlayar
Pelacur tak sempat makmur

(Sungguh genting!)
(1975)

Tak Lari

Ketika radio dimatikan
datanglah sepi yang terkenal itu
Sewaktu kopi dihabiskan
matilah lampu. Dan gelap yang terkenal itu datang juga
Padahal, kalau sepi janda-janda pada lari
kalau gelap, perawan-perawan juga lari, ke rumah kekasihnya
Akibatnya banyak orang bunting
lari tak bisa, tak lari tak bisa.
(1975)

Jam

Selalu pada jam kita menengok
Mencari jarum untuk menjahit
Mengokohkan kancing baju atau merapikan potongan

Dengan jam di tangan, kita merasa perlente
Pergi ke toko dan memilih-milih, menawar dasi

Lantas kita melipat dompet, mencocokkan waktu
Dan tidak pernah merasa yakin
Sebab, waktu begitu mendesak, dan sepatu tak sempat disemir
(1976)

Sketsa

1.      Sekelompok orang berkerumun di ujung gang
Kesibukan terhenti
Seseorang jatuh ke dalam kali
Sebuah becak terguling tiba-tiba

“Ada ambulans!” pekik seseorang dari dalam kali

2.      Sekelompok orang berkerumun di dalam ambulans
Percakapan terhenti
Seseorang telah mati
Sebuah becak menindihnya tiba-tiba

“Ada yang jatuh ke dalam kali!” pekik seseorang dari bawah becak

3.      Sekelompk orang berkerumun di dalam becak
Kesedihan terhenti
Seseorang keluar dari dalam kali
Sebuah becak dikayuhnya tiba-tiba

“Ada yang berak di dalam ambulans!” pekik seseorang di ujung gang
(1974)

Komentar»

1. perkofashion - Januari 13, 2014

puisinya bagus-bagus banget. mantap, keren


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: